
Gita yang melihat Kenzo yang terlihat sudah mulai membuka hatinya untuk Naura pun merasa kebahagiannya hari ini bertambah lengkap.
Ia memandangi Kenzo yang terlihat sedang berbincang dengan Naura sambil terkekeh. Wanita itu memandanginya sambil mengulas senyum.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok liatin Kenzo sampe senyum-senyum gitu?" tanya Zico yang memperhatikan tatapan sang istri.
"Kebahagiaan aku hari ini bertambah, Sayang. Kelihatannya Kenzo udah mulai membuka hatinya untuk Naw-Naw. Aku bahagia lihatnya," jawab Gita tersenyum.
"Mudah-mudahan aja mereka berjodoh ya, Sayang," jawab Zico.
Gita mengangguk, "Amiiin," ucap Gita kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu suami tercintanya.
Seorang MC yang mengisi acara mereka pun memanggil kedua mempelai untuk melakukan pelemparan bunga.
Gita dan Zico pun memegang bunga tersebut dengan posisi memunggungi para tamu yang sudah menantikan momen itu. Para gadis dan pria single pun berkumpul di depan pelaminan, menantikan aba-aba yang akan diberikan oleh MC yang terlihat tampan itu.
Setelah MC memberikan aba-aba, Gita dan Zico pun melemparkan buket bunga itu ke belakang hingga melambung tinggi dan mendarat di tangan Sean.
Ya, Sean lah yang telah mendapatkan bunga itu tanpa usaha keras, karena memang ia yang paling tinggi di antar orang-orang yang sudah berkumpul di depan pelaminan.
Yolla terbelalak melihat sang kekasih mendapatkan buket itu, kemudian mengerucutkan bibirnya karena ia sangat berharap dirinya lah yang akan mendapatkan buket dari sahabatnya itu.
Menyadari raut wajah sang kekasih, Sean pun berlutut di depannya dan mengulurkan tangannya memberikan buket itu padanya.
Yolla lagi-lagi terbelalak melihat perlakuan Sean, wajahnya memerah seperti tomat karena malu pada semua tamu yang sedang memandang ke arahnya.
"Will you marry me, Honey?" ucap Sean mendongakkan kepalanya menatap wanita yang sangat dicintainya.
Semua tamu bersorak agar Yolla menerima buketnya. Setelah Yolla menerima buket itu, Sean pun berdiri, lalu memeluk dan mencium keningnya.
Semua para tamu bertepuk tangan setelah menyaksikan sweet moment tersebut, tak terkecuali Giselle.
Ia sangat bahagia melihat Sean dan Yolla bersama, karena itulah alasan Giselle memutuskan hubungannya dengan Sean dulu.
Saat aula itu sudah mulai sepi, Yolla menghampiri Giselle yang terlihat sedang menggendong putri kecilnya.
"Sel, gue boleh ngobrol berdua nggak sama lo?" ucap Yolla.
"Oh, boleh dong. Sebentar ya gue bilang Mas Bimo dulu," jawab Giselle meminta izin pada suaminya yang sedang berbincang dengan Alex. Ia pun memberikan Nasya pada suaminya.
"Mau ngobrol di mana, La?" tanya Giselle setelah menghampiri Yolla kembali.
"Di sana aja, yuk!" ajak Yolla pada Giselle sambil menunjuk kursi dan meja yang terdapat di dalam aula, yang sengaja di sediakan khusus para lansia dan ibu hamil. Karena tamu sudah banyak yang pergi meninggalkan aula, jadi kursi itu kosong.
Ketika mereka sudah duduk berdua, Yolla terlihat bingung untuk memulai percakapannya dengan Giselle. Giselle yang menyadari hal itu pun memulainya lebih dulu.
"Lo tenang aja, La. Gue nggak apa-apa, gue bahagia banget bisa lihat lo sama dia sekarang. Justru gue yang minta maaf karena dulu udah jadi penghalang dalam hubungan kalian," ucap Giselle tersenyum menatap Yolla.
"Enggak, Sel. Gue sama sekali nggak pernah anggap lo jadi penghalang gue sama dia. Mungkin memang Tuhan punya cara sendiri untuk mempersatukan kami, Sel," terang Yolla sambil memegang tangan Giselle.
"Kalian memang ditakdirkan bersama, La," ucap Giselle tersenyum.
__ADS_1
Yolla pun tersenyum dengan netranya yang mengembun.
"Lo tau, La. Gue minta putus sama dia saat itu, karena gue tau dia masih sayang sama lo, gue tau dia sayang sama gue cuma sebagai sahabat, nggak lebih dari itu, tapi dia nggak pernah sadar sama perasaannya sendiri. Makanya gue mutusin buat mengakhiri semuanya aja, karena gue mau dia menyadari perasaannya sendiri, La," jelas Giselle.
"Kalo boleh tau, kenapa lo anggap dia masih sayang sama gue, Sel?" tanya Yolla penasaran.
"Sekarang gue mau tanya dulu sama lo, tapi lo harus jawab jujur, ya?"
"Iya, gue janji gue bakal jawab jujur," jawab Yolla.
"Sean pasti udah pernah cium bibir lo, 'kan?" tanya Giselle tiba-tiba sampai membuat Yolla terbelalak dan tersedak salivanya sendiri.
"Hayoo, jawab yang jujur, ya! Kan lo udah janji tadi mau jawab jujur. Nggak apa-apa lagi, La. Gue nggak akan cemburu, gue udah nikah sama Mas Bimo, kita udah melakukan lebih dari sekedar ciuman, tuh sampe punya buntut," ujar Giselle terkekeh sambil menunjuk sang putri dengan dagunya.
"Emang kenapa lo tanya kayak gitu, Sel?"
"Ya kalo memang dia udah cium lo, berarti dia memang sayang dan cinta sama lo sebagai seseorang yang benar-benar spesial di hatinya, karena dulu dia nggak pernah melakukan hal seperti itu ke gue, La."
"Hah? lo serius?" kaget Yolla. Ia tak menyangka jika Sean tidak pernah mencium Giselle. Karena Sean sering sekali mencium bibirnya di saat mereka sedang berduaan.
"Serius! Lo tanya aja dia kalo nggak percaya," jawab Giselle.
Belum sempat Yolla bertanya lebih jauh, Sean datang menghampirinya, hingga mereka pun mengakhiri percakapannya.
"Honey, Ayo! Katanya kita mau samperin Zico sama Gita," ajak Sean pada Yolla.
Mendengar panggilan sayang Sean pada Yolla ada sedikit rasa sakit di relung hati Giselle, bagaimana tidak? Sean adalah cinta pertamanya, mereka memang pernah berpacaran dua tahun lamanya, tapi Sean tidak pernah mempunyai panggilan khusus pada Giselle. Namun ia segera menepis rasa sakit itu, ia pun ingin segera pamit untuk pulang karena suami dan anaknya yang sudah menunggu.
"Iya, Sel. Ayo, ikut," ajak Sean pula setelah pinggangnya disikut oleh Yolla. Pasalnya, sejak tadi Sean bersikap seperti tak mengenal Giselle, Yolla tak suka melihat Sean seperti itu, karena ia pernah merasakan diperlakukan seperti itu oleh Sean saat dulu Sean berpacaran dengan Giselle.
"Sebentar, ya. Gue ajak suami gue dulu," jawab Giselle.
"Oh, ya udah. Ayo, gue temenin lo izin sama suami lo, biar di bolehin," ucap Yolla terkekeh sambil menggandeng tangan Giselle.
Giselle dan Yolla pun berjalan bergandengan menghampiri Bimo, suami Giselle.
"Mas, katanya pengantinnya minta kita ikut dinner di lantai sepuluh gedung ini, kamu mau nggak, Mas?" tanya Giselle pada suaminya.
"Kamu nya capek, nggak? Kamu kan nggak boleh kelelahan, Sayang. Nanti kalo kita ikut dinner dulu, terus mau sampe rumah jam berapa?" tutur Bimo lembut. Ia terlihat begitu sangat menyayangi Giselle.
"Lho? memang kalian mau pulang hari ini juga? Kalian nginep lah di hotel sebelah gedung ini, kan Zico udah booking hotelnya buat kita semua, Kalian juga dapat jatah kamar dari Zico. Karena Gita tau banget kalo Giselle nggak boleh terlalu capek, makanya dia sediain kamar buat kalian. Emangnya Gita nggak bilang sama lo, Sel?" tanya Yolla.
"Bilang, sih. Cuma gue nya mau pulang pergi aja, soalnya Mas Bimo besok ada janji ketemu klien penting," tutur Giselle.
"Ya ampun, Sayang. Masalah itu kan aku bisa undur, kamu kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Bimo.
"Aku kemarin mau ngomong sama kamu, Mas. Tapinya kamu udah bilang duluan kalo kamu ada janji sama klien kamu, ya udah aku jadi nggak enak mau bilang sama kamu," ucap Giselle.
"Ya ampun, Sel. Masa sama suami sendiri aja nggak enakan. Lo tuh jadi orang baiknya kebangetan," cetus Yolla sambil memeluk Giselle.
"Tau nih, memang begitu dia, La. Dia tuh istri yang nggak pernah minta macem-macem sama aku. Makanya aku suka heran kalo temen-temen tuh pada ngomongin istrinya yang banyak mau. Kalo Giselle, jangankan minta, kalo ditawarin aja lebih sering nolaknya," sahut Bimo.
__ADS_1
Yolla pun tersenyum menatap Giselle, ia menjadi bertambah mengagumi sosok Giselle, ia memeluknya begitu erat.
"Terus gimana, Mas? Nggak apa-apa kalo kita nginep?" tanya Giselle menatap sang suami.
"Enggak apa-apa lah, Sayang. Lagian kasian nih Nasya, dia kayaknya udah capek banget. Kamu pegang Nasya dulu sebentar, ya. Aku ke mobil dulu ambil stroller nya, biar pas kita dinner, dia tidur di stroller aja dulu," tutur Bimo.
"Sini sama saya aja boleh nggak?" tanya Sean menawarkan menggendong Nasya.
"Oh tentu, ini ... maaf ya, titip sebentar. Kalian duluan aja, nanti saya nyusul ke atas," ucap Bimo sembari menyodorkan sang putri yang sedang terlelap kepada Sean.
Yolla pun mendekati Sean, menatap wajah Nasya yang sedang terlelap. "Anak lo cantik banget sih, Sel. Gemes deh," puji Yolla sambil mengelus pipi Nasya dengan ibu jarinya.
"Nanti juga kalo lo sama Sean udah punya anak pasti jauh lebih cantik, La," cetus Giselle tersenyum.
"Mau yang cantik atau yang ganteng, Sayang?" tanya Yolla menatap Sean.
"Pengennya sih sepaket kayak Zayn sama Zefa. Nanti aku belajar ilmunya dulu ya sama Zico," ucap Sean membuat Yolla dan Giselle terkekeh.
Mereka pun menyusul Zico dan Gita yang telah berkumpul dengan Alex, Nadhira, Kenzo dan Naura. Sedangkan mommy Celine, daddy Austin, Zayn dan Zefa sudah pergi untuk beristirahat ke hotel sebelah gedung itu bersama para suster dan asisten rumah tangga yang turut hadir dalam pesta resepsi pernikahan Zico dan Gita.
"Zi, kenapa pake kumpul dulu begini? Memang lo berdua nggak capek apa?" tanya Alex.
"Tau, nih. Bukannya bikin adik bayi aja sana buat Zayn sama Zefa," cetus Nadhira menimpali.
"Ini maunya Gita, kok. Dia pengen banget ngumpul sama kalian semua. Kangen katanya udah lama nggak ngumpul-ngumpul," jelas Zico.
"Bikin adik bayi mah besok di Maldives, iya nggak, Sayang?" lanjut Zico menggoda Gita.
"Kalian mau ke Maldives?" pekik Nadhira.
"Iya dong!" sahut Zico.
"Tuh, Beib. Mereka aja baru nikah langsung ke Maldives, kamu janji-janji doang sama aku, tapi nggak berangkat-berangkat," oceh Nadhira mengerucutkan bibirnya. Pasalnya, sudah lama ia meminta pada Alex untuk liburan berdua ke sana, tapi Alex selalu tidak ada waktu karena terlalu sibuk untuk mengembangkan cabang perusahaannya di negeri gingseng.
"Kan aku sibuk terus, Sayang. Ini aja kita balik indo karena buat hadirin pesta Zico sama Gita aja, kan. Lusa juga kita udah balik lagi," tutur Alex.
"Kalian udah mau balik ke Korea lagi? Kok cepet banget, sih," tanya Gita.
"Iya, Git. Gue banyak banget kerjaan yang nggak bisa di tinggal lama soalnya," sahut Alex.
"Oh, gitu," jawab Gita.
Nadhira tampak diam dengan dahi yang berkerut.
"Beib, nanti aja kalo kamu udah hamil besar, kita baby moon ya ke sana? Gimana? Mau, 'kan?" rayu Alex.
"What's? Hamil besar? Maksudnya lo lagi hamil lagi, Ra?" tanya Gita.
Nadhira pun menganggukkan kepalanya.
"Ya ampun, lo lagi hamil muda kok berani-beraninya sih naik pesawat? Kasian tau janinnya," omel Gita. Ia jadi merasa bersalah, karena kalau saja Gita tahu Nadhira sedang mengandung, ia tidak akan memaksa Nadhira untuk hadir ke acara pesta resepsi pernikahannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Git. Tenang aja, kata dokter kandungan gue kuat, kok," jawab Nadhira tersenyum menunjukkan barisan gigi putihnya seperti kuda.