First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

"Iya emang Sean kelihatan sayang sama dia. Giselle pun merasa kaya gitu. Tapi kata Giselle, dia ngerasa disayang Sean tuh cuma sayang sebagai sahabat, nggak lebih ... lo tau nggak? Ternyata 2 tahun mereka pacaran, Sean tuh nggak pernah sama sekali cium bibir Giselle, paling cuma sebatas cium kening, itu pun jarang banget," jelas Nadhira panjang kebar.


"Masa, sih? Mungkin Sean maunya nanti kali setelah married," jawab Gita.


"Tapi gue tanya Alex dia udah pernah kissing kok sama pacarnya yang dulu."


"Oooh ... " Gita bingung harus mengatakan apa lagi.


Akhirnya Gita mengalihkan topik pembicaraan lain, mereka pun berbincang tentang segala hal, termasuk tentang bagaimana Gita melahirkan kedua buah hatinya itu. Tentang bagaimana ia membesarkan mereka bersama Kenzo dan Yolla. Sampai satu jam pun berlalu, Nadhira baru teringat kalau dirinya ingin pergi berbelanja untuk kebutuhannya di apartemen. Nadhira dan Alex tinggal di apartemen mewah dekat dengan mansion Zico.


"Oya, Git. Gue balik dulu, ya! Soalnya gue mau sekalian belanja ke supermarket," pamit Nadhira.


"Ya udah, besok-besok gue main ke tempat lo ya kalau lagi weekend," jawab Gita.


"Okay! Beneran, ya? Gue tunggu lho!" ucap Nadhira memicingkan mata.


"Iya-iya!" ucap Gita tersenyum.


"Vier, ayo kita pulang, Sayang!" ajak Nadhira sambil menghampiri sang putra yang sedang asik bermain bersama Zefa.


"Enggak mau, Mami. Aku masih mau main sama Jepa," tolak Vier cemberut.


"Zefa, Sayang. Bukan Jepa," Nadhira menegurnya.


"Tapi dia bilang tadi nama dia Jepa, Mami. Bukan Zefa!"


"Itu karena Zefa belum bisa ngomong 'Z' dan 'F', Sayang," sahut Gita membelai lembut rambut Vier.


Setelah Nadhira mencoba membujuk Vier berkali-kali, Vier tetap tidak mau pulang. Akhirnya Gita pun menawarkan agar Vier untuk ditinggal dulu saja, sementara Nadhira dan Alex pergi berbelanja. Setelahnya baru mereka menjemput Vier kembali. Nadhira pun menuruti apa kata Gita karena memang Vier sampai menangis kencang karena tidak mau pulang.


Setelah selesai berbelanja, Nadhira dan Alex pun kembali ke apartemen Gita untuk menjemput Vier, dan untungnya Vier sudah tertidur bersama Zayn dan Zefa, jadi Alex tinggal memindahkannya saja ke dalam mobil. Tak perlu lagi bersusah payah untuk membujuk Vier seperti tadi.


Saat Gita sedang mencuci gelas dan piring yang tadi digunakan untuk menyuguhi Nadhira dan Alex, Zico memeluk bahunya dari belakang dan juga mencium pipinya.


"Kamu nggak pulang?" tanya Gita masih sambil mencuci piring.


"Aku tidur di sini aja boleh nggak, Sayang?" Zico malah balik bertanya.

__ADS_1


"Enggak bolehlah!" tolak Gita.


"Aku tidur di sofa, kok. Boleh, ya? Please, Sayang?" rengek Zico memelas.


Gita menghentikan cuci piringnya dan menghadap Zico.


"Kalau aku bilang nggak bo ... Eummmph ...," belum selesai Gita bicara, Zico sudah menyam bar bi bir Gita dengan penuh gai rah lalu melepaskannya dengan menarik bi bir bawah Gita.


"Iih kam ... eummmph," Zico melu mat bi bir Gita kembali menghentikan Gita yang ingin mengomel.


Karena kesal, akhirnya Gita menggi git bi bir Zico hingga Zico melepaskannya.


"Auww! Sakit tau, Sayang!" keluh Zico sambil memegang bi birnya yang tadi di gi git Gita, dan ternyata bibirnya sedikit berdarah.


"Tuh, Kan! Bibir aku berdarah lho, Sayang! Lihat, nih!" gerutu Zico sambil memperlihatkan bibirnya yang berdarah.


"Biarin, Rasain! Suru siapa cium-cium aku terus!" cebik Gita sambil menahan senyum.


"Lho? Kamu juga suka kok kalau aku cium, buktinya kamu sering balas," balas Zico.


Gita pun mengulum bibirnya menahan malu. Kemudian ia melanjutkan membilas piring dan gelas yang dicucinya lalu meninggalkan Zico ke ruang keluarga lagi dan duduk di sofa di ruang TV.


Gita tak menggubrisnya, ia malah membuka ponselnya sambil senyum-senyum.


"Kamu kenapa senyum-senyum? Lagi chat sama siapa?" selidik Zico kemudian mengintip ponsel Gita. Sayangnya tidak terlihat oleh Zico.


"Ini lho! Kenzo kirim foto Zefa tadi siang, lucu-lucu banget," jawab Gita masih sambil menatap layar ponselnya senyum-senyum.


"Zefa atau Kenzo yang lucu?" sindir Zico dengan wajah yang badmood.


Gita menghembuskan kasar nafasnya.


"Mulai lagi, deh! Udah cepetan pulang sana!" omel Gita. Sudah tau Zico sedang cemburu, ia malah mengomeli Zico.


"Ya udah aku pulang! Biar kamu puas situ mandangin foto Kenzo sambil senyum-senyum!" cibir Zico sambil menyambar sweaternya kemudian berlalu pergi.


Lagi-lagi Gita menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Oh My God! Sifatnya nggak pernah berubah! Heran!" gerutu Gita kemudian masuk ke kamarnya.


***


Jam 5 pagi Gita sudah terbangun dari tidurnya, ia bergegas bangkit dari tempat tidurnya, kemudian ke dapur mempersiapkan sarapan dan juga bekal anak-anaknya yang akan mulai bersekolah hari ini.


Gita mendaftarkan kedua buah hatinya di sekolah TK yang terletak di dekat apartemennya.


Setelah selesai menyiapkan sarapan dan juga perbekalannya, Gita pun membangunkan dan memandikan Zayn dan Zefa.


Setelah mereka rapih menggunakan seragam sekolahnya dan selesai menyantap sarapannya, mereka bergegas pergi menuju sekolahnya, Gita mengantar mereka menggunakan taksi online. Karena Zico tidak ada sama sekali menghubungi atau mendatanginya untuk sekedar mengantar anak-anaknya pergi ke sekolah.


Ia pun tahu kalau Zico pasti masih marah padanya karena kecemburuannya tadi malam. Tapi ia benar-benar tidak ada waktu untuk membujuk Zico yang sedang marah. Ia lebih memilih untuk fokus pada anak-anak dan juga pekerjaannya.


Untung saja pas jam istirahat, jadi ia bisa keluar sebentar untuk sekedar menjemput putra-putrinya.


Saat sedang merapihkan berkas-berkas yang ada di mejanya, mendadak ponselnya bergetar. Setelah selesai merapihkannya, ia pun segera mengangkat panggilannya yang ternyata dari mommy Celine.


"Hallo, Mom?" sapa Gita.


(Iya, Sayang. Kamu lagi kerja 'kan? Anak-anak gimana?) tanya mommy Celine dari sebrang telpon.


"Anak-anak lagi sekolah, Mom. Mereka kan mulai masuk sekolah hari ini," terang Gita.


(Mereka sekolah di mana? Biar Mommy sama Daddy yang jemput mereka, ya?)


"Biar Gita aja yang jemput ya, Mom. Soalnya ini kan hari pertama mereka sekolah di sini. Mereka pasti berharap Gita yang jemput ... nanti biar Gita antar ke rumah Mommy dan Daddy, ya?" jelas Gita.


(Tapi Mommy sama Daddy ingin sekali menjemput mereka, Sayang. Kalau nggak, kita ketemu di sekolah aja, ya? Gimana?)


"Ya udah, Mom. Nanti Gita share lokasinya ya, Mom."


(Okay, Sayang!)


Setelah Gita mengakhiri panggilannya, ia membuka bilah layar di ponselnya, berharap ada chat dari Zico yang mengatakan bahwa ia akan menjemput anak-anaknya ke sekolah. Karena yang sangat Zefa harapkan adalah di jemput sekolah oleh ayah kandungnya sendiri. Terlebih ini adalah hari pertamanya sekolah di sini. Karena hal itu lah yang sering membuat Zefa menangis saat di Paris dulu. Namun, ternyata tak ada satu pun chat dari Zico. Malah Kenzo yang mengirimkan chat seperti itu. Namun, Gita memilih untuk tidak membuka chat dari Kenzo.


Gita menghembuskan nafas kasar, kemudian mematikan ponselnya setelah mengirim lokasi sekolah anak-anaknya kepada mommy Celine.

__ADS_1


"Gimana kamu bisa dapetin hati Zayn kalau kamu kaya gini, Zi?" gumam Gita dengan netranya yang mengembun.


__ADS_2