
Gita malu hingga membuatnya salah tingkah, ia pun mengalihkan topik pembicaraannya.
“Udah ah, aku mau ke dapur, kamu mau nasi goreng kan? Mau pedas atau enggak?” Tawar Gita.
Zico tersenyum dan menjawab, “Mmmm, aku nggak suka pedas.”
“Okay!” Ia pun segera turun ke lantai bawah di mana dapur berada.
Melihat Gita sudah keluar dari kamarnya, Zico segera menelpon ke lantai bawah.
Zico : (Hallo Bu!)
Bu Wati : (Oh iya den, aden perlu apa? )
Zico : (Gita sedang kebawah Bu, dia mau masak nasi goreng untuk aku, nanti Bu Wati kasih tahu aja ya bahan-bahannya ada di mana, setelah itu Bu Wati tinggal aja, tadi dia bilang malu katanya kalau masak dilihatin.)
Bu Wati : (Oh gitu den, baik den) Bu Wati tersenyum dibalik telpon.
Zico : (Terimakasih ya Bu!)
Bu Wati : (Iya den sama-sama)
Setelah mengakhiri telponnya Zico merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya.
Gita tiba didapur dan bertemu Bu Wati, Bu Wati bertanya pada Gita, berpura-pura tidak tahu maksud Gita pergi ke dapur.
“Lho Non? Kenapa kesini? Non Gita butuh apa?”
“A.. Aku mau masak Bu, Zico katanya lapar, dia mau aku masak nasi goreng.” Jawab Nancy malu-malu.
“Ooh, ya sudah Ibu siapkan bahan-bahannya ya, Non butuh apa saja?” Tanya Bu Wati.
“Hmmm.. bawang merah, bawang putih, telur, sosis atau bakso, sudah itu saja Bu.” Jawab Nancy.
“Ini sudah Ibu siapkan semua bahannya ya Non, tapi sosis sama bakso nya lagi habis Non, ini adanya udang, den Zico suka udang, tambahkan udang saja ya Non.” Tutur Bu Wati.
‘Hah? udang?’ Batin Gita.
“Oh iya Bu, terima kasih ya Bu .” Sahut Nancy.
“Sama-sama, Non perlu dibantu tidak masaknya?”
“Tidak usah, Bu Wati istirahat saja, pasti lelah kan?”
__ADS_1
“Iya Non, ya sudah Bu Wati ke kamar ya Non, mau rebahan dulu.” Pamit Bu Wati.
“Iya Bu.” Gita tersenyum ramah sambil memandang wajah dan sosok Bu Wati yang sudah mulai terlihat rapuh, ia tiba-tiba mengingat Neneknya yang sudah tiada.
“Oya Maaf Bu, Mommy kemana ya? Kok tidak kelihatan?” Tanya Gita memastikan, karena ia malu kalau sedang masak tiba-tiba ada Celine ke dapur.
“Oh, Nyonya sedang ke kantor Tuan Non, tadi Nyonya membuat puding, lalu membawakannya ke kantor agar Tuan bisa mencicipinya.”
“Oh gitu ya, Mommy romantis sekali ya Bu.”
“Iya memang Non, mereka walaupun sudah berumur tetap harmonis karna Nyonya sangat perhatian pada Tuan.”
Gita tersenyum, lalu ia membatin, ‘Kalau saja Ayah masih ada, Ibu juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti Mommy, dulu saja Ibu sering mengantarkan makanan yang dimasaknya ke rumah sakit.’
“Ya sudah Non, Bu Wati ke kamar ya.” Pamit Bu Wati lagi.
“Iya Bu.” Gita tersenyum.
Setelah Bu Wati pergi ke kamarnya, Gita mulai memasak.
Ia mulai mengiris bahan-bahannya, dan ia mulai mencuci udang kupas yang diberikan Bu Wati tadi.
Saat mencucinya Gita sudah mulai merasakan gatal di tangannya, karena memang ia alergi udang, tetapi yang ia tahu, ia hanya alergi pada saat memakannya saja, ia tak tahu kalau hanya dengan bersentuhan sudah membuatnya gatal-gatal seperti ini, karena baru pertama kali ini ia mencuci udang.
Seporsi Nasi goreng pun sudah siap untuk di tata, di atas piring keramik putih beralaskan daun selada, Nasi goreng dituangkan di atasnya, dengan tambahan telur mata sapi di atasnya, dan irisan tomat dan timun disisinya.
Walaupun tubuhnya sudah mulai merasa tidak nyaman karna alerginya, tapi ia merasa senang karna sudah berhasil membuatkan nasi goreng spesial buatannya untuk Zico.
Ia berjalan ke kamar Zico melalui lift, saat akan masuk ke kamar Zico ia berhenti sejenak, “Hmmmmph… Semoga Zico suka.”
Tok tok tok..
Gita mengetuk pintu kamar Zico tapi tak ada sahutan, lalu Gita memanggilnya, “Zico! Ini Nasi gorengnya sudah siap.” Masih tak ada sahutan, akhirnya ia pun membuka pintunya perlahan.
Ternyata Zico sudah tertidur.
“Kelamaan kali ya aku masaknya.” Gumam Gita.
Ia meletakkan Nasi gorengnya di atas nakas, ia juga menyiapkan air putihnya.
__ADS_1
Ia berniat meninggalkan Zico saja, karna tangannya sudah mulai merah-merah, ia takut kalau membangunkan Zico, nanti Zico malah mengkhawatirkannya kalau melihat keadaannya seperti itu.
Sebelum keluar kamar ia memandangi wajah Zico yang tertidur, ‘gimana mungkin aku enggak suka sama kamu kalau kamu setampan ini.’ Batin Gita sembari membelai sedikit rambut Zico.
Takut Zico terbangun, ia pun segera keluar dari kamar Zico, ia memilih untuk menunggu Sean diruang tamu saja.
Baru 5 menit Gita duduk di sofa ruang tamu, Sean datang.
“Lho Gita? Kok lo disini? Zico nya mana?” Tanya Sean.
Gita pun menceritakan kejadian tadi siang pada Sean.
Setelah mendengar ceritanya Sean pun khawatir pada keadaan Zico, ia hendak naik ke kamar Zico dulu untuk melihat keadaannya.
“Gue ke kamar Zico dulu ya Git, gue mau lihat keadaan dia.” Pamit Sean cemas.
Gita segera mencegahnya, “Tunggu Sen, Zico nya udah tidur, biarin aja dia istirahat ya, dia pasti cape banget.” Sejujurnya ia khawatir kalau Zico terbangun Zico akan mengetahui kondisinya.
“Oke deh! Oya, muka sama tangan lo kenapa Git? Kok merah-merah gitu? Lo sakit?” Sean refleks menyentuh dahi Gita, Gita pun refleks menghindari sentuhan Sean.
“Maaf Git, gue refleks.” Sean segera menyadari kesalahannya.
“Iya nggak apa-apa, ini gue cuma alergi kok, gue alergi udang, tadi gue masakin Zico nasi goreng pakai udang, baru kali ini gue bersentuhan langsung dengan udang saat mencucinya tadi, gue kira nggak ngaruh kalau cuma bersentuhan aja, eh taunya alerginya malah kumat gini.” Terang Gita.
“Oh ya udah ayo gue antar pulang, pasti Zico nyuru gue kesini buat antar lo pulang, soalnya kan rumah kita searah.” Ajak Sean.
“Iya tadi sore gue mau langsung pulang, tapi Zico minta gue tetep disini suru tunggu lo.” Terang Gita.
“Ya udah ayo kita pulang, ngomong-ngomong itu alergi lo gimana? Apa kita ke rumah sakit dulu aja nih?” Ajak Sean.
“Enggak usah Sean, nanti kita mampir di apotek sebentar aja ya, boleh nggak? Soalnya gue udah lama nggak pernah alergi lagi, jadi gue gak punya stock obatnya dirumah.”
“Beneran lo bisa sembuh pake obat itu doank? Gak perlu ke rumah sakit nih?” Tanya Sean cemas.
“iya beneran Sean.” Sahut Gita.
Mereka berdua bergegas pulang dan mampir ke apotek terdekat dari rumah Zico, karena Sean khawatir melihat keadaan Gita yang wajahnya semakin memerah, ia pun menahan Gita di dalam mobil dan bergegas membeli obatnya di apotek dan juga membeli air mineral di mini market sebelah apotek itu agar Gita bisa segera meminum obatnya.
Saat masuk ke dalam mobil Sean segera memberikan obat dan air mineral itu pada Gita.
__ADS_1
“Ini cepetan diminum, itu muka lo udah parah banget Git!”