First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Zayn Sakit


__ADS_3

"Lho? Kenzo?" ucap Gita sambil menghampiri Kenzo yang bersandar di mobilnya.


"Git! Aku tadi malam ke apartemen kamu, tapi kok nggak ada yang buka pintu? Kamu sama anak-anak ada di mana?" tanya Kenzo.


"Aku ... aku sama anak-anak di rumah Zico, Ken," jawab Gita menunduk. Ia merasa tidak enak pada Kenzo.


"Oh!" sahut Kenzo singkat.


"Kamu kangen sama Zefa, ya?" tanya Gita.


Kenzo hanya mengangguk, padahal sebenarnya bukan hanya Zefa yang dirindukannya, tapi Gita juga.


"Besok, ya? Besok kan weekend, nanti kamu bisa jemput Zefa di apartemen aku kalau kamu mau ajak jalan Zefa," tawar Gita, ia merasa tidak enak jika menjauhkan anaknya terutama Zefa dari Kenzo, karena ia sangatlah berhutang budi pada Kenzo. Ia tidak tahu akan seperti apa ia jika selama di luar tidak ada Kenzo di sisinya.


"Okay! Ya udah ayo aku antar pulang," ajak Kenzo sambil membukakan pintu mobilnya untuk Gita.


"Maaf, Ken. Tapi aku udah di jemput Zico, dia udah nunggu aku di halte bus dari tadi," tutur Gita menolak secara halus.


"Kenapa harus di halte? Kenapa nggak di sini jemputnya?" tanya Kenzo mengernyitkan dahinya.


"Aku yang minta, Ken. Aku nggak mau aja orang-orang anggap aku bisa masuk perusahaan ini karena Zico," tutur Gita.


"Oh ya udah, nanti kalo udah pulang, aku video call kamu ya, aku mau ngobrol sama Zefa," pinta Kenzo.


Gita menjawabnya senyum disertai anggukkan.


Kenzo pun bergegas pulang, walau hatinya terasa sakit karena Gita yang benar-benar sudah membuka hatinya lagi untuk Zico, tapi Kenzo tidak bisa jauh begitu saja dari Zefa. Ia benar-benar sangat menyayangi Zefa seperti putri kandungnya sendiri.


Lagi pula, Kenzo sudah bisa menebaknya sejak dulu jika Gita bertemu dengan Zico pasto mereka berdua akan kembali bersatu.


Gita melanjutkan langkah kakinya menuju halte yang ada di depan Biantara Group. Saat Gita tiba di halte, ia mengirim pesan pada Zico.


Gita : Aku udah di halte!


Zico : Okay, Sayang! Tunggu aku ya!


Zico segera mengendarai mobilnya ke halte, karena tadi ia menunggu di depan minimarket yang tak jauh dari perusahaan itu.


Saat Zico tiba di halte Gita bergegas masuk ke dalam mobil Zico sebelum Zico turun dan membukakan pintu untuknya, ia tidak mau kalau sampai ada salah satu staff perusahaan itu yang memergokinya pulang dengan Zico.


"Baru juga aku mau turun bukain pintu buat kamu, eh udah naik aja," ucap Zico sambil memandang Gita.


"Kenapa? Nggak suka? Aku turun aja kalau gitu!" jawab Gita sambil menarik tuas untuk membuka pintu mobil.


"Jangan dong, Sayang," seru Zico sambil menarik pergelangan tangan Gita.


Kemudian Zico meraih seatbelt hendak  memakaikannya pada Gita, namun karena Gita yang bersikukuh ingin turun, ia malah tak sengaja mencium pipi Zico.


Deg... Deg... Deg...


Mereka terdiam beberapa detik dengan jantung yang sama-sama berdebar hebat, mengingatkan akan first kiss mereka dulu. Adegan yang hampir sama persis, hanya saja dulu di bibir, sedangkan saat ini hanya di pipi.


Zico yang sudah menahan gairahnya sejak kemarin, akhirnya merasa terpancing.

__ADS_1


Ia pegang dagu Gita lalu melu mat bibir Gita dengan lembut, Gita pun terbelalak dibuatnya, namun beberapa detik kemudian ia terbuai akan sentuhan bibir Zico yang terus melu mat bibirnya, hingga Gita membalasnya. Namun baru beberapa detik bibir mereka saling bertaut, mereka dikejutkan oleh suara klakson bus yang hendak berhenti di depan halte bus. Mereka pun terbelalak dan melepaskan ciuman mereka sambil terkekeh pelan.


Zico segera melajukan mobilnya, ia raih tangan Gita dengan tangan kirinya, menautkan jemari mereka lalu ia menciumi punggung tangan Gita sambil menyetir dengan tangan kanannya yang memegang setir kemudi.


Gita yang tadinya kesal pada Zico akhirnya pun luluh.


"Zi, udah dong lepasin. Bahaya tau, kamu kan lagi nyetir," tutur Gita.


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku kan nyetirnya pelan banget ini."


"Terus kalau kamu nyetirnya kaya siput gini, kapan kita nyampenya? Kasian anak-anak pasti nunggu aku, Zi."


"Kamu tidur di rumah lagi 'kan?"


"Iya lah, daddy pasti nggak akan ngizinin aku bawa pulang mereka malam-malam gini," tutur Gita mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah, bagus!" seru Zico tersenyum membuat Gita berdecak melihatnya.


"Tapi, besok kan weekend, Zi. Jadi besok pagi-pagi aku sama anak-anak mau pulang ke apartemen," tutur Gita lagi.


"Memang sekarang kamu tinggal di apartemen mana?"


"Apartemen Ibu lah!"


"Lho? Bukannya itu udah di jual?" kaget Zico, karena yang ia tahu apartemen Gita itu sudah di jual.


Gita hanya mengulum bibirnya menahan tawa.


"Kamu beli lagi apartemennya?" tanya Zico lagi.


"Dulu waktu aku kejar kamu, aku cari kamu ke apartemen nggak ada, terus security-nya bilang kalau kam ...," Zico menghentikan kalimatnya dan menatap tajam ke arah Gita.


"Kamu? Kamu yang suru security itu bohongin aku?"


Gita mengulum bibirnya lagi menahan tawa.


Melihat Gita yang seperti itu membuat Zico gemas pada Gita dan menyesap punggung tangannya yang sedari tadi terus digenggamnya sampai meninggalkan bekas kemerahan.


"Iishh, kamu!" Gita menarik tangannya.


"Tuh kan jadi merah gini! Iih kamu!" Gita mengomel sambil memukul-mukul lengan Zico.


Zico pun tertawa dibuatnya, tawa yang sudah lama tak terukir di wajahnya akhirnya pun terukir kembali berkat kehadiran Gita.


Sepanjang perjalanan mereka dipenuhi tawa Zico dan Gita hingga tiba di mansion Zico.


Baru saja Gita dan Zico turun dari mobil, terdengar suara teriakan Zefa.


"Daddy!!!" teriak Zefa sambil berlari ke arah Zico yang kemudian di sambut oleh Zico dengan pelukan dan ia pun menggendong sang putri.


"Princess Daddy kok belum bobo sih?" tanya Zico setelah mencium pipi chubby-nya.


"Jepa mau dibacain dongeng lagi cama Daddy," tutur Zefa manja.

__ADS_1


"Okay! Tapi nanti ya setelah Daddy mandi."


"Okay, Daddy!"


Gita tersenyum melihat Zico dan Zefa, namun ia teringat pada Zayn.


"Mom, Zayn mana?" tanya Gita pada mommy Celine setelah mencium tangannya.


"Dia di kamarnya, dari pagi dia terlihat murung, Mommy nggak tau kenapa, Mommy sama Daddy udah coba tanya, tapi dia nggak mau jawab," tutur mommy Celine yang terlihat khawatir.


"Ya udah biar Gita aja yang tanya, Gita ke atas dulu ya, Mom ... Zefa, Zefa sama Daddy sama Genma dulu ya, Mommy mau samperin Kak Zayn dulu," pamit Gita pada mommy Celine dan Zefa.


"Okay, Mommy!"


Gita pun beranjak pergi menuju kamar yang ditempatinya dan juga anak-anak.


Saat tiba di kamar ia melihat Zayn sudah tertidur di atas ranjangnya. Gita mencium kening sang putra dengan lembut, namun ternyata saat bibirnya menyentuh kening Zayn, suhu tubuhnya terasa panas sekali.


"Ya ampun, panas banget!" Gita pun panik, ia segera mengeluarkan thermometer dan juga stetoskop dari dalam tas kerjanya. Dua alat itu adalah milik Gita ketika dirinya menjalani KOAS dulu, namun ia selalu membawa dua alat itu ke mana pun ia pergi, berjaga-jaga jika ia sedang di jalan dan ada seseorang yang membutuhkan bantuan tenaga medis.


Setelah ia memeriksa kondisinya, ia pun bergegas turun ke bawah menghampiri Zico, Zefa, mommy Celine dan juga daddy Austin yang sedang berada di ruang tamu.


"Mom, tolong temani Zayn ya Mom di kamarnya, Zayn badannya panas banget, aku mau beli obat ke apotek," tutur Gita dengan wajah paniknya.


Ia benar-benar merasa panik karena selama ini Zayn jarang sekali sakit, bahkan flu dan batuk pun bisa di hitung jari, hanya Zefa yang sering terserang flu dan batuk.


Zico pun tak kalah panik, "Ya udah, Sayang. Ayo kita ke apotek," ajak Zico sambil menggenggam tangan Gita.


"Daddy, Jepa ikut!" rengek Zefa manja.


"Ya udah, Ayo Sayang!" Zico menuruti permintaan sang putri lalu menggendongnya sambil tangan satunya menggenggam tangan Gita berjalan menuju mobil.


Untung saja masih jam 8 malam, apotek yang berada di depan kompleks mansion Zico masih buka, jadi mereka tidak membutuhkan waktu lama mendapatkan obat untuk Zayn.


Setelah tiba di mansion Gita pun berlari ke kamar untuk segera memberikan obat kepada Zayn.


"Zayn tadi nggak ada kejang kan, Mom?" tanya Gita kepada mommy Celine.


"Enggak kok. Dia cuma kelihatan menggigil aja," jawab mommy Celine.


Gita pun segera memasang kompres yang ditempelkan di dahinya, dan juga memasukkan obat pereda demam yang dimasukkan melalui *****, karena suhu badannya yang sudah mencapai 40°.


Gita begitu telaten merawat Zayn, ia sampai tertidur di samping Zayn sambil memeluknya karena kelelahan.


Zico pun membacakan dongeng untuk Zefa sampai Zefa tertidur pulas.


Melihat pemandangan saat ini membuat hati Zico terasa hangat dan damai.


Pemandangan yang sangat ia impikan sejak berpacaran dengan Gita dulu hampir semuanya sudah ia rasakan, hanya satu yang kurang, yaitu sebuah ikatan pernikahan.


Melihat Gita tertidur tanpa selimut, ia pun memakaikan selimut pada Gita.


Namun, saat ia sedang memakaikan selimutnya, ponsel Gita yang diletakkan di atas nakas bergetar menandakan ada pesan masuk, tak sengaja Zico melihat isi pesan dari layar ponsel Gita yang menyala.

__ADS_1


Kenzo : Git, Kok nggak diangkat VC nya? Oya, besok aku ke apartemen kamu jam 10 pagi, ya!


__ADS_2