First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Rasa Rindu


__ADS_3

"Yolla galau sama perasaannya ke Sean... Kamu tau gak sayang? Ternyata Sean udah nembak Yolla sebelum Yolla berangkat ke Paris." Tutur Gita.


"Hah? serius?" kaget Zico.


"Iya.. tadi tuh Yolla curhat sama aku, dia katanya bingung sama perasaannya sendiri, dia udah nolak Sean, tapi sekarang dia malah merasa kehilangan Sean." Tutur Gita menghela nafas berat, begitupun dengan Zico.


"Pantes aja Sean berubah seperti itu ya." Ucap Zico.


Ia sangat heran melihat perubahan sikap Sean selama tiga bulan terakhir ini, Zico merasa Sean yang tadinya selalu ceria malah jadi hampir mirip dengan dirinya dulu sebelum mengenal Gita, selama ini ia penasaran apa yang menyebabkan Sean seperti itu, ia sudah menanyakannya berulang kali, begitupun juga dengan Alex dan Kenzo yang juga menyadari perubahan Sean, mereka pun sering menanyakannya, tapi Sean hanya diam saja, selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan.


"Iya... Aku bingung harus gimana Zi, aku yakin banget kalo Yolla tuh sebenernya juga suka sama Sean, dia cuma gak bisa sadar aja sama perasaannya sendiri."


"Ya udah nanti aku coba ngomong sama Sean ya." Ucap Zico sembari membelai pipi Gita.


Cup


Tiba-tiba saja Zico mengecup bibir Gita sekilas.


Ketika ingin menjauhkan tubuhnya dari Gita, Gita menarik kerah baju Zico dan ******* bibirnya dengan lembut.


Zico tentu saja segera membalasnya, ia meletakkan telapak tangannya di leher Gita, ia benar-benar sudah merindukan bibir mungil Gita itu, mereka berdua benar-benar begitu merindukannya, mereka tenggelam dalam kerinduan, yang tadinya ciuman itu penuh kelembutan, semakin lama berubah menjadi semakin bergairah.


Karena memang semenjak kematian Sophia, Entah mengapa Zico tidak pernah berani lagi mencium bibir Gita, mungkin ia mengingat pesan Sophia  sebelum Sophia mengalami koma, saat ia selalu menemani Sophia di rumah sakit selagi Gita bekerja part time.


Flashback On


"Nak Zico... " Panggil Sophia.


"Iya bu? Kenapa bu? ibu butuh sesuatu?" Tanya Zico beruntun.


Sophia tersenyum mendengar pertanyaan Zico.


"Bukan Nak, Ibu tidak ingin apapun kok... Ibu cuma mau... titip Gita... kalau suatu saat nanti sesuatu terjadi pada Ibu, Gita tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, hanya Nak Zico dan Yolla yang Gita miliki, tolong jaga putri kesayangan Ibu ya?" Pinta Sophia dengan netra nya yang mengembun.


"Bu, Ibu jangan bicara seperti itu, ibu harus semangat untuk sembuh, Ibu sayang kan sama Gita?" Tanya Zico lembut.


"Tentu saja Ibu sayang Nak, tapi Ibu tidak bisa menjanjikan apapun, apalagi kesembuhan Ibu, karena yang menentukan takdir kita hanyalah sang pencipta." Imbuh Sophia.


"Baik Bu, Zico janji Zico akan selalu menjaga Gita Bu." Tutur Zico.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih ya Nak Zico." Ucap Sophia.


Flashback Off 


Mengingat pesan Sophia, Zico pun segera melepaskan pangutannya, ia tidak ingin kebablasan karena hasratnya yang terpendam selama beberapa bulan terakhir ini.


Ia sudah berjanji pada Sophia untuk menjaga Gita, jadi Ia tidak ingin merusaknya.


Kemudian Zico mengendarai mobilnya ke sebuah Mall dekat kampusnya, yang tadinya hanya ingin makan saja, mereka pergi menonton juga di bioskop, mereka benar-benar menikmati kencannya hari ini, karena semenjak Ibunya sakit, Gita tidak pernah ada waktu untuk pergi kencan seperti ini, saat masuk kuliah pun Gita selalu fokus dengan kelas-kelasnya, mereka hanya bertemu sebentar di kantin atau taman di sela-sela waktu kelas mereka.


Mereka sudah tiba di depan Asrama Gita.


"Sayang... besok pagi aku jemput kamu ya." Ucap Zico menggenggam tangannya, besok adalah hari sabtu, dan mereka sedang tidak ada kelas besok.


"Hah? Memang mau kemana?" Jawab Gita.


"Mommy sama Daddy minta aku ajak kamu main ke rumah sayang... kamu mau kan?" Tanya Zico lagi, Daddynya memang menanyakan kabar Gita tadi pagi kepada Zico, karena memang sejak Austin mengetahui kalau Gita adalah anak David, Gita belum pernah sekalipun mengunjungi rumah Zico lagi, ia hanya berkunjung ke rumah Zico beberapa kali untuk merawat Zico yang kecelakaan saat itu.


"Okay sayang, aku mau... Tapi jangan pagi-pagi ya, soalnya aku mau beres-beres kamar dulu, terus aku juga mau ke laundry nganterin baju-baju kotor aku." Tutur Gita.


"Ya udah kamu mau aku jemput jam berapa sayang?" Tanya Zico lagi.


"Okay sayang!" Sahut Zico lalu mencium kening Gita dan membelai rambutnya.


"Oya! aku udah lama banget gak bersihin apartemen, hari minggu kamu mau gak temenin aku ke apartemen? Aku mau bersih-bersih, pasti udah berdebu banget deh." Keluh Gita.


"Okay sayang, nanti aku temenin kamu ya." Ucap Zico membelai pipi Gita.


"Okay, aku masuk ya sayang." Pamit Gita yang juga membelai pipi Zico dengan ibu jarinya.


Zico tersenyum menganggukkan kepalanya dan mengecup kening Gita lagi.


***


Keesokan harinya Zico menjemput Gita jam 11 siang di gerbang asrama, ia mengirim pesan pada Gita.


{Sayang, aku udah digerbang ya. }


Setelah lima menit Gita baru membaca pesan dari Zico.

__ADS_1


{Maaf ya sayang aku baru selesai mandi, tunggu sebentar ya }


{Iya sayangku } balas Zico.


Zico selalu merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada Gita, rasa sayang dan cinta yang dimilikinya semakin bertambah setiap harinya, tidak pernah berkurang seujung kuku pun.


Pipi Gita pun merona membaca pesan terakhir dari Zico, ia pun merasakan hal yang sama pada Zico, selalu jatuh cinta lagi dan lagi, apalagi sejak mereka kuliah, penampilan Zico yang terlihat dewasa membuat Gita semakin mabuk kepayang dibuatnya.


Setelah lima belas menit Gita sudah tiba di gerbang asrama, ia pun menghampiri mobil Zico yang terparkir disana.


Zico hanya menunggu Gita didalam mobilnya tanpa membukakan pintu mobilnya untuk Gita sesuai dengan permintaan Gita.


Ya, memang Gita yang memintanya, karena ia tahu kalau kekasihnya ini terlalu tampan, bahkan dengan hanya melihat sosoknya dari belakang saja sudah membuat para gadis jatuh hati dan kelepek-kelepek.


Jujur saja, ia selalu merasa kesal setiap kekasihnya itu dipandangi gadis-gadis lain, tatapan para gadis yang memandangi Zico, sukses membuatnya terbakar api cemburu.


Tapi ia tidak pernah mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Zico, ia hanya bilang pada Zico kalau ia malu diperlakukan terlalu istimewa oleh Zico.


***


Setelah 50 menit perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di Mansion keluarga William.


Kedatangan mereka sudah sangat dinantikan oleh Celine dan Austin.


Mereka sangat merindukan Gita yang sudah mereka anggap seperti layaknya seorang putri bagi mereka, mereka benar-benar sangat menyayangi Gita.


Bahkan sejak Sophia tiada, Austin membuatkan rekening untuk Gita, awalnya ia mengisi rekening itu 100 juta untuk satu bulan, tetapi saat dibulan kedua Gita menerima nominal yang sama, Gita menelpon Austin, ia menolak halus pemberian Austin karena nominal tersebut terlalu besar baginya, ia bilang pada Austin bahwa 10 juta saja sudah lebih dari cukup bagi Gita, akhirnya Austin pun mengiyakan perkataan Gita.


Karena biaya asrama Gita sudah dibiayai juga setiap bulannya oleh Austin, oleh karena itu Gita menolak pemberian Austin yang terlalu besar.


Sedangkan untuk biaya kuliah, Gita maupun Austin tidak mengeluarkan biaya sedikitpun, karena Gita mendapatkan beasiswa sampai lulus selama nilai-nilai Gita selalu stabil.


Austin dan Celine segera menghampiri Gita yang baru saja turun dari mobil Zico.


"Gita, sayang...." Celine seketika memeluk Gita dengan erat.


"Mommy apa kabar?" Jawab Gita yang juga membalas pelukannya.


"Baik sayang, kamu sendiri gimana?" Tanya balik Celine.

__ADS_1


__ADS_2