First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Pencuri?


__ADS_3

***


Di dalam kelas Gita terus saja menangis, yang dilihatnya barusan benar-benar menyesakkan baginya, selama ini yang ia tahu Zico selalu bersikap dingin kepada setiap wanita kecuali padanya dan juga mami Celine, tapi yang dilihatnya barusan, Zico terlihat sangat menyambut wanita itu.


Bahkan Zico terlihat membelai rambut wanita itu.


Hati Gita benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat.


'Pantas aja aku ngambek dari semalam tapi kamu malah balas cuekin aku! Tega kamu bermesraan depan aku kaya gitu, Zi. Okay! Nanti malam aku akan keluar dari rumah kamu, aku nggak akan pulang ke rumah kamu lagi!'  kesal Gita dalam batinnya sambil menangis.


Melihat Gita yang sedang terisak sendirian di kursinya, Chika yang merupakan teman sekelas Gita menghampirinya.


"Gita! Lo kenapa? Kok nangis?" tanya Chika.


Ditanya seperti itu oleh Chika Gita pun merasa malu dan menyeka air matanya.


"Nggak apa-apa, kok!" Gita mengukir senyum palsu.


"Beneran lo nggak kenapa-kenapa?" tanya Chika lagi.


Gita hanya mengangguk.


"Oya! Tadi gue lihat Zico lho di parkiran, dia lagi ngobrol gitu sama cewek, cantik banget lho, itu siapa sih? Teman Zico ya?" Chika yang polos memang tidak bisa membaca situasi, jelas-jelas tadi Gita habis menangis, tapi ia malah bertanya perihal wanita cantik itu.


"Nggak tau!!!" Gita yang sedang kesal pun menjawab ketus pada Chika.


'Gita kok tumben jutek banget ya? Apa aku salah tanya sama dia?' batin Chika sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Saat kelasnya sudah selesai, Gita mencari teman-temannya Giselle dam Nadhira, tapi tak ada satupun dari mereka yang bersedia mendengarkan keluh kesahnya dengan alasan masih ada satu kelas lagi, untuk menghilangkan rasa kesalnya, Gita pun menelpon Yolla.


(Hallo, Git!) jawab Yolla dari sebrang telpon.


Bip...


Gita matikan lagi panggilannya,

__ADS_1


'Gue lupa! Yolla kan dulu pernah bilang, kalau Zico sampai berubah dan sakitin gue, dia pasti akan langsung terbang kembali ke sini,'  gumam Gita dalam batinnya. Ia takut kalau ia cerita tentang masalahnya dengan Zico, Yolla benar-benar langsung terbang kembali ke indonesia hanya untuk memberi pelajaran pada Zico.


Ia pun pergi ke kantin ingin membeli minuman untuk melepas rasa dahaganya. Tapi lagi-lagi ia melihat pemandangan yang membuatnya benar-benar merasa muak, bahkan air matanya pun mengalir begitu saja.


Ia pun segera beranjak dari kantin itu, dan bergegas pulang menggunakan taksi.


Di dalam taksi air matanya tak henti-hentinya mengalir, hari ini benar-benar hari yang menyesakkan untuknya.


"Pak! Ke apartemen Surya Kencana ya, Pak!" ucap Gita sembari terisak, sebenarnya ia merasa sangat malu menangis di dalam taksi itu, karena supir taksi itu pun terus saja memandanginya yang sedang menangis dari kaca spion.


Setelah tiba di apartemennya, Gita pun duduk di ruang keluarganya.


Ia pandangi pigura foto yang terpasang foto ayah dan ibunya.


Rasa sesak itu kembali lagi, mengingat yang saat ini ia miliki hanyalah Zico, Zico yang selalu menenangkannya disaat dirinya sedang merasa sedih atau kesal.


Sedangkan saat ini yang membuatnya sedih sekaligus kesal adalah Zico sendiri, jadi entah pada siapa dia harus mencurahkan perasaannya yang menyesakkan ini.


"Ibu! Entah seperti apa aku harus menjalani hidup aku tanpa Zico, Bu! Zico sepertinya udah nggak sayang lagi sama aku, Bu!" gumam Gita saat memandangi foto mendiang ibunya sambil menangis terisak.


"Bu! Kenapa sih ibu harus ninggalin aku secepat itu, Bu? Gita kangen sama ibu sama ayah, Gita kangen banget sama kalian!" Gita duduk di atas lantai sembari memeluk lututnya dan juga memeluk pigura foto ibu dan ayahnya.


Netranya tiba-tiba menatap pigura yang berada di atas meja nakasnya.


"Zi, Apa kamu udah nggak sayang sama aku, Zi? Kok kamu tega banget sih sakitin aku seperti ini, Zi? Aku benci sama kamu, Zi! Aku benci!!!" teriak Gita sambil melempar pigura foto yang berisi foto dirinya dengan Zico ke atas lantai hingga kaca dari pigura itu pun pecah dan berserakan di lantai.


Walaupun di bibirnya mengatakan kalau dirinya membenci Zico, tapi lain dengan isi hati yang sebenarnya, ia benar-benar merasa takut kehilangan Zico, lelaki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta, hanya Zico lelaki yang menerima segala kekurangan Gita, hanya Zico lelaki yang berhasil masuk ke relung hatinya yang terdalam.


Memikirkan itu membuatnya menangis tersedu-sedu di kamarnya sampai tertidur pulas dengan matanya yang sembab.


DUARRR!!!


BRUKKK!!!


BRAKKK!!!

__ADS_1


Gita yang mendengar suara ribut dibalik pintu kamarnya pun menjadi terbangun, ia tiba-tiba merasa ketakutan mendengar suara gaduh itu.


Ia bergegas turun dari ranjangnya untuk mengunci pintu, takut kalau itu adalah pencuri seperti yang di duganya, ia sampai lupa kalau di lantai kamarnya itu ada pecahan-pecahan kaca dari pigura fotonya dengan Zico yang tadi ia banting ke atas lantai.


"Auwww!!!" pekik Gita kesakitan saat ada pecahan kaca menancap di telapak kaki nya. Tapi segera ia tutup mulutnya takut pencuri itu mendengar jeritannya.


Setelah berhasil mengunci pintunya, ia pun mencoba menelpon Giselle dan Nadhira tapi tak kunjung ada jawaban.


Ia juga mencoba menelpon Sean dan Alex tapi tak ada jawaban juga.


"Kemana sih mereka sebenarnya? Dari pagi susah sekali di hubungi! Aku harus gimana dong?" gumam Gita dengan suara berbisik.


'Aku nggak mungkin telpon Zico! Dia pasti lagi asik berduaan sama cewek itu! Apalagi cewek itu seksi banget kaya gitu! Dia pasti udah bosan sama aku. Aku kan nggak ada apa-apa nya dari cewek yang tadi, mungkin cewek itu bisa kasih Zico sesuatu yang belum bisa aku kasih ke dia sampai sekarang!' gerutu Gita dalam batinnya dengan air matanya yang kembali mengalir deras dengan suara yang terisak, tetapi dengan cepat ia tutup mulutnya sendiri takut kalau pencuri itu tiba-tiba mendobrak pintu kamarnya.


Setelah merasa lebih tenang, Gita pun mencoba menelpon polisi, ia benar-benar merasa takut untuk keluar dari kamarnya.


"Hallo, Pak!" bisik Gita saat menelpon kantor polisi.


(Iya, Hallo! Ada yang bisa saya bantu?) ucap seorang polisi di sebrang telpon.


"Pak! Tolong saya, Pak! Di rumah saya ada pencuri! Saya di kamar nggak berani keluar, Pak!" adu Gita sambil berbisik.


(Dimana alamatnya?) tanya pak polisi itu.


"Di apartemen Surya kencana lantai tiga nomer dua puluh ya, Pak!" bisik Gita lagi.


(Baik, saya akan segera ke sana!) sahut pak polisi.


Dua puluh menit kemudian...


Tok... Tok... Tok...


Mendengar suara ketukan pintu itu pun membuat hati Gita merasa sedikit lebih tenang karena berpikir bahwa yang datang itu pasti pak polisi yang di telponnya tadi, dan ia berpikir pasti pencuri itu sudah pergi melewati jendela.


Ia turun perlahan dari ranjangnya, ia buka kunci pintunya.

__ADS_1


Ceklek...


"AAaaaaaaaaaaaa!!!!"


__ADS_2