
Gita bergegas menyusul Yolla, tapi saat ia sampai di lobby, Yolla sudah pergi naik taksi.
"Yaah... Dia udah naik taksi," Gumam Gita tampak murung.
Zico yang mengikuti Gita di belakangnya pun segera menarik tangan Gita.
"Ayo, kita susul Yolla!" ajak Zico, ia tahu kalau Gita belum bertemu dan menjelaskan semuanya pada Yolla, pasti Gita tidak akan berhenti memikirkannya.
Zico pun melajukan mobilnya ke rumah Yolla.
Di Mansion Yolla...
"Lho, Sayang? Kok kamu udah pulang, Nak?" tanya Chintya pada anak gadisnya. Ia heran kenapa Yolla cepat sekali pulang, padahal tadi Yolla bilang akan bertemu Gita, dan biasanya Yolla dan Gita tidak pernah menghabiskan waktu hanya sebentar saat bersama.
Ia pun menyadari wajah Yolla yang sembab, bahkan kelopak matanya pun masih ada sisa-sisa air matanya.
"Sayang, kamu nangis, Nak?"
Yolla tidak menjawabnya, hanya terus beranjak pergi ke kamarnya.
Lantas Chintya mengejarnya, tetapi pintu kamarnya sudah di kunci oleh Yolla.
Tok... Tok... Tok...
"Sayang! Kamu kenapa, Nak? Kok pintunya dikunci? Buka dong, Sayang! Kamu cerita sama Mama kenapa kamu nangis?" Chintya berusaha membujuknya, tetapi sampai lima menit berlalu pun Yolla masih tak kunjung membukanya.
Saat kembali ke ruang tamu dan duduk di sofa, tiba-tiba saja Gita datang dengan Zico.
"Sore, Tan!" Sapa Gita menghampiri Chintya yang sedang duduk di sofa.
"Sore, Gita! Oh iya, kebetulan sekali kamu datang, baru juga Tante mau telpon kamu!" Sahut Chintya dengan wajah cemasnya.
"Iya, Tan. Aku mau ketemu Yolla boleh, Tan?" Tanya Gita.
"Of course, Sayang. Ya udah cepetan kamu susul Yolla ke kamarnya ya, Tante khawatir banget lihat dia nangis seperti itu."
"Iya, Tan. Aku permisi ya, Tan! Oya Zi, kamu tunggu di sini, ya!" Titah Gita.
Zico pun menganggukkan kepalanya.
"Silahkan duduk, Nak Zico!" Chintya mempersilahkan.
"Terimakasih, Tante!"
Di kamar Yolla...
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
"La! Buka pintunya dong, La!" teriak Gita, Yolla masih hanya diam saja tidak mau menjawabnya.
"La! gue mohon lo jangan marah sama gue, La! gue bisa jelasin semuanya! La, tolong buka pintunya!" bujuk Gita sembari menitihkan air matanya.
Lama-lama tangis Gita pun pecah, ia pun terdengar menangis terisak.
"La ... gue mohon, La! Lo jangan marah, gue sama sekali nggak maksud bohongin lo ... gue ... gue cuma nggak tau harus ngomong gimana sama lo, La!"
Yolla yang tidak pernah tega melihat Gita menangis pun, membuka pintu kamarnya.
Ceklek...
Melihat pintu kamar Yolla terbuka, Seketika Gita berhambur ke pelukan Yolla, mendekapnya begitu erat sahabat terbaiknya itu.
"Maafin gue, La! Maafin gue!" Sesungguhnya Yolla pun menyadari bahwa Gita tidak ada salah apapun dalam hal ini, kalaupun ia ada di posisi Gita, Mungkin ia akan melakukan hal yang sama seperti Gita.
Yolla yang tadinya hanya mematung akhirnya membalas pelukan sahabatnya itu dengan melingkarkan kedua lengannya di punggung Gita.
"Lo nggak perlu minta maaf kaya gini, Lo nggak salah kok, Git! That's all My mistake!" Ucap Yolla dengan wajah yang masih sembab.
Gita pun melepaskan dekapannya.
"Lo nggak marah sama gue?" Tanya Gita, ia mengira Yolla marah padanya karena tadi sewaktu di rumah sakit Yolla menghindarinya saat ia memanggil namanya.
Yolla mengangguk dan mengulas senyuman dengan bulu matanya yang masih tampak basah.
"Emmmm.. Tadi di belakang lo tuh ada Sean, Git! Jadi gue buru-buru kabur!" terangnya.
"Oh! Gue kira lo marah sama gue, La!" Ucap Gita.
"Enggak kok! Gue pun akan melakukan hal yang sama kalau gue ada di posisi lo, Git!" ujar Yolla.
"Aaaahh! Gue seneng banget lo pulang, La! gue kangen banget sama lo!" Gita memeluk Yolla lagi dengan gemas, kemudian ia tangkupkan kedua tangannya di wajah Yolla yang sudah tak chubby lagi.
"Ngomong-ngomong... Ini pipi lo kok ilang, La? Lo diet ya?"
"Hehe ... Iya, Git. Soalnya temen-temen gue di sana langsing-langsing banget, jadi gue insecure kalau lagi sama mereka, gue gemuk sendiri!" ucap Yolla yang sudah mulai melupakan kesedihannya itu.
"Oh iya, Git! Ayo sini kita tiduran di kasur aja, yuk!" Ajak Yolla, sebenarnya ia sangat merindukan ranjangnya yang sudah satu tahun ia tinggalkan itu, tapi karena tadi ia sudah tidak sabar ingin memberi kejutan untuk Gita, jadi ia lebih memilih bertemu Gita dulu dibandingkan pulang dan istirahat di ranjang king size miliknya itu.
"Tapi, La! Di bawah ada Zico!" tolak halus Gita, ia pun sebenarnya sudah sangat merindukan momen-momen kebersamaannya dengan Yolla, dulu biasanya mereka berdua akan tiduran di ranjang sambil saling curhat sampai tertidur.
"Oh, Zico ikut? Gue kira lo sendiri, Git! Zico tuh bener-bener bucin akut ya sama lo." Goda Yolla.
"Hehe... Ya udah kita ngobrol di bawah aja gimana, La?" tawar Gita nyengir seperti kuda.
"Git, sebenarnya banyak hal yang mau gue tanyain dan omongin sama lo, bisa nggak lo menginap aja di sini nanti malam?" pinta Yolla dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
"Ya udah ayo kita ke bawah dulu ya? Nanti gue ngomong sama Zico dulu."
"Okay, Ayo!"
Mereka pun berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga mewah di Mansion Yolla itu, Mansion Yolla pun terlihat mewah, tapi memang masih kalah jauh dengan Mansion milik keluarga Zico yang ada lift nya itu.
"Zi! Aku boleh nggak menginap di sini?" Gita meminta izin pada Zico.
Zico menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, aku langsung pulang aja ya, Sayang?" pamit Zico.
"Lho? Bukannya kamu mau latihan basket?" tanya Gita, karena tadi sebelum ke rumah sakit Zico bilang pada Gita kalau ia ada jadwal latihan sore ini.
"Males aku balik lagi ke kampus, mending aku pulang aja, lagi pula aku lagi capek banget, Sayang." keluh Zico.
"Oh ya udah, Sayang. Kamu pulang aja istirahat." titah Gita sambil menggenggam jemari Zico.
"Hemmm ... Beda ya sekarang udah berani sayang-sayangan depan gue!" Gerutu Yolla sambil menggoda Zico dan Gita.
Gita tidak menjawabnya, ia hanya menunduk tersenyum malu.
Lantas Zico memeluk dan mencium keningnya.
"Oh, God! Kalian ini bener-bener sesuatu ya! Tega banget bermesraan di depan gue!" Kali ini Yolla bukan menggoda lagi, tapi justru ia merasa kesal, karena adegan-adegan seperti itulah yang ia harapkan terjadi pada dirinya dan Sean kalau ia kembali pulang, padahal sebelum pulang ia sudah bertekad untuk mengungkapkan perasaannya saat ini pada Sean, dan ia sangat berharap hubungannya dengan Sean bisa seperti yang ia harapkan, tapi ternyata ia terlambat, amat sangat terlambat.
Andai kata Yolla menerima Sean waktu itu, pasti yang sekarang menjadi kekasih Sean adalah dirinya, bukan Giselle.
Tapi apa daya? Nasi yang telah menjadi bubur pun tidak bisa kembali lagi menjadi nasi yang utuh, sama seperti hubungannya dengan Sean yang sudah berakhir dan tidak akan bisa kembali lagi, karena Sean telah ada yang memiliki.
Zico kemudian melepaskan pelukannya keluar dari rumah Yolla dengan jemari mereka yang saling bertaut.
Zico segera melajukan mobilnya kembali pulang.
Di dalam kamar Yolla lagi ...
Gita dan Yolla berbincang banyak hal tentang hidup Yolla setahun belakangan ini selama di negara fashion tersebut, tapi keduanya masih belum sama sekali membahas tentang Sean.
Gita sebenarnya ingin sekali bertanya, tetapi lidahnya terasa sangat kelu untuk mengucapkan kata 'Sean' di depan Yolla, ia takut pertanyaannya hanya akan menjadi Yolla bersedih lagi.
Tapi tiba-tiba saja Yolla yang mulai membahasnya.
"Git! Memang sejak kapan dia kenal sama, Giselle?"
BERSAMBUNG...
__________________________________
__ADS_1