
Zico hanya diam duduk disofa diruangan tersebut.
Ruangan tersebut hening seketika.
“Gita, pergilah belikan minum untuk nak Zico.” Seru Sophia kepada putrinya.
“Baik bu.” Jawab Gita.
“Nggak apa-apa tante, saya bisa cari sendiri kok, saya permisi sebentar ya tan.” Seru Zico tersenyum sambil berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan tersebut tanpa sedikitpun melirik Gita.
‘hmmm.. sepertinya dia marah’ pikir Gita dalam hatinya sambil menengok ke arah Zico pergi.
“Pergilah nak, temani Zico.” Pinta Sophia kepada putrinya.
“Baiklah bu.” Jawab Gita dan segera pergi menyusul Zico.
“Mmmm.. Sepertinya Gita sudah menerimanya, dan pasti yang mengurus hal-hal dirumah sakit ini pun nak Zico.” Gumam Sophia.
Gita berlari menghampiri Zico dan berjalan disamping Zico, tetapi Zico diam saja tidak mengatakan apapun, hanya meliriknya sekilas.
Gita memeluk tangan Zico dan memulai percakapan, “Zico, kamu kenapa? kamu marah ya?”
“Baguslah kalau kamu sadar.” Jawab Zico dengan nada dingin.
“Sa..yang, maaf.” Ucap Gita sambil melihat wajah Zico dengan wajah memelas.
Zico menghentikan langkahnya.. “What’s? Coba katakan lagi, tadi kamu bilang apa?” Tanya Zico terkejut, karena memang selama 4 bulan ini mereka menjalin hubungan Gita tidak pernah memanggil sayang kepada Zico, dia masih malu-malu. Hanya Zico saja yang sering menggunakan panggilan itu.
“Sa…yang..” ucap Gita malu-malu.
“Baiklah aku nggak akan marah lagi, tapi kamu harus janji sama aku, mulai sekarang kamu harus sering panggil aku sayang, okay?” perintah Zico sambil senyum-senyum menghadap Gita dan mengelus pipi Gita.
“hmmm.. Baiklah.” Jawab Gita.
“Baiklah apa?” Goda Zico sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Baiklah sayang.” Seru Gita tersenyum sambil memeluk lengan Zico dan segera berjalan untuk membeli minum.
Setelah mereka selesai membeli minum mereka segera kembali ke ruang VIP yang ditempati Sophia, Zico duduk di sofa, sedangkan Gita berada disamping Sophia, ia tidak ingin jauh-jauh dari wanita yang telah melahirkannya.
lima belas menit kemudian perawat tiba di ruangan tersebut.
“Permisi… Maaf, dokter meminta saya untuk membawa Ibu Sophia ke ruang CT Scan.” Kata perawat.
“Baik sus.” Sahut Gita.
Ia dan Zico membantu Ibunya turun dari ranjang dan mendudukkannya di kursi yang dibawa oleh perawat.
__ADS_1
“Kalian pulanglah dulu, besok kan kalian harus ke sekolah, nak Zico juga pasti orang tuamu khawatir karena sudah malam kamu belum pulang.” Perintah Sophia dengan nada yg lembut.
“Nggak apa-apa tante, nanti setelah selesai CT scan nya aku akan pulang.” Sahut Zico.
“Oh, Baiklah kalau begitu.” Jawab Sophia, perawat segera mendorong kursi rodanya dan membawanya keluar dari ruangan itu.
Zico dan Gita duduk disofa sambil menunggu Sophia yang sedang melakukan CT Scan.
Zico merangkul Gita, dan Gita menyandarkan kepalanya di bahu Zico.
Lagi-lagi air mata jatuh dari sudut matanya, takut akan hasil CT Scan Ibunya.
Zico yang mendapati sesuatu yang basah jatuh diatas punggung tangannya yang sedang menggenggam tangan Gita pun segera menatap Gita.
“Lho sayang, kamu kenapa kok nangis lagi?” Tanya Zico cemas.
“hiks.. hiks… Aku khawatir Ibu sakit parah Zi.” Gita mulai menangis terisak.
Zico selalu merasakan sakit di hatinya setiap melihat Gita menangis seperti itu, membuat mata Zico ikut mengembun, tetapi ia tetap mencoba menenangkan Gita.
“Udah dong sayang, jangan menangis terus, nanti Ibu kamu sedih melihat kamu seperti ini.” Tutur Zico sembari menghapus air mata Gita.
Gita pun menganggukkan kepalanya, ia tidak mau Ibunya mendapati dirinya yang sedang menangis, ia menghapus sisa-sisa air matanya, dan tersenyum memaksakan.
“Nah gitu donk! Kan kalau senyum tambah cantik pacarnya Zico!” goda Zico tersenyum sembari menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Gita.
Tiba-tiba HP Zico berdering dan Zico segera menjawab panggilan tersebut.
Panggilan itu dari Celine Mommy nya Zico.
Zico : (Hallo Mom!) ucap Zico.
Celine : (Kamu dimana Son? Kok jam segini belum pulang sih?) Tanya Mommy nya dari sebrang telepon.
Zico : (Zico dirumah sakit Mom, Zico..…) belum selesai Zico bicara Mommy nya memotong perkataannya karna terkejut.
Celine : (Kamu kenapa nak? Kenapa nggak mengabari Mommy kalau kamu dirumah sakit? Hiks hiks...) mendengar suara Mommy nya terisak Zico menghela nafas panjang.
Zico : (Hmmmm…Ya ampun Mom, Zico belum selesai ngomong Mommy udah nangis aja, Zico baik-baik aja Mom, Zico cuma sedang menemani Gita, Ibunya sakit.) Terang Zico menenangkan Mommy nya.
Mendengar Zico berbicara kalau Mommy nya menangis, Gita melepaskan pelukannya dari Zico.
Celine menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan Zico.
Celine : (Hmmmm...) Celine menghela nafas panjang. (Mommy kira kamu kecelakaan nak, syukurlah kalau kamu baik-baik aja, Kalau begitu sampaikan salam Mommy pada Gita dan Ibunya ya, semoga Ibunya lekas sembuh, besok Mommy akan menjenguk kesana, kamu nanti pulang hati-hati ya nak, Love you son!) Ucap Celine kepada putra kesayangannya itu.
Zico : (Okay Mam, Love you more!) Sahut Zico, dan mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
“Mommy kenapa nangis sayang?” Tanya Gita cemas.
Zico menunjukan baris gigi putihnya.
“hehe.. nggak apa-apa sayang, Itu Mommy nya aja yang agak lebay, aku belum selesai ngomong kenapa aku dirumah sakit, eh Mommy udah nangis duluan.” Terang Zico.
“Oh!” Sahut Gita tersenyum.
Zico merangkulnya lagi dan mencium keningnya.
Gita sangat merasa dicintai setiap Zico mencium keningnya, ia merasa menjadi wanita paling beruntung bisa dicintai oleh Zico.
Biasanya Gita tidak pernah membalasnya, kali ini Gita membalasnya dengan mengecup pipi Zico. “Mmuach”
Zico terkejut, ia membelalakkan matanya dan menatap Gita dengan mulut terbuka, “Sayang???”
“Kenapa? Nggak suka?” Goda Gita.
“Su.. Suka banget lah!” Jawab Zico gugup, ia masih tidak menyangka mendapat kecupan pertamanya dari Gita, karena selama ini hanya ia yang sering mencium kening dan pipinya Gita.
“Ahahaha… kamu kenapa sih mukanya lucu banget?!” Ejek Gita tertawa melihat Zico yang masih dengan wajah seperti orang linglung, bahkan daun telinganya terlihat sangat merah.
“Kamu nyium aku nggak bilang-bilang sih!” keluh Zico.
“Lho? Kamu sendiri kalo cium aku nggak pernah izin main nyosor aja!” Sahut Gita.
“Hehehe..” Zico nyengir seperti kuda, rasanya, ia sudah nampak seperti Sean kalau nyengir seperti itu.
“Jelek!” Gita mendorong sedikit pipi Zico.
“Masa? emang iya aku jelek? Tapi kenapa banyak cewek yang ngejar-ngejar aku ya?” Goda Zico. Kali ini ia benar-benar mulai menyebalkan seperti Sean kalau sudah menggoda Gita.
“Hmmm… So ganteng!” Ketus Gita. ia jadi kesal membayangkan saat ia sedang jalan ke manapun dengan Zico, pasti semua gadis yang berpapasan dengan mereka terpesona pada Zico, bahkan menatap Zico tanpa berkedip.
“Emang aku ganteng kan?” Goda Zico lagi, ia sangat senang menggoda Gita kalau Gita sudah mengerucutkan bibirnya seperti itu.
“Nggak!” sahut Gita.
“Kalau aku nggak ganteng emang kamu mau sama aku?”
“Tau ahh!” Gita benar-benar sudah kesal pada Zico, ia berdiri ingin pindah ke ranjang Ibunya, agar jauh dari Zico.
Namun Zico tiba-tiba menariknya, sekarang posisi Gita ada dipangkuan Zico.
Zico menahan tengkuk Gita dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya diletakkan di pinggul Gita, ia segera melu mat bibir Gita dengan lembut, Gita pun terbuai dengan ciuman Zico, ia membalas luma tan Zico, ia pun meletakkan kedua tangannya di bahu Zico, Saat mereka sedang menikmati ciuman itu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok… Tok.. Tok…
__ADS_1