
Gita sedang merasa sangat kesal pada Zico karena melarangnya keluar rumah, karena hari ini ia sudah janjian dengan Nadhira untuk jalan-jalan keluar bersama anak-anak mereka. Karena kemarin Nadhira, Alex dan juga putranya sudah kembali ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Zico dan Gita nanti.
Saking kesalnya Gita pada Zico, ia tidak membalas chat apalagi menjawab panggilan dari Zico. Ia benar-benar mengabaikan sang suami.
Zico yang sedang berada di kantor pun ikut merasa kesal karena dirinya di abaikan oleh Gita.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Cuma aku larang keluar rumah aja ngambeknya sampe kayak gini!" gerutu Zico saat Gita tidak juga mengangkat panggilan darinya yang entah sudah ke berapa kalinya.
Ia pun menjadi tak fokus pada pekerjaannya. Namun, karena esok hari sudah H-1 dan dia akan cuti, mau tak mau ia harus pulang larut malam ini.
***
Benar saja, malam ini sudah jam sepuluh malam, Zico baru saja menyelesaikan pekerjaannya bersama Sean, karena ada masalah di salah satu cabang perusahaannya di Tangerang tadi siang. Ia pun segera pulang ke mansion nya setelah menyelesaikan masalah yang ada.
Karena jarak tempuh yang lumayan jauh, Zico baru tiba di mansionnya jam dua belas malam. Gita yang sedari tadi menunggunya pulang pun sampai tertidur di atas ranjangnya tanpa memakai selimutnya.
Zico yang baru saja masuk ke dalam kamarnya pun masuk dalam keadaan yang sangat kelelahan. Ia melepas dasi dan jasnya kemudian melemparkannya ke atas sofa dan merebahkan diri di atas kasur sambil memeluk tubuh Gita. Gita yang menyadari Zico sudah pulang dan sedang memeluknya pun terbangun, ia melepaskan diri dari pelukan Zico dan menjauh darinya, tentu saja Zico yang sedang kelelahan menjadi emosi dibuatnya.
"Sayang, kamu kenapa sih marah kaya gitu? Masa cuma karena aku larang keluar rumah aja sampe marah kaya gini? Aku chat sama telpon kamu aja nggak ada yang kamu jawab. Aku udah sabar lho seharian kamu cuekin, sekarang kamu masih mau diemin aku?" tanya Zico dengan tegas dan suara yang agak kencang. Ia benar-benar sudah menahan emosinya seharian ini. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Zico, Gita malah menangis terisak, karena merasa kalau Zico sudah membentaknya.
Zico yang tidak pernah tega menghadapi Gita menangis pun, mengembuskan napas panjang. Ia mencoba untuk meminta maaf dan membujuk Gita saja. Ia tidak ingin kejadian seperti beberapa hari yang lalu terulang kembali, di saat ia mendiamkannya, Gita malah jatuh sakit. Apalagi lusa adalah pesta resepsi pernikahan mereka.
Ia mendekatkan dirinya pada Gita dan memeluknya dari belakang sambil mencium pipinya.
"Sayang, maafin aku, ya. Aku nggak maksud bentak kamu, aku cuma lagi kesal aja, udah kamu cuekin seharian, di cabang perusahaan yang di Tangerang juga lagi ada masalah, terus aku lagi capek banget pulang-pulang malah kamu cuekin aku kayak gini, bukannya kamu tanya aku udah makan apa belum. Kamu malah marah kayak gini," jelas Zico.
"Ternyata bener kata orang-orang, cowok tuh kalo udah jadi suami pasti berubah!" ketus Gita sambil terisak.
"Berubah? Berubah gimana, Sayang? Memang apa yang berubah dari aku? Aku udah nggak ganteng lagi, ya?" tanya Zico tak mengerti maksud perkataan Gita. Ia malah berusaha menggoda Gita.
"Pikir aja sendiri!" ketusnya lagi.
"Apa karena aku larang kamu keluar rumah terus kamu bilang aku berubah, gitu? Ya ampun, Sayang. Aku tuh cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa. Hari ini di kantor lagi banyak masalah, aku nggak bisa temenin kamu keluar, makanya lebih baik kamu di rumah daripada kamu keluar sendirian. Apa aku salah khawatir sama istri aku sendiri?" tutur Zico panjang lebar.
"Aku kan cuma mau ketemu Nadhira, apa yang mesti di khawatirin sih?" jawab Gita tanpa menoleh ke arah sang suami.
"Jadi bener kamu bilang aku berubah karena itu?"
"Bukan!"
"Terus apa?"
"Tuh kamu nggak sadar kalo barusan kamu bentak-bentak aku? Coba kamu pikir, sebelum kita menikah kamu pernah nggak bentak-bentak aku kayak gitu?" ujar Gita semakin terisak.
Mendengar hal itu Zico pun terdiam, ia pun menyadari kesalahannya, ia memeluk Gita lebih erat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Sayang. Aku nggak sadar kalo aku udah bentak kamu. Aku cuma lagi stress sama kerjaan, lagi cape juga, lapar juga, eh pulang malah dicemberutin istri. Aku dari siang belum makan apapun, Sayang. Lapar banget perut aku," jelas Zico.
Gita pun menghentikan isak tangisnya dan berbalik ke arah Zico.
"Kenapa belum makan?" tanya Gita sambil menghapus air matanya.
"Ya karena aku kepikiran kamu yang nggak balas-balas chat aku, nggak angkat telpon aku pula. Aku jadi nggak lapar tadi siang, terus tadi sore juga nggak sempat makan karena urusin masalah di pabrik yang di Tangerang," jelas Zico lagi.
"Kan tadi pulang bisa mampir makan dulu," ucap Gita.
"Kalo aku mampir dulu, mau jam berapa aku sampai rumah? Dari Tangerang aja jam sepuluh aku baru jalan."
"Kamu nggak nyetir sendiri, 'kan?"
"Aku sama Sean, kok."
"Ooh."
"Aku lapar, Sayang."
"Mau aku masakin apa? Nasi goreng?" tawar Gita yang sudah mulai luluh pada sang suami, ia tidak tega melihat wajah Zico yang terlihat lemas dan lelah.
"Kamu capek nggak nanti kalo masakin aku?" tanya Zico.
"Enggak, kok. Aku kan seharian di rumah doang, capek ngapain ... tapi aku takut kalo masak di bawah sendirian, yang lain kan udah pada tidur, udah sepi. Kamu mau nggak temenin aku masak?"
"Iya, Sayang." Zico pun pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya agar tidak tertidur saat menemani Gita memasak. Kemudian ia beranjak menuju walk in closet untuk berganti pakaian dengan pakaian piyama.
"Ayo, Sayang!" ajak Zico sambil memeluk Gita dari belakang.
"Kamu nggak mandi?" tanya Gita membelai pipi Zico.
"Nggak ah, Sayang. Takut kamu kelamaan nunggu aku," terang Zico.
"Ya udah, ayo!" ajak Gita sambil memeluk lengan Zico.
Mereka pun tiba di dapur, Gita yang sedang menyiapkan bahan-bahannya untuk memasak pun lama-lama merasa risih karena Zico terus memeluknya dari belakang.
"Sayang, jangan peluk terus kayak gini dong. Aku susah masaknya," keluh Gita. Zico pun melepaskan pelukannya. Namun, memutar tubuh Gita agar menghadap dirinya.
"Sayang, jangan cuekin aku seharian kayak tadi lagi, ya? Aku galau banget sumpah seharian, udah pusing kerjaan, kamu juga diemin aku seharian. Rasanya kacau banget otak aku, Sayang," pinta Zico pada sang istri sambil menangkup wajahnya.
"Iya-iya, aku minta maaf," ucap Gita merasa bersalah. "Abisnya kamu kalo khawatir jangan terlalu gitu napa sih."
"Terlalu gimana? Aku tuh cinta banget sama kamu, Sayang. Aku cuma nggak mau kalo kamu dan anak-anak kita kenapa-kenapa. Karena sekarang tuh perusahaan keluarga Priscilla lagi kacau, nilai sahamnya turun drastis karena kasus Priscilla. Aku takut mereka melampiaskannya pada kita. Aku takut mereka bayar orang buat celakain keluarga kita, sama kaya Priscilla suru Miko buat celakain aku dulu," jelas Zico.
__ADS_1
"Oh jadi gitu. Harusnya kamu bilang dari awal dong, biar aku paham maksud kamu," jawab Gita.
"Ya aku juga takut kalo aku bilang ke kamu, takutnya nanti kamu malah jadi ikut cemas," tutur Zico.
"Ya udah iya, aku ngerti sekarang. Maaf ya aku malah marah sama kamu, padahal kamu ngelarang aku keluar rumah demi kebaikan aku dan anak-anak," ucap Gita menatap wajah tampan Zico, kemudian memeluknya erat.
"Iya, Sayang," balas Zico kemudian mengecup mesra kening Gita.
"Besok aku minta Alex bawa Nadhira ke sini aja, ya? Gimana?" tawar Zico.
Gita pun menganggukkan kepalanya.
Kemudian Gita melanjutkan memasak nasi goreng untuk Zico. Setelah nasi gorengnya siap untuk di hidangkan, Gita pun menaruhnya di meja makan dan menemani Zico menyantapnya. Zico mencoba menyuapi Gita, namun Gita menolaknya karena takut gaun pengantinnya tidak cukup.
Setelah Zico selesai menyantap makan malamnya, mereka pun kembali ke kamar mereka. Merebahkan diri saling mendekap erat, mereka pun tertidur dengan lelap sampai keesokan pagi.
***
Pagi hari pun tiba, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh. Namun, Zico dan Gita masih belum terbangun dari tidurnya. Masih saling mendekap erat satu sama lain.
Hingga akhirnya Gita terbangun karena ponselnya yang berdering, ternyata itu adalah panggilan dari Yolla.
Ia melepaskan pelukannya dari Zico dan meraba ponsel yang terletak di meja nakas samping tempat tidurnya dengan mata yang masih terpejam.
"Hallo, La," jawab Gita dengan suara parau khas bangun tidur. Mendengar sang istri sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya, Zico pun mendekatkan dirinya pada Gita dan kembali memeluknya.
(Jiaaah! Pengantin baru, udah H-1 masih tidur udah jam segini. Habis digempur Zico semalaman lo, ya?) goda Yolla dari sebrang telponnya.
"Apa sih, La!" ketus Gita.
(Gila ya tuh orang, padahal pulang larut, 'kan? Masih sempat-sempatnya gempur istrinya dulu,) oceh Yolla lagi.
"Iih apa sih, La. Orang gue lagi datang bulan, kok!" ketus Gita lagi.
Mendengar itu, Yolla dan Sean pun tertawa dari seberang teleponnya.
"Lho? Kamu lagi sama Sean?"
(Iya, aku lagi di mobil, Sean jemput aku, mau antar aku ke kantor,) jawab Yolla masih sambil tertawa.
(Ngomong-ngomong kamu dari kapan datang bulannya, Git?)
"Dari pas abis nikah."
(What's? Kasian banget Zico, Ahahaha,) sahut Sean terbahak.
__ADS_1
Mendengar Sean menertawakannya, Zico pun menyahut.
"Gue sumpahin nanti kalo malam pertama, istri lo lagi datang bulan juga. Biar tau rasa lo!" omel Zico.