
"Seriously?" tanya Sean tersentak. "Emang lo ketemu di mana, La?" Lanjutnya.
"Gue tadi siang meeting di salah satu cafe dekat kantor gue. Nah gue liat cowok ini di sana," terang Yolla dengan raut wajah yang serius. Kegugupan Yolla mendadak hilang entah kemana.
Akhirnya Yolla pun menceritakan kejadiannya saat bertemu dengan pria asing tersebut.
Flashback On
Yolla sedang berada di cafe yang tidak jauh dari perusahaannya, ia sedang mengadakan meeting dengan salah satu kliennya.
Saat sedang berbincang serius dengan kliennya, tiba-tiba ia melihat sosok yang tak asing baginya.
"Bukannya itu si Mak Lampir Priscilla, ya? ngapain dia di sini? Bukannya kata Gita, Zico bilang dia udah pergi ke luar negri, ya? ... terus itu cowok yang sama dia siapa? Kok pake baju item-item gitu sih? Udah kaya pembunuh bayaran yang di drama-drama korea aja, deh!" gumam Yolla dalam batinnya, bukannya mendengar kliennya yang sedang berbicara serius, ia malah terus melirik ke arah Priscilla. Priscilla terlihat sangat kesal pada orang itu.
Flashback Off
Setelah Yolla menceritakan kejadiannya tadi siang, Sean pun bergegas datang ke cafe yang di maksud Yolla, ia mengecek CCTV di cafe tersebut setelah menemui manager cafe itu.
Ternyata benar seperti yang dikatakan Yolla, pria itu benar-benar bertemu dengan Priscilla.
Sean meminta salinan dari rekaman itu dan bergegas membawa rekaman itu ke kantor polisi dan menyerahkan bukti rekaman CCTV tersebut kepada pihak kepolisian agar dapat ditindak lebih lanjut.
Sean meminta kepada pihak kepolisian untuk memanggil Priscilla saat ini juga. Karena ia benar-benar merasa murka saat ini kepada Priscilla. Kalau benar Priscilla yang sudah mencelakai Zico sesuai dugaannya, Sean berjanji pada dirinya sendiri akan membuat Priscilla di penjara seumur hidup karena selalu menganggu kehidupan Zico dan Gita.
Padahal Zico telah memberinya satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan tidak mengusik lagi kehidupan Zico.
Sean jadi teringat perkataan Zico saat memberi pelajaran pada Priscilla.
Flashback On
__ADS_1
"Sean! Sekarang juga cancel semua kerjasama perusahaan kita sama keluarga dia!" titah Zico tanpa menoleh pada Priscilla.
Zico sangat murka saat mengetahui ternyata penyebab Gita pergi adalah Priscilla yang dengan sengaja menjebaknya dan mengirim videonya sedang tidur di ranjang yang sama dengan Priscilla yang sedang menciumi Zico yang sedang tertidur. Zico merasa sangat jijik saat melihat video itu. Jijik sekaligus sakit. Jijik karena ternyata Priscilla pernah menciumnya, dan sakit karena membayangkan betapa sakitnya hati Gita saat melihat video tersebut.
Mendengar perkataan Zico membuat Priscilla berlutut di kaki Zico sambil memegang kaki Zico yang kemudian segera dihempaskan kasar oleh Zico. Ia merasa sangat jijik bagian tubuhnya di sentuh oleh Priscilla.
"Zi! Aku mohon maafin aku, Zi. Tolong jangan bawa-bawa keluarga aku. Aku akan ngelakuin apa aja yang kamu minta, tapi tolong jangan putuskan kerjasama keluarga kita, Zi. Please, Zi. Ini semua nggak ada hubungannya sama keluarga aku," Priscilla memohon sambil menyatukan dan menggosokkan kedua telapak tangannya memohon pada Zico. Oh, bukan memohon, lebih tepatnya ... mengemis.
"Heh ... sekarang lo ngemis-ngemis sama gue, seharusnya sebelum lo ngelakuin itu semua, lo bayangin dulu apa yang akan terjadi sama keluarga lo saat lo cari masalah sama gue!"
"Sorry, Zi. Gue hilang akal! Gue nggak tau gimana lagi cara gue buat dapetin lo! Gue cinta sama lo, Zi. Gue cinta mati sama lo!" teriak Priscilla sambil menangis.
"Cih, cinta? Gue tau itu bukan cinta! Lo itu cuma obsesi sama gue, karena pasti lo mikirnya perusahaan keluarga lo itu nggak akan pernah bangkrut selama lo bisa sama gue! Iya 'kan?" sentak Zico dengan menyunggingkan senyum sinisnya, memandang jijik pada Priscilla.
"Enggak, Zi. Gue beneran cinta sama lo!"
"Stop it! Gue udah nggak mau denger alasan apapun yang keluar dari mulut busuk lo itu! Gue jijik dan muak banget sama lo sejak dulu lo kurung Gita di toilet sekolah! Terus ternyata masih beraninya lo ngancem Gita untuk menjauhi gue! Dan lo yang udah buat Gita pergi dari hidup gue, *****!" bentak Zico kemudian mengetatkan rahangnya.
"Lepasin tangan lo dari kaki gue! Lepasin!!! Gue jijik kalo tubuh gue lo sentuh! Lepas!" sentak Zico lagi sambil menghentakkan kakinya dan menjauh dari Priscilla.
"Zi, kalo lo sampe ngelakuin hal itu, nanti gue bisa-bisa di usir dari rumah, Zi," rengek Priscilla.
"Sean! Bawa cewek ular ini keluar dari kantor gue, sekarang!" tegas Zico kemudian kembali ke meja kerja dan duduk di singgasana nya.
Sean pun menyeret Priscilla keluar dari ruangan Zico. Di luar ruangan Zico, Priscilla mengemis pada Sean, ia meminta tolong pada Sean untuk membantunya berbicara pada Zico untuk tidak membatalkan seluruh kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Zico.
Dan karena Sean merasa iba pada Priscilla, akhirnya ia pun membujuk Zico untuk tidak membatalkan semua kerja sama perusahaannya, Sean menyarankan untuk membuat Priscilla pergi dari indonesia saja. Akhirnya Sean pun menyampaikan persyaratan dari Zico pada Priscilla, ia pun menurut pada Sean dan pergi ke New York untuk tinggal bersama sang ibu. Priscilla memang korban broken home. Mungkin karena itulah kelakuan Priscilla menjadi seperti itu. Karena ia tinggal di rumah hanya bersama ibu sambungnya dan tidak pernah mendapatkan perhatian lebih dari sang ayah.
Flashback Off
__ADS_1
Sean menjadi sangat merasa bersalah saat ini, karena dirinya yang menyarankan persyaratan itu pada Zico, akhirnya malah Zico yang terkena dampak dari kelakuan mengerikan Priscilla.
Ia benar-benar tak habis pikir kenapa Priscilla tidak pernah jera untuk menganggu Zico dan Gita. Bahkan sampai melakukan hal-hal di luar nalar seperti saat ini, yang menyebabkan Zico terbaring koma satu bulan lamanya.
***
Satu minggu pun berlalu, namun ternyata polisi masih belum menemukan keberadaan Priscilla maupun orang suruhannya itu.
Seperti biasa, Gita sedang di rumah sakit mendampingi Zico. Beruntung rumah sakit itu memiliki ruang ICU VIP yang di khususkan hanya untuk satu orang saja dan terdapat sofa dan meja sana. Jadi, Gita selalu mendampinginya di ruangan tersebut.
Saat Gita baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar suara kencang dari alarm monitor alat vital yang terpasang pada tubuh Zico. Gita seketika bangkit dan menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Gita panik ketakutan, suara alarm seperti inilah yang sejak kemarin ia takutkan, suara alarm yang biasanya ia dengar dari alat yang terpasang pada tubuh pasiennya saat KOAS dulu, namun sekarang suara menakutkan itu terdengar dari alat yang dipasangkan di tubuh Zico. Sungguh menyayat hati Gita.
"Zi ... Kamu jangan kaya gini, Zi. Kamu bangun, Zi. Ayo, bangun, Zi! Bangun!" ucap Gita terisak memandangi wajah Zico sambil menciumi punggung tangan Zico. Wajah lelaki yang selalu mencintainya dengan begitu tulus, yang selalu menginginkannya itu terlihat mengeluarkan air mata dari sudut matanya. Gita segera menghapusnya, "Zi, kamu denger aku 'kan, Zi? Kamu liat aku 'kan? Aku takut, Zi. Aku nggak akan sanggup menjalani hidup tanpa kamu. Kamu berjuang untuk bangun ya, Zi. Jangan pernah kamu tinggalin aku dan anak-anak kita," rengek Gita terisak ketakutan. Setiap harinya ia selalu berharap mukjizat itu akan tuhan berikan pada Zico dan Zico terbangun dari komanya.
Para perawat, dokter jaga dan juga dokter Gerald berbondong-bondong memasuki ruangan.
Dokter Gerald meminta Gita untuk menunggu di luar ruangan. Namun Gita menolaknya, ia bersikukuh ingin terus berada di samping Zico sembari menggenggam erat tangan Zico.
Akhirnya dokter Gerald lah yang memeluk Gita dari belakang dan membawanya keluar ruangan.
Air mata Gita berderai, memandang hancur kepada Zico yang sedang dikerubungi tenaga medis.
Dokter Gerald berada di depan Gita, ia membelakangi pintu ruang ICU yang masih terbuka, tubuhnya memeluk Gita erat yang sedang meraung-raung. Kemudian ia lepaskan dan mencoba menenangkan Gita.
"Sya, calm down ... jangan panik, aku akan berusaha semaksimal mungkin, kamu tunggu di sini, okay?"
Namun, baru saja dokter Gerald masuk ke ruang ICU, dengung panjang terdengar dari monitor jantung Zico.
__ADS_1
"Flatline, dok!" teriak salah satu perawat ketika melihat garis lurus di layar monitor. Detak jantung Zico telah berhenti.