First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kesalahpahaman


__ADS_3

***


Di Lobi rumah sakit Zico berjalan keluar dengan langkah yang cepat karena hatinya yang terasa sangat sakit, dadanya bergemuruh karena amarah yang sejak tadi dipendamnya.


Seorang staff yang mendampinginya menggantikan Sean, yaitu Rico, segera membukakan pintu mobil untuk tuannya setelah ia mengambil mobilnya di basemen perusahaan dan menunggunya di depan lobi saat Zico sedang berbincang dengan Gita tadi, dan segera masuk kembali ke kursi pengemudi.


Namun saat Rico hendak melajukan mobilnya, Zico tiba-tiba memintanya untuk menunggu sebentar.


"Tunggu! Jangan jalan dulu!" titah Zico saat melihat mobil Kenzo tiba di depan lobi, sudah jelas Kenzo pasti sedang menjemput Gita.


"Baik, Tuan!" sahut Rico lalu bergumam dalam batinnya, "Tuan Zico kenapa, ya? Sepertinya Tuan Zico dan Sekretaris baru perusahaan ini saling mengenal?" ucapnya dalam batin saat melihat dari kaca spion di dalam mobilnya kalau Zico sedang menatap tajam ke arah Gita yang baru saja keluar dari lobi perusahaan.


Gita berjalan menghampiri mobil Kenzo dengan raut wajahnya yang terlihat sangat sedih.


Kenzo yang sedang menunggu Gita dengan menyandarkan tubuhnya di body mobilnya pun segera mendekat ke arah Gita saat memandang wajah Gita yang terlihat sedih dengan matanya yang juga terlihat sembab, sedangkan anak-anaknya sudah tertidur pulas di kursi belakang.


"Git, kamu kenapa? kamu habis nangis?" ucapnya khawatir sambil memegang kedua bahu Gita dan menatap wajah Gita dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, ia heran kenapa Gita bisa menangis di tempat kerja yang baru saja di kunjunginya.


"Eng-enggak kok ... aku cuma kelilipan aja," kilah Gita tapi menitihkan air matanya lagi sambil menggeleng, Kenzo yang tahu Gita menutupi sesuatu pun tak ingin bertanya lagi karena ia tahu itu hanya akan membuatnya bertambah sedih saja. Kenzo hanya mengusap lembut pipi Gita dengan ibu jarinya untuk menyeka air mata Gita.


Zico yang sedang menatap tajam mereka dari dalam mobil pun merasakan sakit yang luar biasa, jantungnya seperti sedang diremas-remas, emosinya memuncak namun tak tahu harus melepaskan amarahnya itu pada siapa, sedangkan ia hanya berdua di dalam mobil dengan Rico, dan Rico tak ada salah apapun, tidak mungkin ia tiba-tiba memarahi Rico tanpa alasan yang jelas.


Ia benar-benar tak bisa menerima kenyataan ini, ia tak rela Kenzo menyentuh wajah Gita seperti itu. Dulu, hanya dirinya yang selalu menghapus air mata Gita, hanya ia yang selalu ada di sisinya disaat-saat terberat dalam hidup Gita.


Ia hanya mengepal tangannya dan meninju kaca mobil, untung saja itu mobil mewah jadi kacanya pun tidak mudah pecah walaupun sudah di tinju keras olehnya.


Rico yang melihat itu pun tersentak dan refleks bertanya, "Tuan, Anda tidak apa-apa?" sungguh pertanyaan yang bodoh, sudah tahu tuannya sedang tidak baik-baik saja, ia malah bertanya seperti itu.


"Diam kamu! Jalan sekarang!" sentak Zico membuat Rico segera bersiap melajukan mobilnya tanpa menjawab sepatah kata pun, karena terkejut oleh sentakan Zico. Karena selama ini Zico tidak pernah menyentaknya sama sekali, walaupun dirinya membuat kesalahan Zico tidak pernah menyentak karyawannya. Hanya dengan kata-kata tegas dan tatapan tajamnya saja, sudah membuat karyawannya merasa terintimidasi.


Di saat Rico melajukan mobilnya dan melewati Gita, Gita pun melihat dari kaca depan kalau orang yang menyetir mobil yang sedang melewatinya itu adalah orang yang tadi mendampingi Zico, berarti di dalam mobil itu ada Zico, dan Zico pasti sudah melihat interaksinya dengan Kenzo tadi.


Menyadari itu Gita pun segera masuk ke dalam mobil Kenzo dan menangis terisak.


Kenzo pun ikut masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya setelah memasang sabuk pengamannya.


Ia tak berani bertanya pada Gita lagi, karena ia pun sadar diri, walaupun selama 6 tahun ini ia selalu berada di sisinya, tapi ia tak pernah bisa menghibur Gita seperti apa yang selalu Zico lakukan dulu kepada Gita.


***

__ADS_1


"Sayang, bangun yuk, Nak," Gita membangunkan Zayn yang sedang tertidur di mobil Kenzo, sedangkan Zefa sudah di gendongan Kenzo masih dalam keadaan tertidur, karena Zefa akan rewel jika dibangunkan dalam keadaan mengantuk, apalagi ia sedang kelelahan setelah bermain di mall tadi.


"Eumm? Iya, Mom," sahut Zayn bangkit dari tidurnya dan turun dari mobil Kenzo, ia berjalan dengan langkah gontai karena masih mengantuk, karena tak tega, akhirnya Gita pun menggendongnya naik ke apartemennya.


Setelah menidurkan Zayn dan Zefa di kamar tidurnya, Kenzo pun pamit untuk pulang. Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin di tanyakan Kenzo pada Gita, tapi ia tahu betul Gita tidak akan mau bercerita padanya. Gita selalu tertutup pada Kenzo walaupun Kenzo selalu ada di sisinya.


Setelah Kenzo pulang, Yolla datang ke apartemen Gita karena masih merasa rindu pada anak-anak Gita.


Ketika Yolla masuk ke apartemen Gita, ia mendengar suara Gita sedang terisak di dalam kamarnya, Yolla pun masuk mengetuk pintu kamar Gita.


Tok... Tok... Tok...


"Git! Gue boleh masuk?" tanya Yolla.


"Iya, La. Masuk aja," sahut Gita sambil menyeka air mata yg mengalir di wajahnya.


Ceklek...


Yolla pun membuka pintunya setelah dipersilahkan oleh sang empunya.


"Git, lo kenapa? Lo lagi ingat dia lagi? Bukannya besok lo mau ketemu sama dia? Harusnya lo seneng, dong. Masa malah nangis," tutur Yolla.


"Gue ... gue tadi ketemu dia, La," lirih Gita terisak lagi.


"Dia ... dia berubah, La. Dia ketus banget sama gue, dia bilang dia bersyukur karena Priscilla udah menjebaknya, jadi dia bisa tau sifat asli gue yang sebenernya. Gue nggak ngerti kenapa dia bisa ngomong kayak gitu, La."


"Kok bisa ya Zico ngomong begitu?"


Gita hanya menggeleng lemah.


"Kayaknya besok lo tetep harus ketemu dia deh, Git. Mungkin ada misunderstanding di antara kalian. Lebih baik sekarang lo telpon Sean minta tolong supaya lo bisa ketemu sama Zico," titah Yolla.


"Dia nggak akan mungkin mau nemuin gue, La."


"Ya lo bilang sama Sean supaya jangan bilang Zico kalo yang mau ketemu dia itu lo."


Gita hanya membisu dengan air matanya yang terus mengalir deras.


"Sini Hp lo, biar gue aja yang telpon Sean."

__ADS_1


Yolla mengambil ponsel Gita dan menelpon Sean untuk meminta bantuannya agar bisa mempertemukan Gita dengan Zico.


***


Siang hari di Restoran Riccio tempat Zico dan Gita selalu dinner di sana dulu.


Ya, Sean sengaja mengajak Zico ke sana atas permintaan Gita. Namun Sean membohonginya dengan alasan ada klien yang minta bertemu di restoran itu.


30 menit sudah Zico dan Sean menunggu di sana, tapi Gita tak kunjung tiba.


"Sean, kenapa lama banget Tuan Bram datang? Mungkin dia membatalkan pertemuan ini tapi lo nya yang nggak angkat telpon dari sekretarisnya itu," duga Zico, karena sekretaris tuan Bram itu memang naksir berat pada Sean, tapi Sean tidak pernah menggubrisnya karena sekretaris itu sangat agresif dan kecentilan. Sering kali Sean mengabaikan panggilannya walaupun itu adalah untuk hal pekerjaan. Sampai sekretarisnya itu menghubungi Zico langsung karena Sean tak kunjung menjawab panggilannya.


"Enggak, Zi. Tadi gue udah telpon katanya lagi kena macet, udah sih sabar aja," kilah Sean dengan wajahnya yang terlihat risau, padahal dari tadi saja Zico tak melihatnya menelpon siapapun.


Ini semua membuat Zico curiga pada Sean.


"Sean, lo lagi bohong kan sama gue?"


"Hah? Bo ... bohong? Bohong apa? Eng ... enggak kok, gue nggak bohong apa-apa," Sean berkilah lagi.


"Halah, lo aja udah gagap begitu ngomongnya! Jangan-jangan kemarin lo juga bohongin gue, ya? Sebenernya lo tau kan kalo Gita itu udah balik?" desak Zico dengan tatapan dinginnya.


"Hah? Eng-enggak, kok," wajah Sean semakin gugup, daun telinganya pun sampai memerah.


"Lo mau nemuin gue sama dia 'kan?" selidik Zico memicingkan matanya pada Sean.


"Kan lo sendiri yang kemaren udah keliatan gak sabar banget mau ketemu dia."


Zico seketika bangkit dari kursi yang didudukinya. "Gue balik ke kantor aja, gue nggak ada waktu buat nemuin dia!"


"Tapi, Zi. Lo harus dengerin penjelasan dia dulu, Zi. Lo pasti seneng kalo lo tau dia ...,"


Belum selesai Sean mengucapkan kalimatnya, Zico berdecih, "Cih ... seneng? Gue harus seneng saat dia married sama sahabat gue sendiri? Sedangkan gue selama 6 tahun ini udah nunggu dia, tapi apa? Dia semudah itu pindah ke lain hati!"


"Zi, ini nggak seperti yang lo pikir, Zi!"


"Stop, Sean!" sentak Zico menunjuk wajah Sean dengan jari telunjuknya. "Gue nggak mau denger lagi tentang dia! Jangan pernah lo bahas dia lagi depan gue kalo lo nggak mau gue pecat!"


"Tapi, Zi. Lo salah paham! Dia sama Ke...,"

__ADS_1


"STOP, SEAN! STOP!!! Gue bilang gue nggak mau denger tentang dia! Dia itu nggak ada bedanya sama Priscilla! Sama jalangnya!"


PLAKKK!!!


__ADS_2