
Gita sebenarnya menolak untuk mengadakan pesta resepsi pernikahannya dengan Zico. Namun, karena daddy Austin dan mommy Celine harus mengundang relasi bisnisnya, jadi mau tidak mau Gita menuruti apa kata kedua mertuanya. Dan, mungkin salah satu faktor penyebabnya adalah karena tidak adanya keluarga yang di miliki Gita. Adapun adik dari sang ibu, namun ia tidak memiliki hubungan yang begitu dekat karena ketidak akrabannya dengan sepupunya, yakni, Viola.
"Aryo Adhinata? Memangnya ada klien kita yang bernama Aryo Adhinata, Zi?" tanya daddy Austin yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka. Dan ternyata beliau telah mendengar percakapan mereka sejak awal.
"Ini project baru Zico yang sempat tertunda karena Zico kecelakaan waktu itu, Dad. Dia hanya mau bertemu dengan Zico, makanya Zico baru bertemu dia lagi hari ini untuk membicarakan project di cabang Bali. Beliau adalah salah satu pengusaha yang tertarik untuk jadi investor kita. Eh taunya, ternyata dia Om yang selama ini dicari Gita," jelas Zico.
"Oh, begitu! Berarti dia Om dari ayahmu?" tanya daddy Austin pada Gita.
"Iya, Dad. Om Aryo itu sepupunya ayah," jawab Gita tersenyum.
"Syukurlah, ternyata masih ada keluarga David yang lain," ucap daddy Austin.
"Iya, Dad."
Kemudian mereka pun membahas tentang kasus malpraktek ayah Gita. Ternyata sudah ada titik terang mengenai kasus itu. Mereka hanya perlu menambahkan bukti tambahan untuk memperkuat bukti-bukti yang ada di pengadilan. Karena mereka akan menggugatnya di pengadilan agar nama David Adhinata bersih kembali.
***
Di tempat lain di depan kantor polisi, Sean dan Yolla telah selesai melaporkan kasus pelecehan Mike terhadapnya yang terjadi tadi malam. Namun sayang, Mike sudah terbang ke Paris jam 10 pagi tadi. Namun, kepolisian akan membuat larangan untuk Mike kembali lagi ke Indonesia.
Sean pun bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari petugas kepolisian.
Saat ini mereka berada di mobil Sean yang berada di halaman parkir kantor polisi.
"Honey, kamu nggak akan balik ke Paris, kan?" tanya Sean menghadapkan dirinya dan menatap pada sang kekasih.
"Enggak kok, Han. Aku udah mulai desain brand baru sesuai rancangan aku sendiri, dan papa aku udah setuju, jadi udah nggak ada alasan lagi aku untuk balik ke sana, Han," terang Yolla sembari membelai pipi Sean.
"Oh! Syukurlah ... terus kapan papa mama kamu balik?"
"Tau tuh, aku kesal sama mereka, bilangnya cuma dua bulan, ini udah tiga bulan malah belum balik-balik, heran," gerutu Yolla.
"Sabar, Honey. Kan ada aku. Mulai sekarang kamu harus denger perkataan aku, ya? Jangan sampai hal seperti tadi malam terjadi lagi," tutur Sean.
"Iya, Han. Maaf, ya. Aku beneran nyesel banget deh kemarin udah ngeyel sama kamu," ucap Yolla kemudian memeluk Sean. Sean pun mengecup pucuk kepalanya.
"Ya udah, sekarang kita sekalian makan di luar, yuk?" ajak Sean saat melepaskan pelukan Yolla.
"Han, gimana kalo kita nonton dulu? Lagi ada film bagus nih, aku pengen banget nonton film itu," rengek Yolla manja.
__ADS_1
"Okay!" sahut Sean kemudian mengecup bibir Yolla sekilas. Namun, saat Sean melepaskannya, Yolla menarik kerah bajunya dan menyambar bibir Sean dan menyesap bibir itu begitu lembut. Dan tentu saja Sean pun membalasnya, ia sangat merindukan bibir tipis Yolla yang selalu terasa manis baginya. Saat mulai kehabisan nafas Yolla melepaskan bibirnya yang saling bertaut. Sean pun mengecup kening Yolla setelahnya.
"Han, aku sayang banget sama kamu," ucap Yolla manja memeluk Sean lagi.
"Me too. I Love You, cantik," jawab Sean kemudian mengecup kening Yolla lagi.
Yolla tersenyum dan melepaskan pelukannya.
Sean mulai melajukan mobilnya menuju bioskop seperti yang Yolla mau. Yolla sangat hobi menonton film di bioskop, dulu ia sering sekali ke bioskop bersama Gita. Namun, kali ini Yolla ingin sekali merasakan rasanya menonton film bersama sang kekasih.
Saat tiba di tempat tujuan mereka, mereka pun bergandengan di dalam mall begitu mesra.
Setelah selesai menonton, Sean mengajak Yolla ke restoran yang sudah di dekor begitu romantis. Yolla begitu takjub saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu, dan di tempat itu hanya ada ia berdua dengan sang kekasih, Sean. Sepertinya Sean sudah memesan tempat ini khusus untuk mereka berdua.
"Han, kok cuma ada kita berdua? Kamu booking tempat ini?" tanya Yolla mendongakkan wajahnya menatap Sean.
"Iya, Sayang," jawab Sean tersenyum.
"Iisssh, kamu! Buang-buang uang aja sih, Han."
"Tenang aja, kan ada Zico, sponsor aku," ucap Sean terkekeh.
"Jadi ini di sponsorin Zico?"
"Wah! Iya, 'kah? Hebat pacar aku," ucap Yolla tersenyum bangga memeluk sang kekasih.
Tadi saat di toilet sebelum masuk ke bioskop bersama Yolla, Sean menelpon manager restoran miliknya dan juga Zico itu, meminta untuk mengosongkan restoran itu dan mempersiapkan sebuah dekorasi yang romantis untuknya dan juga Yolla.
Saat tiba di meja yang telah dipersiapkan untuk mereka berdua oleh para pelayan restoran itu, Sean menarik kursi untuk Yolla, kemudian ia pun duduk di kursi depan Yolla.
Para pelayan pun mulai meletakkan dua porsi steak di meja mereka, Sean mengambil piring Yolla kemudian memotongkan steak nya untuk Yolla dan memberikannya lagi pada Yolla. Yolla tersenyum mendapat perhatian manis seperti itu dari Sean, ia benar-benar merasa seperti pemeran utama di dalam drama korea romantis yang biasa ia tonton.
"Kamu sweet banget sih, Han. Makin cinta aku sama kamu," ucap Yolla dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
"Bagus kalo gitu, rencana aku berhasil berarti," sahut Sean.
"Rencana? Rencana apa maksudnya?"
"Ya rencana untuk membuat kamu makin cinta sama aku," goda Sean tersenyum membuat Yolla tersipu malu, pipinya memerah seperti tomat.
__ADS_1
Yolla pun mulai menyantap makanannya, ia benar-benar sangat bahagia hari ini. Setelah mereka menghabiskan steak nya, para pelayan pun membawakan makanan penutup untuk mereka.
Yolla yang sangat menyukai makanan manis pun segera menyantapnya, setelah melihat Yolla sudah mengabiskan makanan penutupnya, Sean pun berjalan ke arahnya dan berdiri di belakang Yolla, kemudian menutup mata Yolla dengan kedua tangannya.
"Han. Ini ada apa? Kok pake tutup mata aku segala?" tanya Yolla bingung sambil memegang kedua tangan Sean. Namun, Sean tak menjawabnya, ia menuntun Yolla agar berdiri dan membalikkan tubuhnya.
"Aku buka sekarang ya, Sayang. Satu ... dua ... tiga!" Sean pun melepas tangannya dari mata Yolla setelah ia selesai menghitung.
Saat Yolla membuka matanya, terpampang lah sebuah banner bertuliskan 'Will you marry me?'.
Yolla terperangah di buatnya, ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti itu.
Ia pun menoleh ke belakang menatap Sean. "Ini maksudnya apa, Han?" tanya Yolla memastikan, walaupun ia sangat tahu maksud dari Sean, namun ia bertanya hal demikian karena refleks akan keterkejutannya.
Sean pun berpindah tempat mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna navy kemudian membuka kotak yang berisi cincin yang bermatakan berlian berwarna putih, yang terlihat sangat manis. Ia pun berlutut di hadapan Yolla.
"Honey, aku cinta banget sama kamu, kamu itu segalanya buat aku, aku nggak bisa kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kalinya, Sayang. Aku janji aku akan menerima segala kekuranganmu, aku akan selalu mencintai kamu dan anak-anak kita kelak, sampai rambut kita memutih dan kita menua bersama. Apa kamu mau menikah denganku, Sayang?"
Yolla menutup mulutnya yang terbuka lebar membentuk seperti huruf O, ia tidak menyangka jika Sean akan melamarnya secepat ini. Air matanya pun bergulir di wajah cantiknya, dan Yolla malah kembali duduk di kursinya dan meninggalkan Sean yang sedang berlutut.
Sean pun bangkit dan kembali berlutut di sebelah kursi yang Yolla duduki.
"Honey, kamu kenapa? Kamu nggak mau, ya?" ucap Sean dengan netranya yang mengembun.
"Han, kamu tau kan apa yang aku lalui kemarin malam? Apa kamu nggak jijik sama aku?" Yolla malah bertanya balik sambil terisak. Sean berpikir Yolla sudah melupakannya karena seharian ini Yolla terlihat sangat bahagia ketika kencan dengannya. Namun, ternyata pelecehan itu membuat seseorang yang mengalaminya menjadi sangat trauma akan apa yang telah dilaluinya.
"Honey, kan aku udah bilang, aku mencintai kamu dengan segala kekurangan kamu, apa lagi kejadian kemarin kan bukan kesalahan kamu, dia yang udah kurang ajar berani nyentuh kamu. Aku nggak bisa kehilangan kamu lagi, Sayang. Aku sayang banget sama kamu, aku cuma mau menikah sama kamu. Please? Mau ya terima aku?" ucap Sean lagi dengan tatapan penuh harap dan netranya yang mengembun.
"Sayang, mau, 'kan?" tanyanya lagi.
Yolla menganggukkan kepalanya sambil terisak, Sean pun tersenyum dan memeluknya seketika.
"Makasih, Sayang," ucap Sean kemudian mencium kening Yolla begitu mesra.
Sean berlutut kembali di hadapan Yolla yang masih duduk di kursinya, kemudian mulai menyematkan cincin ke jari manis Yolla.
"Nanti kalo mama papa kamu udah pulang, aku ajak ayah sama bunda aku ke rumah kamu, ya? Aku lamar kamu lagi di depan orang tua kamu," ucap Sean dengan sebelah tangannya membelai punggung tangan sang kekasih, dan tangan lainnya menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Yolla.
Yolla benar-benar merasa sangat bahagia hari ini, ia merasa hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Ia sangat tak sabar untuk mengatakannya pada kedua orang tuanya. Ya walaupun ia yakin kalau kedua orang tuanya pasti akan sangat terkejut karena yang ingin menikah dengannya bukanlah Mike, tapi ... Sean.
__ADS_1
Sean pun merasakan kebahagiaan yang sama, ia tak menyangka jika dirinya benar-benar berhasil mendapatkan cinta dari Yolla. Dulu ia merasa insecure pada dirinya sendiri, bahkan ia mengira dulu Yolla menolaknya karena ia bukanlah anak dari seorang pengusaha seperti Yolla, sampai ia sempat membenci Yolla karena hal itu.
"Makasih, Sayang," ucap Yolla yang bersyukur Sean telah memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya.