
Menyatakan cinta sama saja bertaruh, Kau mendapatkannya atau kau akan kehilangan segalanya.
Itulah yang menjadikan Sean tidak pernah menyadari perasaannya pada Giselle, karena apa yang telah terjadi dengan hubungannya dan Yolla menjadikan trauma tersendiri bagi dirinya, ia tidak ingin hubungannya jadi menjauh dengan Giselle seperti hubungannya dan Yolla.
Saat ini Giselle masih belum sadarkan diri, tapi dr. Eric sudah mengizinkannya untuk dibesuk sesuai dengan jam besuk yang telah di tetapkan oleh rumah sakit.
Gita dan Nadhira yang tak tega melihat Sean tadi sampai menangis terisak dipelukan Zico dan Alex pun meminta Sean untuk masuk lebih dulu.
Sean duduk di kursi samping brankar, ia genggam tangan Giselle sembari mengelus pipi chubby nya yang selama ini sering ia cubit saat merasa gemas padanya, sekarang pipinya sudah berubah menjadi tirus, tidak chubby lagi seperti biasanya.
"Pipi kamu sampai hilang gini Sel... Kamu cepat sadar ya Sel, ada banyak hal yang mau aku bicarakan sama kamu," lirih Sean.
Gita yang memperhatikan perlakuan Sean pada Giselle pun bergumam dalam batinnya, 'La, sepertinya lo udah kehilangan kesempatan La untuk memperbaiki semuanya sama Sean, dia udah cinta sama Giselle La, bukan lo lagi.'
Gita menitihkan air matanya, entah air mata apa yang mengalir di pipinya kini, entah air mata kesedihan atau kebahagiaan.
Di satu sisi dia senang melihat Giselle sudah mendapatkan cinta Sean yang selama ini selalu Giselle harapkan, tapi di sisi lain Gita juga merasa sedih karena Yolla telah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Sean, karena belum lama ini saat Yolla menelponnya Yolla berbicara pada Gita bahwa saat liburan nanti Yolla akan pulang dan mengungkapkan perasaannya pada Sean.
Tak terbayang oleh Gita, bagaimana perasaan Yolla setelah pulang nanti saat mengetahui hubungan Sean dengan Giselle.
Zico yang sedang duduk berbincang dengan Alex pun mendengar suara Gita yang sedang menahan tangisnya itu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zico sembari menyeka air matanya.
"Aku ... Aku ..." Gita tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, sekarang ia menangis terisak di pelukan Zico.
Nadhira yang melihat Gita menangis pun menghampirinya, mengusap punggung Gita, ia berpikir Gita menangis karena Giselle yang masih belum sadarkan diri.
"Git, udah ya, kita berdo'a aja yang terbaik untuk kesembuhan Giselle, dia pasti sedih kalau melihat kita terus menangisinya." Tutur Nadhira mencoba menenangkan Gita, padahal air matanya sendiripun mengalir terus seolah lupa bagaimana caranya berhenti mengalir.
Di dalam ruang ICU...
Giselle perlahan membuka matanya, netranya memandang ke langit-langit ruangan itu, dan menyadari kalau hidungnya telah dipasangi selang oksigen, tapi ia pejamkan lagi matanya karena masih merasakan pusing pada saat membuka matanya, jadi ia belum menyadari siapa yang ada di sampingnya kini, ia kira itu Gita, karena yang sering menemaninya selama ini hanya Gita, karena Nadhira pun jarang menemani Giselle karena sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.
"Git ..." Lirih Giselle.
Sean memilih tak menjawab, ia hanya menggenggam tangan Giselle dengan erat bahkan menciumi punggung tangan Giselle.
"Giselle yang merasa aneh kalau tangannya sedang dikecup pun membuka kembali matanya dan menatap sosok yang ada disampingnya itu.
Air matanya pun mengalir dari sudut matanya, ia telah menyadari bahwa Sean sudah mengetahui tentang penyakitnya ini.
Ia yakin kalau Sean di sini menemaninya hanya karena rasa iba akan kondisinya saat ini.
Giselle menjauhkan tangannya dari Sean, ia pun memalingkan wajahnya ke arah lain dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.
__ADS_1
"Sel... Kamu mau aku panggilkan Gita?" tanya Sean mengelus lengan Giselle.
"Emmm..." Jawab Giselle tanpa menoleh.
"Ya udah aku panggil Gita, ya," Ucap Sean berdiri dan membelai rambut Giselle.
Sean pun beranjak keluar ruangan memanggil Gita.
"Git, Giselle nyariin, lo," Ucap Sean terlihat murung.
"Giselle udah sadar?!" ucap Gita dan Nadhira bersamaan, mereka merasa tenang mendengar sahabatnya itu sudah sadar.
"Iya, tapi dia nyari lo, bukan gue.
," sahut Sean duduk di kursi tunggu sembari meremas rambutnya.
"Ya udah gue duluan ya Nad ke dalam, nanti kita gantian." ucap Gita pada Nadhira.
Nadhira tersenyum menganggukkan kepalanya.
Zico dan Alex melihat wajah Sean seperti orang frustasi, mereka menghampirinya.
"Kenapa, lo?" tanya Alex.
"Giselle sepertinya gak mau ketemu gue, dia tadi bahkan buang muka saat tau gue ada disampingnya." keluh Sean mengusap kasar wajahnya.
"Tau!!! Masa baru di cuekin gitu doang udah nyerah! Apa kabarnya Giselle yang selama ini sering lo abaikan perhatiannya!" ketus Nadhira menyindir Sean sambil menyilangkan lengan di depan dadanya.
"Beib!" Alex menegur Nadhira dengan tatapan tajamnya.
Mendengar itu pun Sean tambah merasa bersalah, ia menjambak rambutnya kesal pada dirinya sendiri, "Aaargghh!"
"Udah, lo yang tenang, jangan kaya gini, kita ke cafe bawah aja dulu, yuk." Ajak Alex.
"Nggak, Lex! Gue mau tunggu Giselle di sini aja, kali aja nanti Giselle mau ketemu sama gue lagi." Tutur Sean menolak ajakan sahabatnya itu.
"Ya udah, nanti gue bawain minuman kesukaan lo aja ya, gue ke bawah dulu sama Nadhira." Seru Alex menggandeng Nadhira. "Oya Zi, lo mau nitip apa?" tawar Alex.
"Enggak usah, Lex, nanti gue nyusul aja sama Gita." sahut Zico.
"Oh, Okay!" Sahut Alex pula.
Di dalam ruang ICU..
"Sel..." Sapa Gita memegang tangan Giselle.
__ADS_1
Giselle tidak menjawab, ia langsung to the point saja menanyakannya pada Gita.
"Git, kamu... kasih tau Sean ya? Kok dia bisa ada di sini?" tanya Giselle dengan suaranya yang masih lemah.
"Nggak kok, Sel, bukan kita yang sengaja kasih tau dia, tapi tadi itu Sean datang ke tempat kost nyari kamu, terus dia minta tolong Nadhira untuk panggil kamu, tapi saat Nadhira masuk kamar kamu, kamu gak merespon, akhirnya Nadhira gak ada pilihan lain, Sel. Dia panggil Sean untuk bawa kamu ke sini." Imbuhnya. Ia melanjutkan, "Tapi Sel, sepertinya dia memang udah tau deh sebelumnya, sepertinya dia memang udah cari tau tentang kamu." Terang Gita.
"Hah? Gimana bisa, Git?" tanya Giselle tak mengerti.
"Entahlah." Gita mengangkat bahunya.
"Oya, Sel, dr. Eric kemarin marah sama aku, dia meminta aku menghubungi orang tua kamu, jadi... Maaf ya, Sel, aku telpon orang tua kamu dari HP kamu." Ucap Gita menundukkan pandangannya.
Giselle hanya menghela nafas dengan berat, ia sudah pasrah walaupun orang tuanya pasti akan membawanya pulang ke kampung halamannya.
Sedangkan tentang Sean, ia sudah tak mengerti bagaimana ia akan bersikap pada Sean.
"Sel, Aku rasa Sean udah sadar tentang perasaannya ke kamu deh... Soalnya, tadi dia sampai nangis Sel melihat kamu terbaring disini... Kamu jangan tolak kehadiran dia di sini ya, Sel? Kasian, dia." Tutur Gita.
Giselle hanya diam saja tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Flashback On
Saat selesai menjalani HD dan Gita mengantarkan Giselle ke kamar Kost nya, Gita berpamitan pada Giselle untuk mengambil buku dan beberapa barang di Asramanya, tapi saat Gita pergi Giselle menemukan selembar kertas yang tergeletak di lantai kamarnya. Kertas putih itu dalam keadaan terbalik, hanya bertuliskan 'Gita & Yolla' saja, karena rasa penasaran Giselle akan apa yang ada di balik kertas itu, ia pun membalikkan kertas itu, Giselle tersentak melihat foto gadis yang sedang saling berpelukan dengan Gita, keduanya sedang memakai seragam SMA.
Gadis ini adalah gadis yang sama seperti yang ada di wallpaper ponsel Sean saat pertama kali dirinya bertemu dengan Sean.
"Ternyata, cewek yang di Hp Sean itu Yolla? Yolla sahabatnya Gita?" gumam Giselle sembari menatap foto itu.
"Jadi ini alasan Gita selalu ketus pada Sean? Ini juga alasan Gita gak pernah mau kasih lihat foto Yolla sama aku dan Nadhira?"
Setelah mengetahui semua kenyataan itu, ia lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu saja, perasaannya pada Sean pun akan ia kubur dalam-dalam, ia tak ingin menjadi pengganggu hubungan Yolla dan Sean, walaupun hanya sebatas lewat telpon, tapi ia cukup mengenal sosok Yolla yang menurutnya sangat ramah dan tulus, apalagi Yolla adalah anak seorang pengusaha dan calon designer pula, ia merasa sama sekali tak sepadan dengan Yolla, itulah yang ada di benak Giselle.
Flashback Off
"Sel... Aku keluar dulu ya, aku minta Sean ke sini ya Sel? Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan sama kamu katanya."
Giselle menggelengkan lemah kepalanya.
"Sel, ayolah, Sel. Kasian Sean, Sel." Bujuk Gita lagi.
"Git ... Keadaan aku memburuk kan, Git?" tanya Giselle.
Degh!
Gita tersentak mendengar pertanyaan Giselle, ia tak tahu harus menjawab apa, Gita hanya diam menundukkan pandangannya dengan tangan yang masih memegang tangan Giselle.
__ADS_1
"Kamu tau sendiri kan, Git? Kalau kondisi aku ini bertambah buruk ... Lalu bagaimana dengan Sean saat aku pergi nanti, Git?"
BERSAMBUNG...