First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Pernyataan


__ADS_3

***


Keesokan harinya Zico menjemput Gita didepan apartemennya, Zico menurunkan Gita di halte bus dekat sekolah seperti yang Gita mau.


Mereka sekolah seperti biasa belajar di kelas masing-masing. Sampai Bell pulang berdering.


 


Triiriiing… Triiriiing… Triiriiing…


Zico menunggu didepan kelas Gita, seperti biasa, Zico bersandar pada dinding sambil memasukkan tangannya ke saku celana, dengan posisi telapak kaki yang kiri bertumpu pada dinding.


Gita dan Yolla pun keluar dari kelasnya.


“Eh ada Zico.” Yolla menggoda Gita.


“Gita, kita ngedate yuk! Kamu ada waktu kan?” Ajak Zico tiba-tiba dengan nada serius.


“Woaaaaah Daebakkk… cepat sekali progress kalian, baru kemarin diem-dieman, Hahahaha. ” Seru Yolla tertawa lepas.


“What’s? Nge.. ngedate? sama aku?” Jawab Gita dengan tidak percaya diri sambil menundukkan pandangannya, ia seolah lupa kalau kemarin pun sebenernya ia dan Zico sama saja seperti ngedate, walaupun karena dibohongi oleh Yolla.


“Yups,, ngedate.” Sahut Zico dengan senyumnya yang selalu menggoyahkan iman.


“Uhukkk..Uhukkk.. “ Yolla berpura-pura batuk sambil tertawa.


“Emang mau kemana? Yolla ikut kan?” Tanya Gita dengan polosnya.


“Aduh Gitaaaa...! Mana ada ngedate bertiga coba? Dimana-mana ngedate tuh ya berdua, Ck... aneh banget sih lo!” Yolla merasa gemas pada sahabatnya itu, kalau masalah pelajaran jenius, tapi soal pacaran Gita sungguh lemot.


Zico hanya tersenyum memandangi Gita.


“Lo ikut aja ya La? Please??” Ajak Gita memelas.


“Eh! Gue nggak bisa Git! Gue ada… ada les piano, ya gue ada les piano, gue pulang duluan ya Git.. bye….. ”  Yolla menjawab dengan cepat dan bergegas pergi. ‘Gita Gita, lo tuh oon banget sih, Zico kan ngajak ngedate, mana ada ngedate bertiga, yang ada gue jadi obat nyamuk doang, Gue kasih kesempatan tuh supaya kalian bisa berduaan lagi.’ Kekeh Yolla dalam hatinya dan tersenyum licik.


“La! Sejak kapan lo les pi…” belum selesai bertanya Yolla sudah menoleh ke arah Gita dan berteriak sambil berjalan mundur melambaikan tangan.


“Sejak hari ini Git!” Teriak Yolla.

__ADS_1


‘Hmmm Yolla benar-benar deh, sejak kapan dia les piano? Dia sendiri yang bilang dia benci kalau Mamanya membujuknya untuk les piano, pasti dia sengaja biar gue nggak bisa nolak permintaan Zico.’ Gerutu Gita dalam benaknya.


“Git.. gimana? Kamu nggak keberatan kan kalau kita jalan lagi seperti kemarin?” Tanya Zico dengan lembut.


“Mmm.. Okay!” Gita menjawab sambil mengangguk, wajahnya terus melihat kebawah tidak berani menatap Zico, karna dia takut hatinya akan meledak bila menatap mata Zico.


Zico itu benar-benar tampan, kulit putih, hidung mancung, bibir tipis, alisnya tebal dan rapi, pokoknya tipe ideal para wanita, membuat wanita mabuk kepayang. Wajar saja kalau Gita selalu gugup saat berhadapan dengannya.


“Kamu tunggu disini ya, aku ambil mobil dulu.” Pinta Zico.


Saat Zico hendak pergi ke tempat parkir, Gita segera menarik ujung baju Zico, “Zi, Aku ikut kamu aja ya, aku malu kalau berdiri sendirian disini.” Sejujurnya Gita takut akan menarik perhatian banyak orang kalau Zico dengan mobil mewahnya berhenti dihadapannya.


“Okay, baiklah, Ayo!” Zico segera menggenggam tangan Gita dan menariknya ke tempat dia memarkirkan mobilnya.


Gita sangat terkejut, tangannya seketika merasakan kehangatan saat tangannya yang dingin karna gugup itu digenggam oleh Zico, dia berjalan mengikuti Zico sambil melihat terus ke tangannya yang sedang digenggam Zico dan tanpa disadari dia tersenyum.


Mereka pun naik ke mobil Aston Martin Vantage milik Zico.


Mereka pergi ke sebuah restoran Italia dengan suasana romantis, restoran ini berbeda dari yang kemarin, direstoran ini hanya yang membookingnya dari jauh-jauh hari saja lah yang bisa makan di sini, tapi Zico baru datang saja langsung dilayani, karna restoran ini termasuk salah satu restoran milik Daddy nya dan dikelola oleh sahabatnya yang memang asli orang italia, Zico dan keluarganya atau teman-temannya sering sekali makan ditempat ini, sehingga manager restoran ini sudah mengenal Zico.


Saat mereka tiba, pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan mengantarnya ke ruangan khusus keluarga Zico ketika makan disini, “Silahkan Tuan.”


“Kamu mau makan apa Git?” Tanya Zico dengan lembut.


“Terserah kamu aja.” Jawab Gita dengan malu malu.


“Baiklah.” Jawab Zico.


Zico pun segera memesan 2 tenderloin steak beserta orange jus sebagai minumannya.


Zico memegang sambil mengelus dagu Gita dan mengangkatnya dengan senyuman, “Kamu kenapa melihat kebawah terus? kamu nggak nyaman?”


“Eng.. enggak kok, Aku hanya.. malu. “jawab Gita menunduk lagi.


Lalu Zico memegang tangan Gita, jantung Gita berdebar sangat cepat seperti mau meledak setiap Zico memegang tangannya.


“Gita, Maaf ya kalau menurut kamu ini terlalu cepat.”


“Terlalu cepat? Maksudnya?” Tanya Gita bingung.

__ADS_1


“Sejujurnya aku juga nggak ada persiapan apa-apa buat ngomong hal ini, tapi aku enggak bisa menahannya lagi Git, aku takut kamu jauhin aku lagi seperti kemarin.” Imbuh Zico.


Gita menyatukan alisnya menatap Zico.


“Mmmmmm… Gita… Aku sayang sama kamu.” Ungkap Zico dengan nada lembut.


“Hah? A... Aku?” Gita membelalakkan matanya, menatap Zico sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Iya kamu! Emang di ruangan ini ada orang lain selain kita?” Zico tersenyum lembut dan melanjutkan, “Kamu mau enggak Git jadi pacar aku?”


Sekali lagi Gita terkejut sampai tersedak saliva nya sendiri dan terbatuk-batuk, “Uhuuukk.. Uhukkkk..”  


Zico segera ke luar ruangan itu mencari air mineral, dengan sigap pelayan pun memberikan satu botol air mineral kepada Zico.


“Ini Git, minum.” Zico membukakan tutup botol nya dan memberikannya pada Gita, ia menarik kursinya sehingga berdekatan dengan Gita.


ia benar-benar sangat kikuk sekarang.


Zico yang melihat reaksi Gita seperti itu jadi merasa tidak enak, ia pun melanjutkan menenangkan Gita agar Gita tidak merasa canggung dengannya.


“Enggak perlu dijawab sekarang kok Git, yang penting aku udah ungkapin perasaan aku, kamu mau jawab kapan aja terserah kamu.”  Zico mengatakannya dengan tersenyum lembut sambil memegang tangan Gita mengelus punggung tangan Gita dengan ibu jarinya.


“Mmmm.. Baiklah.” Jawab Gita menundukkan pandangannya.


Pelayan tiba membawakan makanan dan minuman yang mereka pesan.


“Ayoo dimakan Git.” Zico melengkungkan bibirnya dengan senyuman.


“Ya.. Kamu juga Zico.” Jawab Gita tersenyum dan mulai hilang gugupnya. Zico pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Zico mengiris steak nya, menjadi potongan kecil-kecil agar mudah masuk ke mulut.


Lantas ia menukar piringnya dengan piring Gita.


“Ini Git, makan yang ini aja.”


“Oh? iya… Makasih Zico.” Ia tersenyum, ia merasa semakin nyaman dengan Zico, menurutnya perlakuan Zico sangat manis padanya.


Bukannya menyantap makanannya, Gita malah melamun.

__ADS_1


‘Zico kamu selalu baik sama aku, gimana aku bisa nolak kamu? Dan kalaupun aku balas perasaan kamu dan kita pacaran, apa kamu pantas buat aku? Kamu terlalu sempurna untuk aku Zico.’ Batin Gita.


__ADS_2