First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kenangan Manis


__ADS_3

"Mmm ... sebenernya sih sejak awal aku liat kamu pun aku sempet terpesona sama muka kamu ini,"  ucap Gita tersenyum sambil menangkup wajah Zico dengan kedua tangannya.


"Kok pakai kata sempet?" tanya Zico menyatukan alisnya.


"Ya karena aku sempet ilang feeling juga sama kamu, karena aku pernah liat kamu mengabaikan salah satu cewek di sekolah yang pingsan di depan kamu. Tapi kamu malah pergi begitu aja, nggak ada sama sekali kamu bantu dia ke UKS. Bahkan melirik pun enggak. Aku nggak suka sama sikap dingin dan sikap nggak peduli kamu sama orang-orang di sekitar kamu kayak gitu," terang Gita.


Zico mengernyitkan dahi sambil berpikir, mengingat apa kejadian yang diceritakan Gita. Ia pun akhirnya mengingat kejadian itu.


"Ya ampun, Sayang. Kamu tuh naif banget sih. Cewek itu tuh cuma pura-pura pingsan depan aku karena cari perhatian aku. Aku benci sama cewek kayak gitu. Makanya aku tinggal," terang Zico.


"Kamu tau dari mana kalo dia cuma pura-pura?" tanya Gita memicingkan matanya.


"Ya mana ada orang nggak pucat terus tiba-tiba pingsan."


"Terus kenapa kalo waktu aku pingsan kamu yakin kalo aku pingsan beneran dan bukan pura-pura?"


"Mulai dari kamu turun dari bus aku liat muka kamu udah pucat, makannya aku terus aja jalan di deket kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa, Sayang. Makanya begitu kamu jatuh aku langsung gendong kamu ke klinik," jelas Zico tersenyum mengingat kenangan manis itu. Begitupun juga dengan Gita.


Selama ini Gita mengira Zico mulai menyukainya sejak kejadian study tour itu, namun ternyata Zico sudah menyukainya jauh sebelum study tour itu, tapi Zico tidak yakin untuk mendekatinya karena Gita selalu menutup diri dari para lelaki yang mendekatinya di sekolah.


"Makasih ya, Sayang. Kamu udah hadir dalam hidup aku, kamu udah buat hidup aku sempurna karena memiliki kamu," ucap Gita sambil terus menatap manik mata Zico dengan penuh cinta. Kemudian Gita berjinjit sambil menarik kerah baju Zico, ia mengecup bibir Zico dan mulai melu matnya begitu lembut.


Tentu saja Zico tidak tinggal diam, ia pun menahan tengkuk Gita dengan tangan kanannya, sedang tangan kiri merengkuh pinggang Gita dengan tubuh yang membungkuk. Semakin lama ciu man mereka semakin menuntut karena gai rah mereka yang sama-sama bergejolak. Li dah mereka saling bertaut, entah sudah berapa banyak mereka bertukar saliva. Zico semakin menekan kuat tengkuk Gita agar ciu man mereka menjadi lebih dalam. Namun, Gita merasa kehabisan nafas dan melepas ciuman mesra mereka.


Gita melepaskannya dengan nafas yang terengah-engah.


"Sayang, kok udahan? Lagi, ya?" ucap Zico yang sudah benar-benar candu akan bibir manis Gita.


"Sabar ya, Sayang. Dua hari lagi kan kita nikah, nanti kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau," ucap Gita mengelus pipi Zico.

__ADS_1


"Bener, ya? Awas kalo kamu kasih alasan macem-macem lagi!" ancam Zico cemberut. Saat ini gairahnya benar-benar sedang bergejolak, namun terpaksa harus ia tahan, ia harus menahannya dua hari lagi.


"Iya, Sayangku."


"Apa kamu bilang? Coba ulang!" ucap Zico seketika berubah raut wajahnya, yang tadinya cemberut, sekarang menjadi begitu bahagia mendengar kata itu terucap dari bibir Gita.


"Sa-yang-ku," eja Gita menatap mata Zico sambil tersenyum.


Seketika Zico pun memeluk erat tubuh Gita, mengecup kening juga kedua pipi Gita dan yang terakhir di bibirnya.


"Ya udah ayo kita ke bawah. Aku nggak enak sama Yolla. Kasian nunggu aku  kelamaan," ajak Gita.


Kemudian mereka pun turun ke lantai bawah menuju ruang keluarga, mereka bergandengan tangan dengan jemari mereka yang saling bertaut.


Lantas, mereka berbincang bersama Sean, Yolla, mommy Celine, dan juga daddy Austin, tentang rencana pernikahan Zico dan Gita yang tinggal dua hari lagi. Meskipun sebenarnya hati Gita masih merasa takut kalau rencananya ini akan gagal lagi. Namun, ia tetap mencoba untuk yakin bahwa kali ini Tuhan pasti akan mengabulkan do'anya.


Setelah selesai berbincang Yolla pun segera pamit karena akan pergi ke kantor. Yolla berjalan ke halaman tempat ia memarkirkan mobilnya. Begitupun juga dengan Sean yang mengiringi langkah kaki Yolla di belakangnya.


"La, tunggu, La!" pinta Sean.


Yolla menghela nafas panjang, "Apa lagi, sih?"


"La, kamu mau nggak kalo kita lunch dulu di luar? Please?" ucap Sean dengan tatapan memohon.


"Nggak bisa, gue mau ada meeting, Sean," tolak Yolla, padahal ia tidak ada jadwal meeting sama sekali hari ini.


Sean menatap jam yang melingkari pergelangan tangannya, "Ini baru aja masuk jam makan siang lho, La. Masa iya meeting-nya sekarang."


"Sorry, Sean. Gue nggak bisa!" Yolla menepis tangan Sean kemudian naik ke mobilnya.

__ADS_1


Namun saat ia mencoba menghidupkan mobilnya, mobilnya tak kunjung menyala, dan ternyata bensin Yolla habis. Ternyata pak Yadi belum mengisikan bensin mobil Yolla. Karena biasa nya sang supir selalu mengisi bensin mobil Yolla dulu sebelum Yolla pergi ke kantor. Namun, karena tadi Yolla pergi pagi-pagi sekali ke rumah Zico, jadi pak Yadi belum sempat mengisikan bensinnya.


"Aishh! Damn! Kenapa mesti abis sekarang, sih! Malu-maluin banget, ada Sean pula!" gerutu Yolla menutup wajahnya.


Sean yang melihat Yolla tidak juga melajukan mobilnya, akhirnya menghampiri Yolla dan mengetuk jendela mobil Yolla.


Tuk... Tuk... Tuk...


"La! kamu kenapa, La?" tanya Sean tepat di jendela samping Yolla. Sean menghampiri Yolla karena melihat Yolla dari kaca depan kalau Yolla sedang menunduk di setir kemudinya.


Yolla tidak menyahut, ia malu kalau harus bicara pada Sean bahwa dirinya kehabisan bensin. Namun, karena lama-lama ia merasa risih karena Sean yang terus mengetuk kaca jendela mobilnya, mau tak mau Yolla menurunkan kaca itu.


"La, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Sean lagi.


"Enggak, kok. Mobil gue kehausan, lupa nggak dikasih minum," ketus Yolla tanpa menoleh ke Sean.


"Maksud kamu bensinnya abis?"


"Ck ... Pake di perjelas lagi!" Yolla berdecak.


Sean kemudian menarik tuas untuk membuka pintunya dengan memasukkan tangannya melalui kaca jendela Yolla yang terbuka. Kemudian menarik Yolla keluar dari mobilnya, juga mengambil tas dan ponsel Yolla yang di letakkan di kursi samping kursi pengemudi.


"Kenapa sih? Kok gue malah di suru turun?" tanya Yolla kesal mengerutkan dahi.


"Terus kalo kamu diam aja di situ, kamu pikir mobil kamu bisa tiba-tiba full bensinnya, gitu?"


Yolla menghembuskan nafas kasarnya.


Sean pun menarik pergelangan tangan Yolla dan memintanya masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Masuk! Aku antar ke kantor kamu," tutur Sean.


__ADS_2