
Degh!
Jantung Gita bergemuruh, ia tak tahu bagaimana caranya menjawab pertanyaan Yolla saat ini.
"Git! Kok lo diam aja?" Tegur Yolla melihat Gita hanya menunduk terdiam seperti orang ketakutan.
"La! gue.. eh, dia.. eh, Sean maksudnya.. Emmmm....."
"Udah lah, Git! Nggak perlu lo jawab!" Yolla memotong kalimat Gita yang masih menggantung.
"La, lo marah ya sama gue?" Tanya Gita yang melihat Yolla mengerucutkan bibirnya.
"Enggak kok, Git! Gue tau lo pasti merasa serba salah kan? Kalau pun gue ada di posisi lo, gue pasti akan melakukan hal yang sama, Git!" Terang Yolla. Ia melanjutkan,
"Besok lo antar gue ketemu sama Giselle dan Nadhira, ya? Gue mau kenalan langsung sama mereka, selama ini kan kita cuma kenal by phone." pintanya.
"Hah? Beneran lo mau ketemu Giselle, La? Tapi di rumah sakit pasti ada Sean, La! Lo nggak apa-apa kalau ketemu dia lagi?" tanya Gita beruntun, ia tersentak mendengar keinginan Yolla, ia sempat berpikir Yolla tidak akan mau bertemu Giselle lagi, tapi setelah berpikir lagi Gita pun tahu benar sifat Yolla, Ia tidak pernah menyimpan dendam pada orang lain, terlebih lagi dirinya sudah mengenal Giselle walaupun hanya lewat telpon.
"Beneran lah, Git! Gue nggak peduli lagi sama dia! Tadi aja dia nggak kenal sama gue kok!" Tentu saja apa yang diucapkan Yolla berbeda dengan isi hatinya.
"Haha... Terang aja dia nggak kenal lo, La! Penampilan lo aja berubah drastis kok! Gue aja tadi sempat nggak ngenalin lo!" Gita terkekeh memandangi sahabatnya itu.
"Memang iya ya? Beneran banyak banget perubahan gue? Perasaan sama aja deh, cuma beda warna rambut doang kok!" Kilah Yolla sambil memegang ujung rambutnya, ia benar-benar merasa tak banyak yang berubah dari dirinya.
"Please deh, La! Coba nih lo lihat ini!" Gita mengeluarkan selembar foto bersama dengan Yolla yang selalu ia taruh didalam tas nya dan selalu dibawanya kemanapun.
Yolla tersentak melihat Gita mengeluarkan foto bersama dirinya dari dalam tas.
"Ya ampun, Git! Lo selalu bawa foto kita ini kemanapun?"
"Iya dong! Gue selalu bawa ini kemanapun, La! Kalau gue lagi kangen sama lo ya gue lihat foto ini." ucap Gita yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kebohongan sama sekali dari raut wajahnya.
"Unch.. unch... Pacar gue!" Seru Yolla memeluk Gita dan menciumi pipi Gita bertubi-tubi.
"Iih, La! Pacar gue kan Zico!" Balas Gita merona.
"Iya deh iya tau yang punya pacar!" ketus Yolla melepaskan pelukannya dari Gita, tapi kali ini Gita lah yang bergantian memeluk Yolla.
"Oya La! Lo kan cantik banget gini, memang di Paris sana nggak ada yang deketin lo gitu?" tanya Gita penasaran sambil mendongakkan wajahnya menatap Yolla.
"Masih cantik lo lah, Git!" kilahnya, ia pun melanjutkan, "Gue... Sebenarnya ada yang deketin gue, Git! Namanya Mike! Dia baik dan perhatian banget sama gue, bahkan dia sampai belajar bahasa kita lho!"
"Pasti ganteng, kan?" tanya Gita lagi penasaran seperti apakah tampang Pria Bule yang mendekati sahabat terbaiknya itu.
"Iya sih! Tapi ..." Ucap Yolla menggantung.
"Tapi kenapa, La?"
"Enggak tau kenapa gue nggak ada rasa apa-apa sama dia, Git! Setiap gue dekat sama cowok, Wajah Sean selalu aja terlintas di pikiran gue, Si." Gumam Yolla yang tanpa sadar menitihkan air matanya.
Melihat sahabatnya itu menangis, Gita segera mendekapnya erat.
Gita menghembuskan nafas panjang.
Ia memeluk sembari membelai rambut Yolla.
"La! Sepertinya udah saatnya lo harus lupain Sean, La. Lo harus move on." Ucap Gita hati-hati.
Yang ditakutkan Gita pun benar terjadi, Yolla terisak di pelukan Gita, membuat Gita pun ikut menitihkan air matanya.
"Sssst... Sssst..." Gita mencoba meredakan tangis Yolla sembari menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Gue... Stupid, Gita! I'm very Stupid!!!" maki Yolla kepada dirinya sendiri sambil masih terisak, perasaan yang sedari tadi ia tahan pun akhirnya pecah juga dipelukan Gita, ia melanjutkan,
"Andai aja... Gue nggak nolak dia dulu... dia pasti udah jadi milik gue sekarang, Git! Gue memang bodoh banget, Git! Gue bodoh!!!" pekik Yolla sembari meremas rambutnya dan memukul-mukul kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.
"Stop it, La! Stop it! please! Lo jangan nyakitin diri lo sendiri, La!"
Gita pun melepas pelukannya dan menangkup wajah Yolla.
"La! Lo nggak boleh seperti ini, mungkin memang lo belum jodoh aja sama dia, La! Mulai sekarang, lo harus bisa buka hati lo untuk cowok lain ya, La! Lo harus bisa lupain Sean, La! Lo denger gue, kan?" tutur Gita.
Yolla pun mengangguk.
Gita yang masih menangkup wajah Yolla pun menyeka air mata yang membasahi wajah Yolla.
__ADS_1
"Coba senyum?!" Goda Gita mencoba menghibur Yolla.
Akhirnya Yolla pun mencoba mengulas senyumnya.
"Nah! Gitu dong! Kan cantik!" Goda Gita lagi yang membuat Yolla melebarkan senyumannya.
"Oya, Git! Giselle tau nggak tentang gue sama Sean?" Tanya Yolla tiba-tiba.
"Gue sih nggak pernah cerita, bahkan nunjukin foto lo aja nggak pernah." Jawab Gita.
"Oh! Ya udah deh, bagus kalau gitu! Ayo kita tidur, Git! Besok pagi kita ketemu Giselle." seru Yolla.
"Eummmm!" Gita mengangguk.
Mereka pun tertidur saling berpelukan.
Yolla sangat ingin sekali bertemu dengan Giselle dan Kinara, Yolla merasa sangat bersyukur karena mereka telah menjadi sahabat baru yang selalu ada untuk Gita selama dirinya tidak ada di sisi Gita, karena Yolla sudah menganggap Gita seperti saudara kembarnya, ia sangat menyayanginya layaknya seperti saudara kandung.
Keesokan harinya pukul 8 pagi Gita terbangun lebih dulu karena mendengar suara panggilan masuk di ponselnya, Sedangkan Yolla masih tertidur, mungkin karena ia masih merasakan efek jet lag pada dirinya.
Gita pun menggapai ponsel nya yang terletak di atas nakas samping ranjang Yolla.
(Hallo, Sayang!)
"Hmmm... Iya, Sayang?" Sahut Gita dengan mata yang masih terpejam, ia meletakkan ponselnya di daun telinganya masih sambil rebahan.
(Sayang, ini Mami minta kamu main ke sini.)
"Tapi aku udah janjian sama Yolla mau jenguk Giselle, Zi! Gimana dong?"
Yolla yang masih terpejam ternyata mendengar perbincangan Gita dan Zico.
"Enggak apa-apa, Git! Lo ke rumah Zico aja dulu, Gue masih jet lag, nih! Nanti siang aja kita ke rumah sakitnya ya, nanti gue jemput lo ke rumah Zico." Sahut Yolla dengan suara serak khas bangun tidur dan mata yang masih terpejam.
Zico pun mendengar perkataan Yolla pun segera menjawabnya.
(Ya udah kamu mandi dulu aja, Sayang. Nanti jam 9 aku jemput kamu ya!)
"Hmmm... Iya, Sayang! Love you!"
Mereka pun mematikan panggilannya.
***
Di Mansion Zico...
"Gita!" seru mami Celline tersentak akan kedatangan Gita.
"Mami!" Gita pun berlari menghampiri mami Celline dan memeluk mami Celline layaknya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Kok kamu tumben datang gak bilang-bilang, Sayang?" tanya Mami sambil membelai rambut Gita.
"Lho? Bukannya Mami yang minta Gita kesini?" ucap Gita sambil menatap Zico.
Zico tersenyum usil sembari menggaruk alisnya yang tak gatal.
Plak!
"Iissh kamu tuh!" Gita memukul lengan Zico dengan bibirnya yang mengerucut, membuat mami Celline tertawa melihatnya.
"Tasya!" Panggil papi Austin yang baru saja tiba di ruang keluarganya.
"Papi!" Gita menghampiri papi Austin dan mencium punggung tangannya.
Zico mengulas senyumnya, ia merasa sangat bersyukur karena kedua orangtuanya begitu menyayangi Gita.
Mereka pun duduk di ruang keluarga.
"Kamu kemana saja tidak pernah datang ke sini?" Tanya papi Austin. Karena memang sejak dirinya terakhir mengunjungi mansion keluarga mereka, Gita belum pernah mengunjunginya lagi karena disibukkan untuk merawat Giselle.
"Maaf ya, Mam, Pap. Sahabat Gita sakit jadi Gita setiap hari menemaninya di rumah sakit," Ucap Gita menundukkan pandangannya.
"Oh! Sahabat kamu yang pacar Sean itu ya?" tanya mami Celline penasaran.
"Lho? Kok Mami tau?" Lagi-lagi Gita melirik Zico.
__ADS_1
"Lho? Aku nggak bilang apa-apa kok sama Mami!" sanggah Zico yang benar-benar tak merasa pernah menceritakan tentang Giselle dan Sean pada mami Celline.
"Kan waktu di pemakaman Ibu kamu Sean selalu bersama dia, bahkan saat dia menangis Sean memeluknya begitu erat, Kalau di lihat dari tatapan Sean Mami yakin Sean sangat menyayanginya," tutur mami Celline, yang ia bicarakan adalah Yolla, karena memang pada saat pemakaman Stella, Sean selalu ada di sisi Yolla.
Zico dan Gita saling tatap, mereka memahami apa yang dimaksud mami Celline.
"Bu.. Bukan itu Mam! Itu Yolla.. eemm.. bukan dia pacar Sean, Mam." Gita menjelaskan dengan gugup.
"What's? Lalu siapa pacar Sean? Bukannya sahabat kamu itu cuma Yolla?" mami Celline tersentak mendengarnya, ia benar-benar mengira Yolla adalah pacar Sean.
Gita pun akhirnya menjelaskan cerita tentang Sean, Yolla dan Giselle pada mami Celline dan papi Austin, termasuk menceritakan tentang penyakit Giselle.
"Ya ampun, Kasian sekali Giselle." ujar mami Celline.
"Jadi yang kamu minta pendonor pada Uncle mu itu untuk dia, Zi?" tanya papi Austin.
"Iya, Pap!" Sahut Zico.
"Lalu bagaimana? Apa sudah dapat pendonornya?" tanya papi Austin lagi.
"Belum, Pap! Giselle tidak mau kalau donornya itu ilegal." terang Zico.
"Ah, Hatinya baik sekali gadis itu!" Sahut mami Celline.
"Iya, Mam. Giselle memang sangat baik, hatinya sangat tulus, Mam." ucap Gita menitihkan air matanya.
"Lho? Kamu jangan nangis gitu dong, Sayang. Justru kamu harus selalu kasih semangat dia supaya dia kuat menjalani semuanya." tutur mami Celline.
"Iya, Mam." Ucap Gita mengulas senyum dengan pipinya yang masih basah itu.
"Oh iya! Lalu Yolla bagaimana?" tanya mami Celline yang penasaran dengan Yolla.
"Yolla baru aja pulang ke sini, Mam. Dia baru tau tentang Giselle dan Sean, makanya aku semalam menginap di rumah Yolla untuk menghibur dia." tutur Gita.
"Kalau Mami ada di posisi kamu pasti Mami tidak tau harus bagaimana mengingat kedua gadis itu adalah sahabat kamu." Imbuh mami Celline.
"Iya, Mam. Tapi Yolla sudah berjanji akan melupakan Sean dan membuka hatinya untuk cowok lain, Mam." Jawab Gita.
"Oh! Baguslah kalau begitu," Ucap mami Celline.
"Iya, Mam," Sahut Gita.
"Ya sudah! Karena Bu Ambar sedang pulang ke kampungnya, bagaimana kalau kita makan siang di luar saja?" ajak papi Austin.
"Ayo! ini sudah jam 11 siang, bagaimana kalau kita jalan sekarang saja? kita makan di restoran kita saja, Pap." Sahut mami Celline.
"Maaf, Mam, Pap! Gita sudah ada janji dengan Yolla siang ini akan menjenguk Giselle ke rumah sakit." Ucap Gita merasa tidak enak.
"Sayang, sebentar aja lah, paling jam 1 udah selesai. Kamu telpon Yolla aja dulu." bujuk Zico.
"Ya udah kalo gitu, aku permisi telpon Yolla dulu ya Mam, Pap." Pamit Gita.
Setelah Gita menelpon Yolla, mereka pun pergi ke restoran milik papi Austin.
Gita terlihat sangat bahagia, sudah lama ia tak merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Seusai makan siang papi Austin dan mami Celline kembali ke Mansion mereka, Sedangkan Zico dan Gita langsung pamit menjemput Yolla dan pergi ke rumah sakit.
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
Gita membuka pintu ruangan dimana Giselle di rawat.
Benar saja, di sana ada Sean yang sedang menyuapi Giselle makan.
Melihat adegan seperti itu membuat hati Gita ikut merasakan sakit memikirkan bagaimana perasaan Yolla, ia sangat yakin hati Yolla pasti terasa amat perih saat ini.
Giselle yang melihat Yolla di gandeng oleh Gita pun tersentak.
"Lho?! Kamu yang kemarin ke sini kan?!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1