First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Kasus Ayah Gita


__ADS_3

"Masih sakit, kayaknya nanti berbekas deh," lirih Yolla menundukkan pandangannya.


"Nanti kita ke dokter kulit aja, ya? Siapa tau bisa meminimalisir bekas lukanya," bujuk Sean.


Yolla pun mengangguk.


"Oya, gimana persiapan pernikahan Gita sama Zico? Pasti sekarang Gita udah tenang karena nggak ada lagi orang yang berusaha mencegah pernikahan mereka," ucap Yolla tersenyum, membayangkan Gita yang sedang mengenakan gaun pengantin membuatnya sangat bahagia. Akhirnya sahabatnya itu akan benar-benar hidup bahagia dengan Zico dan juga kedua buah hatinya.


"Kamu belum buka sosmed ya hari ini?" tanya Sean hati-hati.


"Sosmed? Kenapa? Masalah Zayn sama Zefa? Bukannya masalah itu udah selesai, 'kan? Apa ada masalah baru lagi?" tanya Yolla beruntun sambil mengernyitkan dahi.


Hari ini Yolla benar-benar sedang disibukkan dengan pekerjaannya, ia belum sempat membuka sosial medianya sama sekali, karena tadi pagi pun ia terlambat bangun dan bergegas pergi ke kantor. Bahkan, baru siang hari saja ia sudah dua kali mengadakan rapat penting dengan kliennya.


"Aku dari pagi meeting terus, jadi aku belum sempet buka sosmed. Emang kenapa lagi, sih?" lanjutnya bertanya pada Sean, karena Sean yang masih diam belum menjawab pertanyaannya.


"Tentang ayah Gita," jawab Sean singkat.


"What's? Maksud kamu tentang kasus kematiannya?" kaget Yolla.


Sean pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi yang kau berikan kepada Gita. Kenapa sih sulit banget buat Gita bahagia?" keluh Yolla sambil menangis. Ia sangat tahu Gita pasti sangat terpukul atas berita ini.


"Hussst, Sayang ... kamu nggak boleh ngomong kaya gitu. Justru Tuhan tuh lagi bener-bener mau buat Gita bahagia saat ini."


"Maksudnya? Bahagia gimana? Aku yakin, yang ada Gita pasti lagi stress banget sekarang. Kamu nggak tau sih gimana terpuruknya Gita waktu dulu. Dia pindah ke sekolah aku aja tuh pemurung dan tertutup banget, dia nggak berani deket-deket sama siapapun, padahal banyak banget temen-temen yang deketin dia dan mau bertemen sama dia, tapi dia selalu menghindar, cuma aku yang terus berusaha deketin dia dan membuat dia luluh dan akhirnya kita bersahabat sampai sekarang. Setelah kita bener-bener deket, dia baru cerita kalo ternyata di sekolah lamanya dia tuh di bully karena kasus kematian ayahnya. Makanya dia mutusin buat balik ke Jakarta sama ibunya," terang Yolla panjang lebar sambil terus menitihkan air matanya.


Sean pun sangat mengerti dengan apa yang Yolla rasakan saat ini, karena ia tahu betapa besarnya rasa sayang Yolla kepada Gita. Sean mendekatkan dirinya pada Yolla yang masih duduk di kursinya, ia membungkukkan tubuhnya kemudian memeluk Yolla sambil membelai rambut panjangnya.


"Aku bener-bener nggak ngerti kenapa Tuhan kasih cobaan begitu banyak sama Gita, aku nggak bisa lihat dia nangis lagi, Sean. Aku nggak bisa ... hati aku sakit banget setiap dia lagi dapet ujian yang berat kayak gini," keluh Yolla sambil terisak di pelukan Sean.


"Iya, Sayang. Aku ngerti banget apa yang kamu rasain ... kamu tenang ya, sekarang aku sama ayah lagi cari orang yang udah menjebak ayahnya Gita atas tuduhan kasus malapraktik nya dulu," tutur Sean.


Mendengar ucapan Sean membuat Yolla terkejut dan melepaskan pelukannya seketika sambil menyeka air matanya.

__ADS_1


"Maksud kamu? Ayahnya Gita dulu di jebak?" tanya Yolla lagi memastikan.


"Iya, dugaan kita sih beliau dulu di jebak sama wakilnya sendiri. Kan waktu itu posisi ayahnya Gita direktur di rumah sakit itu, padahal beliau dulu baru masuk dan langsung menjabat sebagai direktur di sana, sedangkan dokter yang jadi wakil direktur di rumah sakit itu, sudah bekerja di sana sejak rumah sakit itu berdiri. Jadi, sepertinya dia sengaja menyingkirkan ayahnya Gita dengan cara kotor itu supaya dia naik jabatan dan menggantikan posisinya, padahal pasien itu meninggal bukan karena operasi yang dilakukan oleh ayahnya Gita. Karena kata beberapa mantan perawat yang pernah bekerja di sana saat ayah Gita menjabat sebagai direktur, pasien itu keadaannya sangat baik dan sudah siuman sehari setelah operasi yang dilakukan oleh ayahnya Gita. Namun entah kenapa keesokan paginya pasien itu tiba-tiba kejang-kejang terus langsung meninggal gitu aja. Jadi kesimpulan kita, sepertinya ada seseorang yang sudah memasukkan sesuatu ke botol infus nya. Karena tidak ada luka atau bekas suntikan baru di tubuh pasien itu. Dan anehnya lagi, rekaman CCTV pada malam itu menghilang. Seperti ada seseorang yang sengaja menghapusnya," jelas Sean panjang lebar.


"Ya ampun, itu orang bener-bener jahat banget, ya. Dia bukan cuma menghancurkan kehidupan keluarga Gita, tapi dia juga tega membunuh satu pasien hanya karena obsesinya," ucap Yolla menitihkan air matanya lagi.


"Ya begitulah manusia kalau udah kerasukan setan. Otaknya nggak berfungsi lagi untuk berpikir dengan jernih, hati nya pun udah nggak punya nurani lagi," ujar Sean.


"Aku mau ketemu Gita," rengek Yolla.


"Lho? Tadi kamu bilang katanya lagi banyak kerjaan?"


"Iya, sih. Soalnya meeting besok aku majukan jadi jam 2 siang nanti, karena besok kan aku nggak bisa ke kantor, aku nggak mungkin nggak hadirin pernikahan Gita, apalagi Nadhira juga kan nggak bisa dateng, dia baru bisa pulang ke sini saat resepsi nanti."


"Ya udah makanya kamu tahan diri, kamu selesaikan semua kerjaan kamu dulu, nanti malam baru kita ke rumah Zico, Okay?" bujuk Sean.


"Tapi, kamu tau kabar Gita nggak dari Zico?"


"Tadi pagi sih kata Zico Gita nggak mau keluar sama sekali dari kamar sampe jam sebelasan tadi Zico bilang udah berhasil bujuk Gita, dia dobrak pintu kamar Gita. Terus sekarang Gita lagi treatment katanya, sedangkan Zico sama anak-anaknya lagi mau ketemu Kenzo sekarang," terang Sean.


"Kamu tenang aja, mereka nggak akan berantem, kok. Zico lagi mau jalanin syarat dari Gita soalnya," ucap Sean tersenyum usil.


"Syarat? Syarat apaan?" tanya Yolla bingung.


"Jadi gini, Gita bilang sama Zico, katanya kalo Zico mau nikahin Gita, Zico harus bilang makasih dulu sama Kenzo karena selama ini Kenzo udah melindungi Gita, Zayn dan Zefa. Terus Zico juga nggak boleh lagi cemburu-cemburu sama Kenzo kalo mereka udah menikah nantinya," jelas Sean terkekeh. Yolla pun ikut terkekeh dibuatnya.


"Rasain Zico! Lagian kalo udah jealous ngeselinnya minta ampun," oceh Yolla.


"Dari dulu kan emang begitu dia, aku aja nggak pernah bisa curhat atau tanya-tanya tentang kamu ke Gita, karena dia nggak pernah biarin aku ngobrol berdua sama Gita, takut banget Gita aku embat."


"Wajar sih dia takut banget kehilangan Gita, sahabat aku kan limited edition."


"Pacar aku juga limited edition," ucap Sean menimpali sambil mencubit gemas pipi Yolla.


"Iiissh, sakit tau!" ketus Yolla mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Cup!


Sean mencium pipi Yolla yang telah dicubitnya tadi. Seketika membuat pipi Yolla merona.


"Udah sembuh, 'kan?" ucap Sean sambil mengelus pipi Yolla dengan ibu jarinya.


"Tau ah!" ketus Yolla lagi sambil beranjak dari kursinya menuju sofa di ruangannya. Namun, dengan cepat Sean menangkap tubuh Yolla dan menariknya ke dalam pelukannya.


Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan dahi dan ujung hidung yang saling menyentuh, Sean meletakkan kedua tangannya di kedua pinggul Yolla. Yolla tak berani menatap mata Sean, ia hanya menundukkan pandangannya. Jantungnya? Jangan ditanya, sudah pasti jantung Yolla saat ini sedang berdebar tak karuan.


Baru saja Sean hendak melu mat bibir Yolla, suara ketukan pintu terdengar. Dengan cepat Yolla mendorong tubuh Sean sambil memundurkan langkahnya dan beranjak duduk di sofa. Sean tersenyum melihat Yolla yang salah tingkah.


Ternyata Mika lah yang mengetuknya, ia mengantarkan makanan yang sudah di pesan Sean.


"Maaf, Tuan. Ini makanan yang Tuan pesan," ucap Mika sambil meletakkan satu kantong plastik yang berisi tiga kotak sushi di atas meja.


Sean pun menghampirinya dan mengeluarkan satu kotak sushi dan memberikannya pada Mika.


"Ini buat kamu."


"Hah? Tidak usah, Tuan. Saya bisa makan di luar saja nanti," tolak Mika.


"Sekarang saja sudah jam setengah satu, mana sempat kamu makan siang di luar?" tutur Sean sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah. Nggak perlu sungkan, ambil aja, atau makan bareng aja sama kita di sini," tawar Yolla, ia sengaja mengajak Mika agar ia tidak merasa canggung dengan Sean.


"Ti-tidak, Bu. Saya makan di pantry saja," sahut Mika.


"Ya sudah," balas Yolla.


"Terima kasih untuk makanannya, Tuan. Saya permisi," ucap Mika sambil menundukkan kepalanya.


"Sama-sama."


Sean dan Yolla pun mulai menyantap makan siangnya dengan duduk berdampingan di atas sofa.

__ADS_1


__ADS_2