First Love Sang CEO

First Love Sang CEO
Insecure


__ADS_3

Gita melirik Zico,


“Lho?? ngapain pindah? Ini kan kursi Yolla!” Ketus Gita.


“Gampang, tar kalo Yolla balik kan aku tinggal geser lagi.” Jawab Zico santai.


Gita hanya diam tidak menjawab Zico lagi, ia memilih fokus pada layar.


“Git, kamu marah ya sama aku? Maafin aku ya? Please?” Zico meminta maaf, padahal sejujurnya ia tak merasa ada salah pada Gita. Ia hanya tak tahan dijauhi oleh Gita.


Gita masih hanya diam menatap layar, Zico pun memegang dagu Gita dan menghadapkan wajah Gita ke arahnya.


“Iih apa sih?!!” ketus Gita lagi sembari menepis tangan Zico dan membuang mukanya menghadap layar lagi.


“Gita, Please Maafin aku ya? Aku akan membuat Priscilla di Drop out dari sekolah kita supaya dia nggak ganggu kamu lagi, I’m promise, okay? ” Zico memegang dagu Gita lagi dan menghadapkan Gita ke arahnya lagi.


“Untuk apa sampai seperti itu? Nggak perlu membuat Priscilla di Drop out, cukup aku aja yang menjauh dari kamu!”


“Dari pada kamu yang harus menjauhi aku, lebih baik aku buat Priscilla menjauh dari kamu sejauh mungkin.”


“Jangan Zico! Biarkan aja dia sekolah, jangan membuatnya di Drop Out!” Gita tidak mau hanya karna dirinya Priscilla harus sampai di DO.


“Baiklah, tapi kamu janji jangan menghindari aku lagi ya?” Zico memohon dengan tatapan penuh harap.


“Iya iya!” jawab Gita masih ketus.


“Tuh kan masih jutek?” Goda Zico.


“Enggak kok, aku nggak jutek!” Cebik Gita.


“Tuh bibir kamu masih cemberut gitu kok.” Zico senang sekali menggoda Gita, menurutnya Gita terlihat menggemaskan saat dia cemberut seperti itu.


Gita tersenyum memaksa dengan bibirnya  yang membentuk garis lurus.


“Nih udah senyum nih, puas kan?”


“Hehe, gitu dong, ini baru Gita nya aku.”


Kata-kata Zico yang terakhir membuat jantung Gita berdebar tak karuan, ia yakin pipinya sudah seperti kepiting rebus saat ini, untung saja gelap, Zico tidak akan menyadarinya.


“hmmm, nanti pulang sama aku aja ya?” Ajak Zico.


Mereka mengobrol berbisik.


“Aku pulang sama Yolla aja.”


“Kamu yakin Yolla bakal balik lagi kesini? Ini sudah mau habis film nya lho, tapi dia belum kembali juga.”

__ADS_1


“Oh iya ya, aku kirim pesan dulu deh.”


Gita : {La, lo kemana sih? Ini film nya udah mau habis lho, tapi lo malah belum balik-balik juga!}


Yolla : {Oh iya Git, gue lupa, tadi nyokap gue udah selesai nyalon nya terus dia ngajakin gue shopping, gue keasyikan shopping jadi gue langsung ikut nyokap pulang, ini aku udah dimobil nyokap nih, gue kelupaan banget, maaf ya Git! Lo pulang sama Zico aja, Zico masih disitu kan?}


Yolla berbohong, padahal ia sudah sampai rumah dari tadi.


Gita malas membalas pesan Yolla lagi, dia kesal pada Yolla, dia memasang wajah cemberut lagi.


“Kenapa cemberut lagi? Beneran ya Yolla gak balik lagi?”


“Iya!” Gita tertunduk lesu.


“Udah nggak usah cemberut gitu dong, Nanti aku antar pulang kok.” Bujuk Zico.


“Aku naik bus saja!” Tolak Gita.


“Lho kok naik bus? Aku antar aja ya? Please Gita.” Melihat Zico memohon penuh harap seperti itu membuat Gita tidak tega.


“hmmm… Baiklah!” sahut Gita.


Tiba-tiba ada suara aneh dari perut Gita.


Zico tersenyum, “Okay, tapi nanti kita makan dulu ya? Sepertinya cacing diperutmu sudah mulai demo tuh minta dikasih makan.”


“Siapa juga yang bilang kamu cacingan? aku kan cuma bilang itu cacingnya udah minta makan." Zio tersenyum mengejek. ia melanjutkan, "hehe...bercanda Git.” Zico tidak mau membuat Gita marah lagi, sebab perlu perjuangan keras membuat Gita mau bicara lagi dengannya.


Mereka berdua pun keluar dari bioskop.


“Ayo kita cari tempat makan.” Ajak Zico.


“Memang mau makan apa?” tanya Gita.


“Kamu mau nya makan apa? Aku ikut aja maunya kamu.” Ia malah balik bertanya pada Gita.


“Lah kok jadi aku yang nentuin sih? Terserah kamu aja deh, kamu aja yang nentuin.”


“Okay! Ayo.” Zico hendak mengajak Gita ke restoran Italia tempat biasa ia dinner atau lunch dengan Maminya setelah menemani Maminya Shopping.


Gita berjalan mengikuti Zico, tapi saat berhenti didepan restoran itu Gita menghentikan langkahnya dan menatap ke dalam restoran penuh kagum.


‘Waaah mewah sekali, ini pasti restoran elit, mana sanggup aku membayar makanannya?’ Batin Gita, ia ragu untuk masuk.


Zico yang menyadari kalau Gita berhenti mengikutinya pun lantas membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Gita.


“Lho kok kamu malah melamun? Ayo!” Zico memegang pergelangan tangan Gita dan menariknya untuk ikut masuk ke dalam restoran mewah itu.

__ADS_1


“Tapi Zico, kita jangan makan disini dong, makan ditempat yang sederhana aja, orang seperti aku nggak akan sanggup bayarnya.” Gita insecure, ia menundukan kepalanya.


“husst..” Zico menempelkan jari telunjuknya dibibir Gita, seketika membuat pipi Gita merona seperti biasanya setiap kali disentuh Zico. Zico pun melanjutkan, “Kamu jangan ngomong gitu, aku nggak suka dengarnya, semua manusia di mata Tuhan itu sama Git, gak ada pantas atau nggak pantas, kita semua sama, jadi jangan pernah ngomong gitu lagi, okay?” Zico mengatakannya dengan lembut sembari tersenyum.


“Iya iya!” Gita menundukan kepalanya lagi.


“Kamu nggak usah khawatir, aku yang akan traktir kamu makan.”


Akhirnya Gita dan Zico melangkahkan kakinya dan duduk ditempat yang berada didekat kaca dengan pemandangan pusat kota, mereka sudah memesan makanan yang akan mereka makan.


Sembari menunggu makanan datang Zico membuka obrolan agar tak hening.


“Gita, makasih ya kamu udah nggak marah sama aku.” Zico tersenyum.


“Iya.” Jawab Gita singkat sembari melipat bibirnya malu-malu.


“Kamu jangan menghindariku lagi ya, aku janji aku akan jaga kamu, Priscilla nggak akan berani ganggu kamu lagi.”


“Hmmmm…”


“Kamu katanya udah enggak marah sama aku, masa dari tadi jawabnya cuma “iya” sama “hmmm” doang.”


“Terus aku harus jawab apa donk?”


Zico hanya tersenyum.


Makanan yang mereka pesan pun sudah tiba, mereka menyantap makanannya dalam diam tanpa mengobrol apapun.


Setelah selesai makan mereka segera pulang, Zico mengantar Gita sampai apartemennya.


“Thank’s Zico udah antar aku pulang.” Ucap Gita.


“Ya Gita sama-sama.. besok aku jemput kamu ya?” tawar Zico.


“Tapi aku turun dihalte dekat sekolah aja ya? Kamu harus janji, jangan seperti waktu itu, bilangnya mau turunin aku di halte, ternyata malah sampe parkiran sekolah, kan jadi ketahuan sama Priscilla, makannya dia kurung aku di toilet!" Gita mengerucutkan bibirnya.


“Oooh... aku ngerti sekarang! berarti kemarin-kemarin kamu marah sama aku karna itu? Aku sama sekali nggak ngerti lho kenapa kamu marah sama aku, ternyata itu masalah sebenarnya?” Tanya Zico akhirnya mengerti penyebab Gita kesal padanya.


“Hmmm!” Jawab Gita singkat.


“Okay okay, aku janji aku turunin kamu di halte besok.” Zico mengacak-acak sedikit poni Gita.


“Ya udah aku naik ke atas dulu, kamu pulang hati-hati ya.” imbuh Gita.


Zico hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.


Mereka pun tiba dirumah masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2