
Mendengar perkataan Yolla, Sontak Gita pun seketika duduk dan membuka selimutnya.
"Kenapa, La? Kok lo tiba-tiba ngajak balik?!" tanya Gita dengan matanya yang masih sembab, bahkan pipinya pun masih basah.
"Papa sama Mama minta gue pulang karena mereka mau rayain Anniversary mereka di kapal pesiar, jadi Papa minta gue untuk ngurus perusahaannya, Git," terang Yolla sambil menunduk.
Gita pun hanya menghela nafasnya panjang.
"Mau ya, Git? Please?" mohon Yolla menatap Gita penuh harap.
"Ya udah lo pulang aja, La. Gue nggak apa-apa kok sendiri di sini," ucap Gita tersenyum sambil menyeka pipinya yang masih basah.
"Tapi anak-anak gimana kalau lo lagi kerja, Git?" tanya Yolla.
"Entahlah, La. Tapi yang jelas gue nggak bisa balik ke sana sekarang, gue bener-bener belum siap, La."
"Gue telfon Papa aja, deh. Gue mau bilang aja gue nggak bisa pulang."
Gita segera menarik tangan Yolla yang ingin beranjak dari atas ranjangnya.
"Nggak usah, La. Lo pulang aja, gue beneran nggak apa-apa kok," tutur Gita tersenyum, "nanti gue mau cari pengasuh aja buat mereka, gue juga nggak mau ngerepotin Kenzo terus, La. Dia udah terlalu baik selama ini sama gue, gue nggak mau terus kasih dia harapan yang gue sendiri pun nggak tau apa gue bisa mewujudkan harapan Kenzo atau nggak," keluh Gita.
"Maksud lo, Git?" tanya Yolla tak mengerti.
"Kenzo sebenernya udah pernah nyatain perasaannya sama gue, La. Dia mau nikahin gue, tapi gue belum jawab sampe sekarang. Di hati gue masih ada dia, La," lirih Gita dengan air matanya yang mengalir.
Yolla pun memeluknya, "Gue tau, Git. Gue tau perasaan lo sama Zico pasti nggak akan pernah bisa hilang, karena dia itu cinta pertama lo. Apalagi ada Zayn yang mukanya mirip banget sama Zico, pasti sulit buat lo lupain Zico. Tapi lo harus kasih jawaban pasti sama Kenzo kalo emang lo nggak bisa terima dia di hati lo, Git. Jangan terus digantung kayak gitu, kasian dia," imbuh Yolla.
__ADS_1
"Tapi gue takut dia marah sama gue, La," lirih Gita.
"Enggak! Gue yakin dia nggak akan marah sama lo, apalagi lo kan tau sendiri seberapa deket dan sayangnya dia sama Zefa, dia nggak akan sanggup kalau nggak ketemu Zefa, Git."
Gita pun hanya diam merenungkan perkataan Yolla. Memang Benar apa yang dikatakan Yolla, Kenzo begitu sangat menyayangi anak-anak Gita, terlebih pada Zefa, karena Zefa yang selalu bersikap manja kepadanya, berbeda dengan Zayn yang sulit sekali untuk didekati. Meskipun begitu, Kenzo tetap menyayangi Zayn, ia selalu mengabulkan apa yang diminta Zayn pada Gita, disaat Gita tidak menuruti keinginannya.
"Lo beneran nggak apa-apa kalo gue tinggal balik ke Indo?" tanya Yolla lagi. Ia sangat khawatir pada Gita dan anak-anaknya, apalagi ia pun sangat menyayangi si kembar Zayn dan Zefa, berat rasanya membayangkan sehari saja tanpa ada yang memanggilnya bunda.
"Iya, La. Nggak apa-apa, kok," sahut Gita mengulas senyumnya.
Dengan berat hati Yolla pun kembali ke Indonesia tanpa Gita. Yolla menitipkan Gita pada Mike dan Kenzo. Namun Gita memilih menjaga jaraknya dengan Kenzo sekarang, ia tak mau terus menerus memberi harapan kosong pada Kenzo. Bahkan ia memilih membayar pengasuh untuk menjaga si kembar Zayn dan Zefa.
***
Satu bulan pun berlalu sejak kepulangan Yolla.
Gita yang selama beberapa tahun terakhir ini selalu di temani Yolla pun mulai merasa kesepian, apalagi dia juga membatasi dirinya untuk bertemu dengan Kenzo, ia bertemu Kenzo hanya jika Zefa sedang mengamuk ingin bertemu Kenzo seperti saat ini.
"Kenapa, Sayang?" tanya Gita lembut.
"Leca kangen cama Uncle Ken," ucap Zefa tiba-tiba. Bagaimana tidak rindu pada Kenzo? Kenzo yang sedari bayi selalu ada untuk Zefa pun tiba-tiba tidak bertemu satu sama lain selama satu bulan terakhir ini. Tentu saja Zefa merasa rindu.
"Kok Zefa belum tidur, Nak?" tanya Gita mencoba mengalihkan topik agar Zefa lupa dengan Kenzo.
"Leca mau dibacakan dongeng cama Uncle Ken," keluh Zefa menundukkan pandangannya.
"Sama Mommy aja, ya? Uncle Ken nya sibuk, Nak," bujuk Gita.
__ADS_1
"Mommy bohong!" cebik Zefa sembari melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya.
"Beneran, Sayang. Mommy nggak bohong," ucap Gita meyakinkan Zefa.
"Huaaaaa!!! Mommy bohong!!! Pokoknya Jepa mau ketemu Uncle Keeeen!!!" teriak Zefa menangis kencang.
Gita hanya terdiam, bingung harus membujuknya dengan cara apa lagi. Si cool Zayn menyusul Zefa ke kamar Mommy nya.
"Zefa! Diam!" sentak Zayn kepada adiknya itu. Bukannya diam, tangis Zefa malah semakin menjadi karena di sentak oleh sang kakak.
"Zayn, kamu nggak boleh bentak-bentak adik kamu kayak gitu, Nak," tegur Gita kepada anak tampannya itu.
"Habisnya dia cengeng sekali, Mom. Aku nggak suka kalau dia cengeng seperti itu. Di sekolah pun dia sering sekali menangis, hanya karena di ejek nggak punya Daddy aja dia menangis! Aku kasihan sama Ms. Anne yang setiap hari harus membujuk dia saat menangis," tutur Zayn panjang lebar dengan dahinya yang berkerut. Baru kali ini ia mengadu pada sang mommy tentang adiknya yang sangat sering menangis di sekolah.
Mendengar kata-kata Zayn membuat air mata Gita seketika meluncur di di pipinya. Bagaimana tidak? Asal mendengar tentang anaknya yang di ejek tidak mempunyai daddy, itu membuat hatinya seperti teriris. Ia merasa bersalah pada anak-anaknya karena keputusannya meninggalkan Zico membuat mereka tidak bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah kandung dari bayi hingga sekarang.
"Mommy ... Mommy kenapa menangis?" ucap Zayn yang merasa bersalah melihat mommy nya menangis, ia menghapus air mata yang membasahi wajah cantik mommy nya. Bahkan Zefa yang sedang menangis kencang pun seketika menghentikan tangisnya dan menatap sang mommy yang sedang menangis terisak. Mereka berdua pun memeluk Gita.
"Mom, Mommy jangan menangis, Jepa minta maaf, Jepa nggak mau cengeng lagi, Mom," ucap putri kecilnya yang wajahnya masih basah dengan air mata itu.
Dipeluk seperti itu membuat Gita merasakan kasih sayang dari mereka berdua dan membuat dirinya semakin merasa bersalah pada anak-anaknya.
Saat Gita sedang berpelukan dengan anak-anaknya, ponsel Gita pun berdering, rupanya ada panggilan dari Yolla. Segera ia seka air matanya dan mencoba mengatur nafasnya perlahan.
"Hai, La!" jawab Gita dengan suara Gita yang masih terdengar seperti orang habis menangis.
(Lo kenapa, Git? Lo habis nangis, ya?) tanya Yolla khawatir dari sebrang telponnya.
__ADS_1
"Hmmm? Enggak kok, La," kilah Gita.
(Git! Lo balik ya ke sini? Gue udah berhasil ambil rekaman itu dari tangan Si Mak Lampir. Lo pasti udah kangen banget kan sama dia?) ajak Yolla tiba-tiba.