
Zico menghampiri Sophia dan mencium punggung tangannya dengan rasa hormat.
“Nak Zico ikut kesini lagi? Apa tidak merepotkan nak?” Tanya Sophia.
“Nggak apa-apa bu, nggak merepotkan sama sekali kok.” Jawab Zico tersenyum.
“Nggak ngerepotin kok bu, kan jengukin calon mertua.. hehe.” Ejek Yolla.
“Auwww! Sakit Gita!” Yolla memekik kesakitan karena pahanya dicubit Gita.
Sophia tertawa kecil melihat Gita yang cemberut pada Yolla.
“Kalian sudah makan belum? Kalau belum sana kalian cari makan dulu.” Pinta Sophia.
“Nanti aja bu, gampang, baru juga kita nyampe masa udah ninggalin Ibu lagi.” Gita memeluk Ibunya lagi dengan manja.
Zico tersenyum melihatnya, ia yang sedang duduk di sofa berdiri dan berjalan menghampiri Gita, membelai rambut Gita.
“Ya udah aku yang belikan aja ya? Kamu mau makan apa?” Tanya Zico.
“Hmmm.. enaknya apa ya? Makan apa ya La yang enak?” Gita malah bertanya pada Yolla.
“Apa aja lah Zi, yang penting bisa buat isi perut, laper banget gue.. hehe..” Sahut Yolla nyengir kuda, ia memang agak kesulitan menahan rasa lapar.
“Iya Zi, terserah kamu aja deh.”Sahut Gita pula.
“Ya udah aku ke bawah dulu ya!” Pamit Zico sambil mengacak-acak pucuk kepala Gita, Kemudian ia pergi meninggalkan ruangan itu.
“Kamu sudah terima Zico ya nak?” Tanya Sophia tiba-tiba, Gita yang sedang minum pun tersedak karena mendengar pertanyaan Ibunya itu.
“Uhukkk.. Uhukkkk.”
“Ditanya gitu doank batuk-batuk.. hahaha.” Yolla tergelak.
Sophia hanya tersenyum melihat putrinya yang salah tingkah.
“Iya bu, udah Gita terima, nggak apa-apa kan ya bu?” tanya Gita.
“Iya nggak apa-apa kok nak, Ibu lihat juga nak Zico terlihat sangat menyayangi kamu, tapi harus diingat pesan Ibu yang waktu itu ya nak.” Sophia membelai rambut putri semata wayangnya itu.
“Iya bu.” Gita menganggukkan kepalanya dan memeluk Ibunya lagi.
***
Zico yang sedang membeli makanan tiba-tiba teringat lagi raut wajah Sean yang murung saat pulang sekolah tadi, ia pun menelpon Sean.
__ADS_1
Zico : (Hallo Sen!)
Sean : (Kenapa Zi?)
Zico : (Lo yang kenapa Sen?!)
Sen : (Lho? Kan lo yang nelpon gue!)
Zico : (Tadi gue liat muka lo bete banget pas mau pulang, lo kenapa? Ada masalah?)
Sean : (Hah? Eng…enggak kok!)
Zico : (Lo nggak usah bohong sama gue! Muka lo tadi nggak enak banget diliatnya! Apa lo berantem lagi sama Yolla ya?)
Sean : (Emang tiap ketemu dia juga gue selalu berantem Zi!)
Zico : (Terus kenapa? Apa Lo lagi kesal sama gue?)
Sean : (Enggak kok Zi, gue cuma Bete aja sekarang nggak ada temen main.)
Mendengar kata-kata Sean ia jadi merasa sedikit bersalah, ia baru menyadari, memang selama ini dirinya dan Sean selalu berdua kemanapun dan kapanpun, tapi semenjak Zico pacaran dengan Gita, Zico selalu menghabiskan waktunya dengan Gita.
Zico menghela nafas panjang.
Zico : (Emang Gilbert sama Keenan kemana? Bukannya lo tadi bilang mau main basket sama mereka?)
Zico : (Oh! Ya udah besok deh ya kita main basket lagi berempat, lo kasih tahu dari sekarang ke Gilbert sama Keenan.)
Sean : (Beneran nggak apa-apa Zi? Gita ngizinin emang?)
Zico : (Nggak apa-apa kok. Besok setelah gue antar dia ke rumah sakit baru deh kita main basket bareng.)
Sean : (Oke Zi!)
Zico pun menutup telponnya, makanan yang dibelinya sudah siap, ia segera membawa makanan itu ke kamar VIP.
Mereka bertiga pun menyantap makanannya, saat selesai makan tiba-tiba saja perawat masuk ke ruangan itu.
“Permisi… Maaf, dokter Ryan meminta wali dari pasien untuk menemuinya di ruangannya.” Tutur sang perawat.
“Baik Sus, nanti saya kesana.” Sahut Gita.
Gita menatap Zico, manik matanya memperlihatkan kesedihan dan ketakutan, Zico yang melihatnya pun menganggukkan kepalanya.
“Zi, Kamu mau nggak temenin aku?” Tanya Gita dengan tatapan memohon.
__ADS_1
“Of course!” Zico tersenyum dan seketika berdiri.
“La, gue titip Ibu sebentar ya, gue ketemu dokter dulu.” Seru Gita, kebetulan Ibunya sudah tertidur karna efek obat yang dikonsumsinya.
“Iya Si, lo yang tenang ya, jangan tegang, semoga nggak ada apa-apa ya.” Yolla memeluk erat Gita.
“Ayo Sus.” Seru Gita, dan segera mengikuti perawat tersebut ke ruangan dokter bersama dengan Zico.
Di ruangan dokter …
“Selamat Sore! Saya akan menjelaskan terkait hasil CT scan Bu Sophia ya, Mmmm... dari hasil CT scan menunjukkan bahwa Bu Sophia menderita kanker darah, tetapi untungnya masih di stadium 2, jadi masih bisa diusahakan untuk diobati, salah satunya dengan kemoterapi.” Ucap dokter tersebut.
Gita terkejut dan tidak sanggup menahan air matanya saat mendengar penjelasan dokter, air matanya mengalir deras tanpa suara. Hanya terdiam, dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Melihat Gita menangis Zico segera menenangkannya dengan merangkul dan menepuk bahunya.
“Baiklah dokter, terimakasih atas penjelasannya, kami akan berdiskusi dulu untuk penanganan selanjutnya dok.” Sahut Zico, dan segera menuntun Gita keluar dari ruangan Dokter Ryan.
Gita tiba-tiba duduk lemas di kursi yang ada dilorong rumah sakit.
“Zico, aku nggak punya siapa-siapa lagi selain Ibu, aku nggak mau kehilangan Ibu.” Gita mulai terisak, Zico pun segera memeluk erat Gita.
“Sayang.. kan kamu dengar sendiri tadi dokter bilang Ibu masih stadium 2 dan masih ada harapan, masih bisa di obati.” Hibur Zico sembari mengecup pucuk kepala Gita. Ia melanjutkan, “Jangan berpikir aneh-aneh ya sayang, kita harus yakin kalau Ibu pasti bisa sembuh, nanti aku akan tanyakan Uncle Felix gimana baiknya untuk metode pengobatan Ibu.” Imbuh Zico.
Gita hanya menganggukkan kepalanya, posisinya masih dalam pelukan Zico.
“Sepertinya aku harus bekerja paruh waktu Zi, Ibu nggak akan mungkin bekerja lagi.” Ucap Gita sambil menunduk lemas.
“Nggak perlu sayang, kan ada aku, aku akan bilang Mommy memenuhi segala kebutuhan kamu dan membiayai rumah sakit ini, kamu cuma perlu fokus belajar aja, jangan pikirkan hal lainnya.” Sahut Zico sambil memeluk Gita dan mencium rambutnya.
“Nggak Zico! Jangan! aku nggak mau merepotkan kamu apalagi Mommy, aku mau kerja paruh waktu saja.” Jawab Gita sambil menangis terisak.
Zico terdiam sejenak, dia tau Gita tidak akan setuju begitu saja dengan ucapannya, ia berkata “Mmmm… Baiklah, tapi untuk biaya rumah sakit biar aku aja ya yang membiayai, kamu hanya perlu kerja untuk biaya hidup kamu aja, jadi kamu nggak perlu bekerja terlalu keras, okay?"
“Hmmm.. Baiklah, Makasih Zi, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan kalau kamu nggak ada di samping aku saat ini.” Ucap Gita masih menangis sambil memeluk Zico.
Lalu mereka berjalan menuju kamar Sophia, dan ternyata Sophia masih tertidur, Yolla juga ikut tertidur di atas sofa.
Gita membangunkan Yolla, menepuk-nepuk pelan tangan Yolla.
“La... La... Ibu udah tidur, kamu pulang aja La, ini udah malem banget.” Gita berbisik kepada Yolla.
“Hmmm? Lo udah selesai Si? Gimana? Apa kata dokter?” Dengan mata yang masih setengah tertutup Yolla bertanya karena penasaran dengan hasilnya.
Gita menunduk, lagi-lagi ia menangis terisak, ia menutup mulutnya agar tak bersuara, dadanya terasa sangat sesak.
__ADS_1
“Si? Kenapa? Kok lo malah nangis?” Yolla terkejut melihat reaksi Gita, ia segera memeluk Gita sangat erat, bahkan ia pun turut menitikkan air matanya.