Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 100


__ADS_3

Setelah mengeluarkan seluruh jurus bujuk-membujuk, rayu-merayu akhirnya Ia di perbolehkan keluar dengan Salsa, dengan satu syarat, harus pulang sebelum jam delapan malam. Its okey, itu sudah lebih dari cukup dari pada tidak sama sekali.


Sebelum pergi ia menyempatkan diri mengecup kedua pipi Alvi. "Dah kesayangan."


"Hati-hati Al jangan lari-lari mulu."


"Iya sayang," sahut Alana tanpa berbalik berlari kecil menuju pintu.


Baru saja Alana akan membuka pintu, pintu terlebih dahulu di bukan oleh Hendri membuatnya hampir menunbruk tubuh kekar itu.


"Hay kak Hendri," sapa Alana riang. "Pengen di cium juga nggak?"


"Alana!" tegur Alvi.


"Canda doang Aa, posesif banget," ujar Alana sebelum benar-benar pergi dari ruangan Alvi. Tanpa ia sadari perlakukannya tadi mengundang masalah bagi Hendri, kini lelaki itu mendapat tatapan tajam dari suaminya.


Tak sampai di situ saja, sepanjang koridor bahkan lobi, Alana menyapa satu persatu karyawan yang ia lewati, mau sekedar tersenyum atau langsung memberi semangat. Tempat ini bukan tepat asing baginya, dari kecil ia sering keluar masuk perusahaan bersama bunda Anin. Tentu saja karyawan lama tahu padanya.


Taksi membawa dirinya kesebuah taman yang selalu menjadi tempat favoritnya bertemu dengan Salsa, taman yang sepi tetapi terlihat sangat indah karena berada di tepi danau.


Alana mendudukkan diri di bangku taman ketika tak mendapati Salsa di sana, menghilangkan kegabutan dengan bermain ponsel, hingga suara hewan mengalihkan atensinya.


Meong.


Alana bangkit mencari dari mana sumber suara itu, senyumnya mengembang ketika melihat kucing begitu lucu di semak-semak, ia berniat menangkap kucing mengemaskan itu, tetapi kucing itu terus berlari menghindarinya.


Hap


"Yey dapat." girang Alana langsung berdiri.


Dugh


Ia mendongak ketika kepalanya membentur sesuatu. "Kalau mata pakai jalan om," ujar Alana mengusap kepalanya. "Eh salah om, kalau jalan pakai mata," cengir Alana tanpa dosa.

__ADS_1


Ia kebingungan ketika salah satu dari pria bertubuh kekar dan berwajah menyeramkan itu menarik tangannya dengan kasar, ia meronta minta di lepaskan hingga penjahat itu melepaskan tangannya.


"Kalian mau apa? mau culik saya?" tanya Alana spontan tetap memeluk kucing yang baru saja ia dapat.


"Iya!" tegas salah satu dari mereka.


"Yaudah jangan narik-narik, tinggal bilang apa susahnya." gerutu Alana. "Ayo!" jalan terlebih dahulu meninggalkan ketiga pria betubuh kekar.


Baru kali ini mereka mendapat mengsa sangat bodoh dan penurut, karena dengan senang hati ikut dengan mereka tanpa paksaan.


"Mobilnya mana om botak?" tanya Alana lagi.


Ia menyerahkan kucing pada salah satu pria itu. "Gendong kucing saya jangan sampai lepas, awas aja."


Sedangkan salah satu dari mereka menunjuk mobil untuk menyuruh Alana masuk, tetapi lagi-lagi mereka kena mental mendengar cibiran gadis aneh itu.


"Mobilnya jelek banget, lain kali kalau mau nyulik seseorang, pakai yang lebih mewah biar nyaman, gimana sih, belum profesional banget," cibirnya.


Mobil mulai melaju meninggalkan taman sunyi itu, jujur saja tangan dan kaki Alana gemetar, tapi ia lebih memilih ikut dari pada harus di kejar-kejar di taman tanpa seseorang di sana. Ia terus membuat ulah di dalam mobil.


"Om Botak!" bentak Alana. "Ayo liat cemen banget takut sama kucing."


Kedua lelaki di belakang kemudi mengulum senyum melihat ekspresi tertekan pria yang duduk di samping Alana. Baru kali ini mereka melakukan misi penculikan tanpa adengan kekerasan malah ternistakan.


Lama Alana terdiam memikirkan cara agar lolos dari pria-pria seram di dalam mobil itu hingga satu ide muncul di kepalanya. Untung saja dirinya kebetulan ingin buang angin.


"Ah leganya," ujar Alana memasang ekspresi tak berdosanya, bahkan ia sendiri ingin muntah mencium angin surganya sendiri.


"Om kayaknya aku pup deh."


"Jangan banyak alasan kamu."


"Ih beneran, mau nyium nggak?"

__ADS_1


"Baiklah-baiklah." lelaki yang mengemudi mobil itu berenti di sebuah cafe yang lumayan ramai.


"Makasih om, jagain kucing saya om, awas kalau hilang."


"Cuma mau pup kenapa tasnya di bawa?" cegah salah saru dari mereka.


"Mau makan juga Om, yakali numpang pup nggak makan. Dahlah, om tunggu di sini saya mau makan dulu, awas ninggalin saya."


Alana memilih tempat duduk bagian pojok dekat jendela, memperhatikan ketiga pria bertubuh kekar itu. Ia menggigit kuku-kuku jarinya memikirkan solusi apa yang akan membuatnya terbebas dari penculik itu.


Mau menelepon seseorang ia juga tidak bisa, ponselnya tertinggal di taman. Tak ingin berlama-lama di dalam cafe tersebut, Alana nekat kabur lewat pintu belakang, tetapi nihil ia kurang hati-hati hingga salah satu penculik itu melihatnya.


"Woy jangan lari kamu!" teriak salah satunya mengejar Alana.


"Ayah tolongin Alana. Alana mau di culik om-om." teriaknya tak peduli dengan sekitarnya.


Karena panik secara random ia menyetop kendaraan, untung saja ada orang yang berbaik hati berhenti dan memberinya tumpangan.


"Makasih Tante," ujarnya ketika berhasil lolos dari para penculik, kini ia berada di dalam mobil seorang wanita paruh baya.


"Sama-sama Alana."


"Iya...." Perkataan Alana terjeda ketika menyadari sesuatu yang aneh. "Tante kenal sama saya?"


"Tantu saja saya mengenali menantuku." jawab wanita paruh baya itu.


"Menantu?"


...TBC...


Hay Dedek balik lagi, ada yang rindu nggak sama dedek?🤗, kayaknya nggak, kalian hanya rindu sama Aa aja🤧.


Ada yang tau wanita paruh baya itu siapa?

__ADS_1


Jangan lupa, vote, like, dan komen readers tersayang Dedek.


__ADS_2