Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 104


__ADS_3

Dengan suara lirih dan setengah sadar, Alana terus menyebut nama Alvi berulang kali, bahkan setelah ia sadarpun orang pertama yang ia cari adalah Alvi, tetapi lelaki itu tak kunjung datang menghampirinya.


Ia menatap bunda Anin bergantian dengan ayah Kevin yang kini tersenyum kearahnya, "Aa aku mana?" lirih Alana.


"Syukurlah kamu baik-baik saja sayang, bunda khawatir banget," ujar bunda Anin tak ingin menjawab pertanyaan Alana.


"Aa aku mana bunda, yah?" ulang Alana.


"Alvi ke kantor banyak urusan makanya nggak bisa jagain kamu." Kali ini ayah Kevin angkat bicara.


Alana mengangguk mengerti, walau ada rasa kecewa bersarang di hatinya mendengar jawaban itu, kenapa Alvi lebih mementingkan pekerjaan di banding dirinya?


"Makan dulu ya setelah itu minum obat biar cepat sembuh." Bujuk bunda Anin.


Alana mengeleng, selera makannya hilang entah kemana, ia merubah posisi tidurnya membelakangi ayah Kevin juga bunda Anin. Ia meringis kesakitan ketika mengerakkan kaki juga kepalanya, sangat nyeri, belum lagi tulangnya terasa sangat remuk.


"Makan dulu sayang."


Lagi dan lagi Alana mengeleng, "Aku mau makan sama Aa."


"Jangan manja, Alvi tidak akan datang." Tegas Kevin.


Bunda Anin seketika melayangkan tatapan mautnya melihat tingkah suaminya yang sangat egois tanpa memikirkan perasaan putrinya sendiri. Apa belum cukup ia mengusir Alvi pagi tadi?


"Mas!" tegur Anin.


"Ayah kenapa?"


"Ayah nggak papa cuma kecapean aja," jawab bunda Anin, wanita paruh baya itu mengecup kening Alana sebelum berdiri. Bunda Anin juga menyerahkan ponsel pribadinya pada Alana.

__ADS_1


"Ponsel kamu rusak, pakai ponsel bunda dulu sampai kamu punya yang baru. Bunda pulang dulu kalau ada apa-apa telfon ya!"


Sebenarnya Anin tidak tega meninggalkan Alana sendiri di rumah sakit, tetapi ia juga tidak ingin Kevin semakin berulah dan malah membuat Alana semakin down.


Alana hanya menjawab dengan anggukan, setelah kepergian kedua orang tuanya, ia mengambil ponsel bunda Anin, mengetikkan beberapa angka yang ia hafal di luar kepala.


Deringan pertama langsung terhubung, tetapi belum ada suara dari seberang telfon.


"Aa," lirih Alana. "Kenapa nggak jengukin aku?"


Hening, tak ada sahutan dari Alvi, hanya suara nafas lelaki itu yang terdengar.


"Aa," rengek Alana dengan suara manja.


"Apa sayang?" akhirnya Alvi bersuara.


"Aa di mana? aku sendiri."


"Penting banget sampai nggak bisa di tinggalin? aku kangen sama Aa. Aku lapar belum minum obat juga."


Suasana kembali hening.


"Lebih penting mana pekerjaan atau aku?"


"Pekerjaan," sahut Alvi.


Nyess, sekarang bukan hanya fisik yang sakit, bahkan sesuatu yang tak terlihat dan tak terluka juga ikut sakit mendengar jawaban menyakitkan Alvi, hanya satu kata tetapi mengandung banyak makna.


"Sayang."

__ADS_1


"Nggak usah manggil sayang A." suara Alana tercekat menahan tangis. "Jangan terlalu lelah, ingat kesehatan."


Alana memutuskan sambungan telfon begitu saja, menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan luas itu, hatinya terasa perih bagai di remas-remas tangan tak kasat mata. Kenapa di saat ia membutuhkan dukungan Alvi, lelaki itu malah mengecewakannya.


Tanpa ia sadari sedari tadi ada yang memerhatikan dari luar.


"Maafin Aa Al." lirih Alvi.


Bohong jika pekerjaan lebih penting dibanding Alana, munafik jika ia mengatakan itu, sedari tadi Alvi tak pernah beranjak, setia berdiri di depan pintu hanya untuk memastikan istrinya baik-baik saja.


Alvi terus memerhatikan Alana lewat jendela, rasanya ia ingin memeluk tubuh rapuh itu, tak tega melihat istrinya menangis, apa lagi gadis itu baru saja sadar.



Rasa sabar yang selama ini ia stok hilang ketika melihat Alana tak sadarkan diri di dalam ruangan itu, ia memaksa masuk walau ketiga pengawal menghadangnya di depan pintu.


"Lepasin gue sial*an!" geram Alvi.


"Maaf pak, tuan Kevin tidak membiarkan anda masuk."


Bugh


Satu bogeman mendarat di wajah pengawal pribadi ayah Kevin. "Gue suaminya, lo nggak ada hak larang gue ketemu dengan Alana."


Berhasil melumpuhkan ketiga pria berbadan tegap itu, Alvi menerobos masuk, memencet bel di samping brangkar untuk memanggil dokter.


"Maafin Aa buat kamu nangis, Aa janji ini yang terakhir."


...TBC...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan Votenya akak cantikšŸ¤—


__ADS_2