Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 96


__ADS_3

Sesuai perkataan Alana, ia menemani Alvi cukur sebelum pulang kerumah ia juga meminta kak Hendri mengantarkan dirinya kesuatu tempat. Lumayan jauh dari kota.


Ia terus mengelus rambut Alvi yang kini memeluknya, lelaki itu terus saja bersin tak henti-henti padahal kaca mobil sudah di tutup tak ada cela untuk debu masuk.


"Kak Hendri!" panggilnya.


"Iya Nona," sahut Hendri tanpa menoleh.


"Ngapain mamggil-manggil Hendri?" protes Alvi menatapnya.


Ia mengabaikan pertanyaan Alvi, dan malah berbicara dengan asisten kepercayaan lelaki itu. "Jangan noleh ya kak!"


Hendri menggangguk, bahkan asisten pribadi suaminya mengeser spion di depanya, agar tak melihat apa yang akan ia lakukan di belakang.


Bukan tanpa Alasan ia menyuruh kak Hendri, ia hanya tak ingin Hendri melihat betapa manjanya Alvi ketika sedang sakit atau bersamanya. Ia selalu berusaha menjaga image suaminya agar wibawa dan kesan dingin lelaki itu tidak hilang.


Sedangkan Alvi menatapnya dengan alis terangkat, mungkin heran dengan permintaan yang baru saja ia lontarkan. Ia melempar senyum mengecup hidung memerah Alvi.


Alvi kembali bersin kali ini sangat besar bahkan percikannya tepat mengenai wajahnya. Bukannya marah ia malah tertawa kecil, mengambil tisu lalu melapa wajahnya, tak lupa ia juga mengambil tisu untuk Alvi.


"Kita pulang aja kalau gitu."


"Aa nggak papa, kamu ada urusan kan? Aa cuma ngantuk."


Alana menepuk pahanya, tapi Alvi mengeleng dan semakin mengeraktkan pelukannya. "Nggak mau, nggak suka."


"Gemas banget suami aku." gemesnya mengecup bibir tebal Alvi yang sedang manyun, lalu kembali memeluk Alvi agar bersandar di dadanya, ia terus mengelus rambut bergantian dengan pundak Alvi, mencoba memberikan kenyamanan.

__ADS_1


Tak terasa mereka sampai juga di tempat tujuan, perlahan-lahan Alana memindahkan kepala Alvi agar bersandar di sandaran kursi, tetapi lelaki itu malah terbangun.


"Mau ke mana?"


"Ke sana." menunjuk sebuah rumah berwarna hijau yang tidak terlalu besar.


"Ikut."


"Nggak Aa, di luar banyak debu, ntar Aa bersin-bersin lagi, aku cuma sebentar."


Sebelum turun dari mobil Alana merapikan kemeja Alvi dan mengacingkan bagian atasnya, tak lupa ia menyuruh Alvi bergeser sedikit.


Setelah sedikit lama berbincang-bincang dengan penghuni rumah ber chat hijau itu, Alana kembali tapi tidak sendiri, ia membawa dua orang wanita yang masih muda seumuran dengan Alvi. Ia menyuruh para wanita itu masuk kedalam mobil, dan duduk di bagian belakang, tetapi dua wanita itu bergeming seperti ragu untuk masuk ke dalam mobil apa lagi ketika Alvi menatap dengan tatapan dingin.


"Kami naik bus saja Nona, nggak enak," ujar salah satu wanita.


Alana membuka pintu mobil, menyuruh Alvi sedikit bergeser agar dua wanita itu bisa masuk dan duduk di jok paling belakang. Setelahnya ia juga masuk duduk di samping Alvi.


Ia tersenyum ketika Alvi melap pelipisnya yang di penuhi keringat karena habis panas-panasan.


"Makasih Aa."


"Kakaknya perhatian banget ya neng," ujar salah satu wanita yang melihat betapa perhatiannya Alvi pada calon majikannya itu.


Alana tertawa, menoleh ke belakang. "Bi Neneng nggak cerita apa-apa sama kalian?" tanyanya masih tertawa.


Sontak kedua wanita itu mengeleng.

__ADS_1


"Dia suami aku Bi, ganteng kan?" Bangga Alana memperkenalkan Alvi pada Asisten rumah tangga barunya, bahkan ia tanpa malu memeluk lengan Alvi yang sedari tadi duduk tegap dan fokus menatap kedepan.


"Oalah suami neng ternyata."


"Maaf ya neng."


"Santai aja Bi."


Entahlah ada apa dengan hati dan jiwa Alana, ia tak pernah sekalipun merasa paling di atas di antara para manusia di bawahnya, hidup bergelimang harta sejak lahir tak membuatnya sungkan berbaur dengan siapa saja. Bahkan ia jauh-jauh datang ke kampung bi Neneng untuk menjemput dua tetangga Bi Neneng agar bekerja di rumahnya.


Sesampainya di rumah, Alana menemani Alvi istirahat di kamar setelah membersihkan diri, tak lupa menyuruh lelaki itu minum obat. Hanya setengah jam istirahat Ia kembali menemui bi Neneng dan dua asisten rumah tangga lainnya, entah mengapa hari ini ia begitu bersemangat mengurus rumah, mungkin karena demi kesehatan suaminya.


"Kok cangung gini?" tanyanya ketika mengunjungi rumah belakang di mana tempat para Art tinggal.


"Nggak kok Neng."


Alana tidak mengerti jalan pikiran orang-orang terhadapnya, ia selalu ingin berbaur dengan Asisten rumah tangganya, tapi mereka selalu saja sungkan padahal sebisa mungkin ia bersikap ramah.


Ia menjelaskan secara rinci apa-apa saja yang harus di lakukan para Artnya, mulai kebersihan rumah, hingga barang-barang yang tidak di pakai segera di singkirkan agar tidak menjadi saran tertinggalnya debu. Itu juga ia lakukan agar bi Neneng dan yang lainnya tidak terlalu kesusahan jika membersihkan rumah nantinya.


Ia lakukan itu semua demi sang suami, agar tidak gatal dan bersin-bersin.


...TBC...


Hay-hay dah lama ternyata Aa Alvi dan Alana nemenin kalian, udah hampir 100 part ya? pas buat cerita ini dedek tergetin partnya cuma 100, tapi karena rame dedek rencana mau lanjut.


Readers tersayang dedek pilih mana nih? lanjut apa mentok di 100 aja?

__ADS_1


__ADS_2