Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 141


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membelah padatnya jalan raya menuju rumah orang tua Alana. Mereka tinggal di sana untuk sementara waktu karena permintaan bunda Anin. Tujuannya agar Kevin dan Alvi lebih dekat sebagai menantu dan mertua.


Alvi menghela nafas panjang, saat beberapa kilo meter lagi akan memasuki kompleks elit rumah orang tua sang istri. Bagaimana tidak, gadis yang selama perjalanan diam saja kini protes tiada henti.


"Ngapain kerumah bunda? aku kan mau pulang kerumah. Oh atau ini akal-akalan kamu biar yang di salahin aku." tuduh Alana.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?"


"Kenapa? nggak mau nganter? yaudah turun di sini aja, biar aku naik taksi kerumah."


"Bukan gitu sayang."


Alana tak menjawab lagi, gadis itu menyandarkan kepalanya pada pintu mobil, memerhatikan gedung-gedung pencakar langit yang mereka lewati, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja untuk di ajak bicara, apa-apa emosi. Mungkin karena ia sedang haid.


Dengan sabar Alvi menghadapi kelakuan istrinya, karena dari yang ia pelajari, perempuan haid sangat sensitif dengan apapun dan selalu emosi jika di ajak biacara.


Alvi membanting setir kemudi, putar balik menuju rumah mereka. Tanpa Alvi tahu Alana bukan sensitif karena datang bulan, melainkan marah karena kejadian di sekolah.

__ADS_1


"Mau makan apa?" Menoleh sebentar, meraih tangan gadisnya tetapi Alana dengan cepat menarik tangannya lalu menyembunyikan di sisi tubuhnya.


"Terserah!" cuek Alana


Kata terserah yang di lontarkan Alana sunggu menguji kesabaran Alvi. Gadis itu mengatakan terserah, tapi setiap Alvi berhenti di suatu tempat, gadisnya selau menolak dan tidak ingin makan di sana. Alhasil mereka pulang tanpa makan apapun.


Tak ingin Alana kelaparan, Alvi menyuruh bi Neneng untuk meyiapkan makan siang sebelum menyusul sang istri ke kamar. Alvi mendapati gadisnya tengah duduk di pinggir ranjang seperti memikirkan sesuatu.


Meletakkan tas kerja juga jasnya di sofa, Alvi lalu menghampiri Alana duduk di samping gadis itu lalu memeluk pundak Alana, takut gadisnya ada masalah.


"Kamu kenapa sayang?"


Kesal? tentu aja Alana kesal, Alvi tak pernah peka dengan apa yang inginkan, harusnya lelaki itu menjelaskan apa yang terjadi di sekolah, ini malah laki-laki itu bersikap layaknya tak terjadi sesuatu. Mungkin menurut Alvi itu tidak penting, tapi baginya sangat penting.


"Nggak usah meluk-maluk." Menghempaskan tangan Alvi berulan kali. "Aku nggak sudi di peluk sama bekas perempuan lain," lirih Alana menundukkan kepalanya.


Alvi baru tersadar akan satu hal, Alana marah padanya karena Tania baru saja memeluknya. Buru-buru laki-laki itu masuk ke kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya. Setelah itu barulah ia menghampiri Alana.

__ADS_1


"Udah bersih sayang, sini!" Menarik Alana ke pelukannya.


"Kalau ada yang meluk Aa, jangan diam saja, aku nggak suka milik aku di peluk orang lain." membenamkan wajah pada dada bidang Alvi.


"Maaf sayang, Aa tadi kaget karena wanita itu tiba-tiba meluk Aa." Mengusap kepala Alana. "Kamu ke sekolah kok nggak ngabarin Aa?"


"Biar apa? biar Aa hati-hati dan nggak kepergok kayak tadi?"


Disaat marah saja istrinya sangat mengemaskan seperti ini, apa lagi saat tersenyum atau tertidur.


Alvi mengira semuanya telah selesai, Alana sudah memaafkannya, ternyata salah, Terbukti sekarang ia tidak bisa masuk ke dalam kamar selama 24 jam sebagai hukuman karena di peluk wanita lain.


***


Jangan lupa like, komen, dan vote!


Oh iya mampir juga di novel kakak aku yuk

__ADS_1



__ADS_2