Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 57


__ADS_3

"Aa!" panggil Alana ketika baju yang ia cari belum juga di temukan, entah mengapa ia sangat ingin memakai baju itu malam ini.


"Hm." gumam Alvi masih fokus dengan laptop di hadapannya, tak memperdulikan sang istri yang kini berkacak pinggang di sampingnya.


"Aa pasti tahu di mana baju itu." todong Alana.


Alvi menelan salivanya susah payah, semoga saja Alana tidak curiga padanya, ia menyingkirkan baju itu dari rumah ini, karena tidak ingin memakainya, tapi ia juga tidak mampu jika menolak permintaan sang istri.


"Nggak Al, beneran." tanpa menatap Alana.


"Oh kirain." gumam Alana berjalan ke arah pintu kamar.


"Mau kemana?"


"Mau ambil minum."


"Turun tangganya hati-hati jangan lari-lari kayak anak kecil!" omel Alvi sebelum Alana keluar kamar, lelaki itu sering melihat istrinya nain turun tangga berlari atau bermain ponsel.


"Iya Aa bawel." sahut Alana kemudian menghilang di balik pintu, ia sebenarnya bukan mau mengambil minum tapi untuk menemui bi Neneng dan kebetulan wanita paruh baya itu masih ada di dapur.


Ia mendudukan diri di atas meja pantri. "Bi..." panggilnya membuat wanita paruh baya itu menoleh.


"Bibi nggak pernah liat baju tidur upin-ipin couple aku?"


Bi Neneng diam sejenak tak langsung menjawab pertanyaannya istri tuannya.


"Bibi nggak tau neng, tapi bibi pernah di suruh sama tuan buang baju motif upin-ipin di tempat sampah." jawab bi Neneng jujur.


"Oh gitu ya." Alana menganguk paham. "Pekerjaan bibi udah selesaikan?" gadis itu melirik jam dinding 21:13 belum terlalu larut.


"Iya neng, si Eneng butuh sesuatu?"


"Nggak bi, malam ini bibi nggak usah nginep ya, nanti pulangnya di antar mang jaja." ujar Alana tak enak.


Bi Neneng menelan salivanya kasar, apa ia salah bicara lagi? jika Alana atau Alvi menyuruhnya pulang tiba-tiba berarti sebentar lagi mereka akan bertengkar, berakhir diam-diaman di pagi hari.


Setelah mengantar kepergian bi Neneng Alana kembali masuk kedalam kamar, wajah kesal ia gantikan dengan senyuman. Awas saja, ia akan memberi pelajaran pada Alvi, lelaki itu telah membohonginya. Ia tidak suka orang yang berbohong, apa susah jika lelaki itu mengatakan yang sebenarnya?


Ia tak menyapa Alvi, melainkan langsung membaringkan diri di atas ranjang, tidur memunggungi lelaki itu.


Melihat kedatangan Alana di dalam kamar, Alvi menghampirinya, ikut tidur di samping gadis berambut indah tersebut, namun pergerakan kakinya tertahan mendengar perkataan gadisnya.


"Aku mau minum Aa." Tanpa merubah posisinya.


"Bukannya tadi kamu keluar buat ambil minum?" heran Alvi.


"Aa nggak mau? iya? yaudah biar aku saja." Baru saja akan bangun Alvi kembali bersuara.


"Aa aja, sekalian buat susu untuk kamu."


Alana menyeringai di balik selimut mendengar suara pintu tertutup ia bangun dari tidurnya, lalu mengunci pintu kamar rapat-rapat kemudian kembali tidur. Malam ini ia akan menghukum Alvi agat tidak berbohong lagi padanya.


"Alana!" panggil Alvi terus mengendor daun pintu. "Buka ini Aa."

__ADS_1


"Males bangun Aa, malam ini tidur di luar aja." sahut Alana.


"Sayang, aa salah apa?" rengek Alvi di depan pintu, air minum dan segelas susu ia letakkan di atas meja sofa yang terdapat didepan kamar mereka. Tempat menghabiskan waktu jika bosan di dalam kamar.


"Aa bilang nggak tau, tapi kata bi Neneng Aa yang nyuruh bibi buang baju itu. Aku nggak suka di bohongi Aa!"


"Maafin Aa Al, ia Aa salah, sekarang buka pintunya! Aa ngantuk."


"Rumah ini punya tiga kamar Aa, kasian kamar yang lain kedinginan nggak ada penghuni, mending aa tidur di sana."


Alvi meninju udara di sekitarnya gemas sekaligus kesal, selama mereka menikah, ia tidak pernah tidur terpisah dan malam ini ia akan mengalaminya.


"Mall masih buka, kita beli sekarang." bujuk Alvi, kini ia menyandarkan punggungnya di daun pintu berharap Alana akan membukakan pintu.


"Udah nggak mood."


"Alana!"


"Sayang!"


"Buka Al."


Alvi terus merengek namun yang di panggil sudah terlelap terbang ke alam mimpi.


Jam 2 dini hari, mata lelaki itu tak kunjung tertutup, ia ngantuk namun tak bisa tidur jika tidak memeluk tubuh yang menjadi candu baginya.


Ia terus memandangi layar Tv didepannya, namun tak ada satupun siaran yang menarik perhatiannya pikiran lelaki itu terus di penuhi cara bagaimana Alana tidak marah padanya.


Dari awal baju couple upin-ipin itu sudah membawa masalah baginya.


Jam lima subuh, Alana membuka pintu kamar setelah menunaikan sholat subuh, ia berencana membangungkan sang suami.


Mata gadis berambut indah tersebut membulat sempurna melihat Alvi duduk di depan Tv? ia berjalan lebih cepat menghampirinya.


"Ya ampun Aa." Alana duduk di samping Alvi, menangkup kedua rahang itu. Seketika ia menyesal ngambek semalam.


Lingkarang hitam memenuhi kantung mata Alvi, menjadi bukti bahwa lelaki itu benar-benar terjaga semalam.


"Alana." Alvi memeluk tubuh mungil gadisnya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Jangan giniin Aa lagi."


Alana terkekeh, melihat tingkah Alvi yang begitu mengemaskan. "Jangan bohong lagi."


Cup


Ia mengecup bibir tebal Alvi setelah melerai pelukannya. "Sholat dulu!"


"Aa ngantuk."


"Sholat dulu Aa sayang, setelah itu tidur lagi."


"Temenin tapi."


"Iya suamiku."

__ADS_1


Usai sholat subuh, Alana menepati janjinya menemani Alvi. Gadis itu perlahan-lahan bergerak menyingkirkan lengan kekar pada pinggangnya setelah dirasa lelaki di sampingnya benar-benar terlelap.


Ia merapikan piyama tidurnya yang acak-acakan, kancing bagian atasnya terlepas akibat kenalan Alvi sebelum tidur. Gadis itu mengembangkan senyumnya, melihat tingkah Alvi akhir-akhir ini jauh lebih hangat dan sangat mengemaskan.


Gadis berambut indah tersebut mematut dirinya di depan cermin, memerhatikan tubuhnya di balik seragam putih abu-abu.


Tak lupa ia menutupi tanda kepemilikan yang baru saja Alvi ciptakan di bagian lehernya dengan fondation. Alana mengernyit saat menyadari sesuatu pada tubuhnya.


"Aku gemukan nggak sih?" tanyanya pada diri sendiri, baju yang biasanya pas di tubuh mungilnya kini terasa sesak.


Dengan nakal ia melirik bagian dadanya. "Kok makin besar?" heran Alana.


Tak ingin ambil pusing, ia menyambar tas punggung kesayangan di atas meja. Tak lupa mengecup bibir tebal yang mengoda itu.


"Aku pamit Aa."


Sebelum pergi, ia menghampiri bi Neneng di dapur.


"Tumben Neng telat bangun."


"Maaf ya bi, Alana nggak bantuin masak hari ini."


Alana mendudukkan diri di meja pantri, setelah mengambil makanan yang telah bi Neneg buat.


"Bi, Alana minta tolong, kalau Aa dah bangun, di bikinin sarapan ya!" pinta Alana. "Jangan di bikin kopi kalau Aa minta, bilang Alana nggak ngizinin."


"Iya Neng."


Lagi, gejolak aneh dalam perutnya kembali muncul, padahal ia baru saja makan sesuap. Ia berlari ke arah wastafel menuntaskan apa yang ingin keluar, tetap saja hanya cairan kuning dan juga ampas makanan yang baru saja ia telan.


"Si Eneng nggak papa?"


Alana hanya mengangkat sebelah tangannya pertanda baik-baik saja, mencuci mulutnya lalu melapnya dengan tisu, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.


"Aku nggak papa Bi, lanjut aja." ujar Alana meraih tasnya, Keenan sudah ada di depan untuk menjempunya, tentu saja ia yang minta sebelum keluar dari kamar.


"Nggak sarapan?"


"Nggak selera bi."


"Apa jangan-jangan neng Alana hamil, sudah hampir dua minggu terus muntah-muntar." gumam Bi Neneng setelah Alana menghilang di balik pintu.


Keenan, cowok tersebut membuka kaca helm full face nya ketika melihat Alana berjalan ke arahnya, Tak lupa ia memberikan senyuman manisnya pada sang sepupu.


Memakaikan helm yang ia bawa untuk Alana.


"Tumben nggak bareng pak Alvi?"


"Nggak enak badan dia bang."


"Akhirnya bisa bonceng lo lagi." Keenan menepuk-nepuk helm yang di pakai Alana membuat gadis itu tertawa.


"Kangen ya?" ledek Alana. "Maaf bang, adek sudah ada yang punya."

__ADS_1


...TBC...


Author sengaja up malam ini buat nemenin para readers tersayang malming🤭


__ADS_2