
Alana, gadis berambut indah tersebut tak menyia-nyiakan kesempatan saat bekapan di mulutnya terlepas.
"Siapapun lo, lo kira gue takut hah!" maki Alana walau kakinya sudah gemetaran karena seseorang yang menariknya menghimpit tubuhnya ke tembok.
"Goblok!" Makinya sekali lagi. "Lo salah orang, lo nggak tau gue siapa hah? gue anak kesayangan Tuan Kevin, gadis kesayangan Avegas dan gue juga...."
Cup
Mata Alana membulat sempurna saat benda kenyal menyentuh bibir seksinya, ia mendorong tubuh kekar itu agar menjauh, jika di sinetron-sinetron, mungkin gambar api beserta asapnya berkobaran di sekitar gadis itu.
"Lo mau mati hah? Kalau suami gue tau lo bakal di hajar habis-habisan!" emosi Alana.
"Yang mau di hajar siapa yang mau ngehajar siapa , hm?"
"Aa." lirih Alana katika suara itu mirip suaminya.
"Dalem sayang?"
Alvi meringis kesakitan campur tawa ketika Alana memukul dadanya membabi buta.
"Dasar guru mesum, nggak tau apa jantung aku hampir copot tadi." kesal Alana. "Ngapain coba pakai acara culik-culikan segala."
Cup
Alvi kembali mengecup benda kenyal itu agar berhenti mengomel.
"Jangan ribut bisa?"
"Nggak," jawab Alana. "Aku mau ke kelas, Aa nggak takut apa kalau ada siswa yang liat?"
"Terus kenapa? mereka juga sudah tau kita udah sah."
"Aku nggak mau ya wibawa Aa turun karena orang lain liat Aa seperti ini."
"Aa kenapa?"
"Bucin."
Alvi mengulum senyum tanpa Alana sadari karena mereka memang hanya bisa saling bicara dan bersentuhan tanpa bisa melihat satu sama lain saking gelapnya.
Karena penasaran dengan ekspresi gadisnya yang mungkin sangat mengemaskan, Alvi dengan sigap mengambil ponsel di saku jasnya kemudian menyalakan Flash.
"Ngapain manyun-manyun gitu Hm?" Masih mengulum senyum." Minta di Cium, Iya?"
"Ingat tempat Aa."
"Aa ingat kok, Aa cuma mau makan siang pembuka makanya ketemu kamu."
"Nggak ada, itu cuma berlaku di rumah."
Tak ada sahutan dari Alvi, lelaki itu malah fokus pada tangan gadisnya yang sedang memegang kotak makan, padahal Alana tidak membawa bekal tadi.
__ADS_1
"Dari siapa?" Intro Alvi.
"Oh ini." Menunjuk kotak makan berwarna kuning ke sukaannya. "Dari pak Dirga."
"Oh." Datar Alvi.
"Jangan ngambek dulu napa, aku ngambil ini karena nggak enak sama pak Dirga Aa. Aku nggak ada niatan memakannya, rencana mau aku kasih ke teman sekelas."
"Masuk kelas, jangan lupa belajar, bel bentar lagi bunyi," ujar Alvi hendak berbalik, namun tangannya di tarik oleh Alana.
Gadis itu dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Alvi. "Ambekan banget sih suami aku, mau makanan pembuka kan?" tanyanya.
"Nggak jadi," sahut Alvi datar.
Tanpa pikir panjang lagi, Alana mengecup bibir tebal itu, sedikit membenamkan bibirnya menunggu Alvi yang memulai. Namun, lelaki itu tetap bergeming tak membalas kecupannya.
Karena kesal Alana menggigit bibir tebal itu, membuat sang empunya sedikit meringgis.
"KDRT."
"Emang iya? bukannya Aa suka." Alana mengulum senyum ketika Alvi membalas tatapannya.
Aula yang semula gelap tiba-tiba terang benderang berbarengan dengan kedatangan 6 Anggota inti Avegas membawa sapu, Pel dan berserta teman-temannya.
Membuat Alana seketika bersembunyi di belakang Alvi. Namun, apa daya, mata jeli Rayhan telah melihatnya.
Rayhan melempar kemoceng di tangannya. "Apes banget hidup gue hari ini, udah kena hukum, eh malah liat pasangan halal pacaran lagi." Teriaknya, untung aula kedap suara.
Mereka mengulum senyum, kecuali Dito, ketika melihat betapa menggemaskannya Alana bersembunyi di belakang Alvi, apa lagi gadis itu sedikit memunculkan kepalanya.
"Untung lo udah nikah Al, kalau nggak habis tuh cowok di tangan Samuel." timpal Keenan mengulum senyum.
"Ngapain kalian kesini?" intro Alvi sok cool walau rasa malunya sudah di ubun-ubun.
"Nggak liat pak kita bawa apa?"
Karena malu, Alana menarik Alvi keluar dari Aula, dan sepanjang koridor gadis itu terus mengomel tiada henti, dan Alvi hanya bisa mendengarkan tanpa bisa mengelak atau membantah atau suasana akan semakin runyam.
"Ini semua gara-gara Aa, dasar guru mesum, di pikirannya cuma anu doang, ingat tempat sama umur pak. Aa tuh guru harusnya memberi contoh sama siswa bukan kayak gini. Aa mau kalau siswa Aa juga begitu di lingkugan sekolah? dan parahnya lagi mereka belum ada ikatan Sah."
"Aa," panggil Alana ketika tidak ada sahutan dari Alvi.
Gadis itu menoleh dan tidak mendapati siapapun di belakangnya.
"Alvi sialan! dasar guru mesum, awas aja kalau sampai rumah," geram Alana, jadi ia seperti orang gila tadi bicara sendiri?
Jika Alana sedang kesal, lain dengan Alvi yang sedikit gelisah dengan kabar yang baru saja ia dapatkan dari Dirga, itulah mengapa ia meninggalkan Alana di koridor ketika hampir sampai di keramaian. Lelaki itu tak ingin Alana melihat kegelisahannya dan malah bertanya aneh-aneh.
Setelah sampai di ruangannya, Alvi kembali membaca pesan dari Dirga.
Tania akan kembali!!!
__ADS_1
Hanya tiga kata namun mampu membuat Alvi kelabakan sendiri.
Jam terakhir telah tiba, kini Giliran Alvi mengajar di kelas XII ipa 1, di mana kelas yang sering di hindari pada guru walau isinya orang-orang pintar.
Hari ini Alvi tak memberi tugas, hanya menjelaskan materi penelitian tentang detak jantung dengan rumus kimia.
"Ada yang ingin bertanya?" tanya Alvi setelah menjelaskan panjang lebar.
Hening tak ada yang menyahut, hingga satu orang mengacungkan tangan tinggi-tinggi.
"Saya pak," ujar Rayhan.
Sontak perhatian para siswa tertuju pada cowok tampan dengan segala kebobrokannya.
"Menurut pak Alvi, detak jantung orang jatuh cinta itu seperti apa?"
Skatmat, pertanyaan yang baru saja di lontarkan Rayhan membuat Alvi kebingungan. Dirinya saja tidak mengerti apa itu cinta, dan sekarang siswa nya sendiri yang bertanya.
"Jawab dong pak, kita penasaran nih!" seru Ricky mengompor-ngompori teman yang lainnya.
"Singkat aja deh pak, menurut bapak cinta itu seperti apa?" ulang Rayhan.
"Saya tidak tau tentang cinta." jawab Alvi singkat, padat dan jelas. Guru kimia tersebut berbalik dengan wajah datarnya, membereskan buku paket yang ia bawa.
"Materi cukup sampai di sini saja, kalian boleh pulang," lanjutnya lagi kemudian meninggalkan kelas yang sering membuat guru naik darah.
Alvi menunggu gadisnya di parkiran, lelaki itu tak henti-hentinya memperhatikan gerbang ke dua di mana siswa siswi berhamburan keluar dengan wajah bahagia walau matahari sangat terik.
Sudut bibir Alvi tarangkat ketika melihat gadis berambut indah tersebut berlari kearah mobilnya dengan menenteng tas ransel berwarna kuning.
Dengan sigap Alvi membuka pintu mobil untuk istrinya, dan tak lupa mengulurkan tangannya untuk Alana cium.
Usai Alana mencium tangannya, Alvi hendak mencium kening gadis itu namun Alana keburu menunduk.
"Aku lama ya?" tanya Alana masih sibuk memasang seat belt nya.
"Lumayan." jawab Alvi mulai melajukan mobil mewah berwarna merah hadiah ulang tahun Alana dari Ayah Kevin.
Alana memutar bola mata jengah, fokus pada benda pipihnya, jujur sana ia masih kesal dengan kejadian siang tadi.
Sama halnya dengan Alvi fokus menyetir tanpa menyadari perubahan sikap Alana karena banyak beban pikiran akhir-akhir ini.
...TBC...
Hay...hay author nyapa lagi nih, sekalian mau minta maaf entah yg ke sekian kalinya yang mungkin para readers kesayangan dedek bosan bacanya.
Maaf karena sering telat up dan nggak konsisten ya🙏. Apa kabar readers tersayang? sehat² kan? maaf ya nggak bisa balas satu² komen kalian juga.
Aduh udah kayak author pemes aja aku nggak bisa balas satu-satu komen readers tersayang🤣, tapi do'a in pemes ya🤣.
Nih dedek juga bawa novel yang nggak kalah seru dari Aa Alvi.
__ADS_1