
Kacau, satu kata yang mengambarkan keadaan Alvi saat ini, lelaki itu terus memandangi pintu rungan IGD di mana gadisnya sedang di tangani dokter.
Ia mengusap wajahnya kasar, tak memperdulikan bekas darah yang mulai mengering di tangan dan juga baju yang ia pakai.
"Bro!" panggil Devan.
"Ini salah gue Van," lirih Alvi, seandainya ia tidak mengejar istrinya, seandainya ia tidak terlalu pencemburu ini semua tidak akan terjadi, gadisnya tidak akan berlari menuruni tangga.
Devan terkekeh, baru kali ini ia melihat seorang Alvino kacau, lelaki yang selalu, rapi, lelaki yang tidak pernah menyalahkan diri sendiri dan menggap dirinya selalu benar.
"Ck, harus di abadikan nih, jarang-jarang lo nyalahin diri sendiri," decak Devan mencoba mencairkan suasana mencekam.
"Lo udah hubungin keluarganya?" Intro Devan.
Alvi, mengeleng, pikiran lelaki itu tiba-tiba buntu dan tolol, bayangan saat gadisnya terjatuh dari tangga masih melekat dalam pikirannya.
"Ponsel lo mana?" Devan menegadahkan tangannya. "Ck," Decak lelaki itu, memeriksa kanton celana yang di pakai Alvi, lalu mengambil benda pipih di sana, ia mengotak-atik ponsel guru kimia tersebut, bisa-bisanya Alvi belum mengabari orang tua Alana.
Pintu ruangan IGD terbuka, menampilkan dokter tampan memakai jas putih khas dokter, melihat itu Alvi menghampirinya.
"Bagaiman keadaan istri gue?" tanya Alvi.
"Istri lo akan di pindahkan ke ruang rawat, belum sadar karena pengaruh obat bius," jawab Dokter Angga, dokter kepercayaan Alvi.
"Ikut gue!" perintah lelaki itu.
Tanpa banyak tanya, Alvi mengikuti dokter Angga masuk keruangannya dan disinilah ia berada, di ruangan serba putih dengan aroma obat-obatan menguar di indera penciumannya. Ruangan yang selalu ia kunjungi, tapi hari ini terasa berbeda, takut mendengar hal-hal yang tidak di inginkan.
"Maaf, gue nggak bisa nyelematin anak lo, benturan pada dinding rahimnya terlalu keras." sesal Angga.
Apa yang Alvi takutkan akhirnya terjadi juga, ia kehilangan calon malaikat kecilnya sebelum ia dapat melihat malaikat itu, belum lagi senyum gadisnya tadi pagi saat menginginkan anak, membuatnya sangat bersalah.
Dokter Angga memberikan dua lembar kertas hasil pemeriksaan Alana. Alvi dengan sigap memeriksanya dan lagi-lagi ia termenung melihatnya.
"10%?" Lirih Alvi.
"Prosedur Kuretase memang jarang terjadi komplikasi, tapi komplikasi itu terjadi pada Alana. Kerusakan leher rahim dan jaringan perut di dinding rahim membuatnya sulit hamil lagi." Jelas dokter Angga, namun Alvi malah tersenyum.
"10% itu banyak," jawab Alvi.
"Alvi!" frustasi Angga, lelaki itu mengerti kemana arah pembicaraan temannya. "Bagi guru kimia dan ahli matematika seperti lo 10% itu banyak, tapi tidak bagi kami seorang dokter."
"Gue bakal buktikan sama lo Angga, 10% itu banyak, istri gue bisa hamil lagi!" Tekan Alvi, lelaki itu meninggalkan ruangan dokter Angga, membawa dua lembar kertas yang membuat hatinya terguncang, bagaimana ia akan menghadapi gadisnya?
Ceklek
Alvi membuka pintu perlahan-lahan, dan mendapati gadisnya duduk setengah tidur di atas brangkar.
__ADS_1
"Aa!" panggil Alana, dengan mata berkaca-kaca.
Mengerti akan situasi, Devan keluar dari ruang rawat Alana.
Alvi mengampiri Alana, lalu mengecup kening gadisnya.
"Kaki aku kenapa?"
"Kita makan ya, setelah itu minum obat." Alvi mengalihkan pembicaraan.
"Jawab aku Aa!" bentak Alana. "Kaki aku kenapa di perban, kenapa sangat sakit kalau di gerakin?" tangis Alana pecah.
"Lumpuh? patah tulang, iya?" tanyanya lagi, namun Alvi tetap diam, hanya merengkuh tubuh bergetar sang gadis.
"Maafin Aa," sesal Alvi.
"Kenapa harus kaki, kenapa nggak sekalian ngambil nyawa aku aja." Tangis Alana semakin pecah, ia malu, dan merasa tidak berguna tanpa kaki.
"Jaga ucapan kamu Al!" tegur Alvi. "Kaki kamu hanya patah, beberapa hari bakal sembuh."
"Ini semua gara-gara Aa!" Memukul dada bidang lelaki itu.
"Iya, ini salah Aa, maafin Aa," ujar Alvi terus mendekap tubuh Alana, membiarkan gadis itu memukulinya.
Ini baru kaki, apa yang akan terjadi jika Alana tahu bahwa ia keguguran?
"Maafin Aa Al." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Alvi.
***
Mendapat kabar akan keadaan sang anak, Anin dan Kevin langsung pulang ke tanah air, tanpa istirahat mereka kerumah sakit untuk melihat keadaan anak semata wayangnya.
"Alana." panggil bunda Anin.
"Alana baru tidur bunda," jawab Alvi.
"Dia sudah sadar? Alana baik-baik saja kan?" Intro Anin.
"Sudah Bun, tapi kakinya patah," lirih Alvi. "Ini salah Alvi, teledor menjaga."
"Ini memang salah kamu!" tekan Kevin menatap tajam pada menantunya. "Kalau kamu tidak bisa menjaganya, kembalikan dia pada ayah!"
"Mas!" tegur Anin, di sini tidak ada yang salah, putrinya memang ceroboh, dan kecelakaan adalah hal random yang sering terjadi.
Bunda Anin memerhatikan Alvi, sudut bibirnya sedikit terangkat melihat perlakuan lelaki itu pada putrinya, lihatlah sedari tadi tangan kekar itu tak henti-hentinya mengelus tangan lentik Alana.
"Bersihkan dirimu!" perintah bunda Anin, ketika melihat penampilan Alvi jauh dari kata rapi, bahkan di hoodie lelaki itu masih ada darah.
__ADS_1
"Tapi Alana."
"Ada bunda." Potong Anin.
Alvi bangkit dari duduknya, bukan pulang melainkan masuk ke dalam kamar mandi, hanya melepas hoodie abu-abu yang di berikan Alana tadi, mencuci tangan yang masih ada bekas darah, juga merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ia kembali duduk di samping brangkar, sama seperti tadi terus mengengam tangan lentik gadisnya. Sebenarnya ia takut Alana akan ikut dengan orang tuanya, terlebih gadis itu terus mengatakan benci padanya hingga terlelap.
Alana mengeliat dalam tidurnya kala merasakan benda kenyal mendarat di pipinya, matanya perlahan-lahan terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang sangat ia rindukan.
"Bunda kaki Alana." Adunya, melepas dengan kasar tangannya dari gengaman Alvi.
"Kaki kamu bakal sembuh sayang, hanya patah."
"Butuh sesuatu? mau minum?" tawar Alvi.
"Ayah mana? aku mau pulang kerumah." Mengabaikan pertanyaan Alvi.
"Setelah sembuh, kita pulang ke rumah kamu, untuk sekarang di rumah sakit aja dulu." Lembut bunda Anin menciumi kening putrinya.
"Aku mau pulang kerumah bunda."
"Udah izin sama Alvi?"
"Ayah Alana mau pulang kerumah ayah, Alana nggak mau pulang kerumah itu lagi." Alana menatap pria paruh baya di samping bundanya
"Alana, Aa...."
"Iya kita akan pulang kerumah ayah, ada atau tidaknya persetujuan dari suami kamu. Tapi setelah kamu sembuh," ujar Kevin datar, setuju akan keinginan putrinya.
"Mas!" tegur Anin, selalu saja suaminya menuruti keinginan sang putri walau itu salah.
"Kenapa Anin? mas nggak bakal nyerahin putri mas pada orang tidak bertanggung jawab." Melirik sinis Alvi.
Tak ingin memperkeruh suasana, di mana sang suami mendukung keinginan putrinya yang jelas-jelas salah, Anin mengajak Kevin pulang.
Sepeningalan orang tua Alana, gadis itu tidak mengeluarkan satu kata pun, gadis yang biasanya manja padanya, kini diam membisu.
"Sayang!"
"Kamu mau Aa bagaimana?"
"Pergi! aku benci sama Aa."
...TBC...
Kuretase adalah prosedur untuk mengangkat jaringan dari rahim.
__ADS_1
Cepat amat hari Rabunya, tapi Vote masih aman kan? jangan lupa lempar yaðŸ¤