
Alvi mengusap wajahnya kasar setelah mendapat pesan dari gadisnya. Lagi dan lagi Alana tidak mendengarkannya, tidak menuruti perintah dan larangannya. Ia harus apa lagi agar Alana mendengarkannya, apa ia harus mengasari gadis kecilnya agar gadis itu nurut padanya?
"Aa aku nggak bisa pulang cepat!"
"Katanya kamu mau nemenin Aa ke Reuni Al." Alvi membalas pesan Alana dengan sedikit kekecewaan.
"Maaf, nggak papa ya?"
"Terserah kamu Alana. Jangan terlalu lelah, jangan berdiri kelamaan kaki kamu baru saja sembuh, pulangnya jangan kemalaman."
"Iya Aa, Love you."
Alvi hanya meng Read pesan Alana, melemparnya ke atas ranjang, pulang kerja bukannya menghilangkan lelah malah membuat emosi karena tidak mendapati sang istri.
Usai membersihkan diri, Alvi hendak keluar kamar menuju ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti ketikan mendengar deringan ponselnya, dengan malas ia menjawab panggilan dari Devan.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara dingin.
"Lo di mana, dari tadi gue nungguin, banyak yang nyariin lo, gua aja aktor papan atas nggak di cariin sampai segitu nya, apa lagi kaum hawa," gerutu Devan di seberang sana, sedari tadi ia pusing karena di keroyok pertanyaan dari para teman-teman wanitanya tentang keberadaan Alvi.
"Gua nggak jadi datang," sahut Alvi.
"Anjir...Lo permainin gue Vi? lo bilang bakal datang sama kakak ipar gue,"
"Alana nggak mau."
Devan mendengus, ketika Alvi memutuskan sambungan telfonnya sepihak, jika saja ia tahu Alvi tidak akan datang ia juga nggak datang ke acara Reuni ini. Devan maraih segelas Vodka di atas meja, baru saja akan meminumnya, matanya tidak sengaja menangkap bayangan seorang gadis yang begitu ia kenal datang dengan salah satu temannya.
"Alana?" lirih Devan sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat. "Bukannya Alvi bilang dia nggak mau ikut."
Aktor tampan itu terus memperhatikan istri sahabatnya, berjalan menuju meja di sudut ruangan di mana teman-temannya berada. Tak ingin salah orang ia kembali menelepon Alvi, ingin memastikan bahwa Alana ada di rumah.
"Apa lagi Van!" Terdengar jelas nada tak suka di seberang telfon.
"Alana ada sama lo kan?" Devan memastikan, semoga saja ia salah orang.
"Ngapain lo nanya-nanyain istri gue?" ketus Alvi.
Devan mengepalkan tangannya, gemas bercampur kesal. Apa iya, Alvi cemburu padanya hanya karena ia menanyakan keberadaan Alana? yang benar saja.
__ADS_1
"Gue liat Alana baru saja masuk ke Klub bareng Dirga."
Hening tidak ada sahutan dari sana, Alvi tak merespon perkataanya.
"Alvi..."
"Pantau dia jangan sampai ada yang menyentuhnya!!!"
Sesuai perintah Alvi. Devan ikut bergabung dengan taman-teman angkatannya, namun tak begitu dekat dengan Dirga dan Alana, lelaki itu hanya duduk di salah satu sofa terus memperhatikan gerak gerik istri sahabatnya. Sudut bibir aktor tampan itu tertarik, pantas saja Alvi begitu bucin pada gadis SMA itu, dia sangat cantik dan wajahnya tidak membosangkan walau di pandang selama apapun.
"Mana Alvi? lo bilang di bakal datang."
"Katanya dia udah nikah ya?"
"Nikahya sama siapa, Tania?"
Berbagai pertanyaan kembali menghampiri Devan, kini ia kembali di kerumuni para kaum hawa.
"Tanyain langsung sama orangnya," sahut Devan.
Mata para wanita itu berbinar, jadi berita kedatangan Alvi ke Reuni bukanlah Hoax? akhirnya setelah bertahun-tahun mengadakan Reuni, si jenius tampan hadir juga.
Suara riuh dan canda tawa para Alumni SMA Angkasa mendominasi Klub malam ini, tentu saja karena mereka menyewanya khusus untuk reuni tanpa ada penganggu. Jika para Alumni bahagia bertemu dengan teman lama, lain halnya dengan seorang gadis yang duduk di samping lelaki manis tersebut.
"Pak saya mau pulang...." Perkataannya mengantung di udara ketika mendengar keriuhan para kaum hawa.
"Alvi!"
"Nggak sia-sia gue datang malam ini."
"Gila lebih tampan dari dugaan gue."
Mendengar nama Alvi disebut, membuat Alana ikut menoleh. Gadis itu menelan salivanya dengan susah, ketika melihat pria berbadan tegap dengan tatapan begitu tajam menyorot padanya.
Ia sontak berdiri ketika langkah lelaki itu semakin dekat, baru saja akan menyapa, lelaki itu malah melewatinya, ikut bergabung dengan Devan dan yang lainnya.
"Lihatlah, suami kamu itu idola pas SMA," bisik Dirga.
Alana tak merespon, gadis itu fokus memerhatikan Alvi di sofa lain. Jadi begini rasanya cemburu, sakit nggak ada dua nya, apa lagi melihat lelaki yang ia cintai duduk di antara para wanita, bahkan Alvi sama sekali tidak menolak sentuhan teman-temannya.
__ADS_1
"Katanya lo udah nikah Vi?" salah satu teman sekelas Alvi mengambil kesempatan, merangkul lengan lelaki itu, jarang-jarang Alvi ingin di sentuh seperti ini. Jangankan menyentuh duduk satu bangku saja mustahil.
"Hm," gumam Alvi, terus menyesap segelas Vodka di atas meja. Jangan lupakan tatapannya yang terus tertuju pada gadis berambut indah tersebut.
"Jangan bilang lo nikah sama Tania!" tebak yang lainnya.
Alvi bergeming, terus memerhatikan gadisnya, berharap Alana cemburu dan menghampirinya, ia sudah gerah di kerumuni seperti ini.
"Napa nggak bawa istri lo bro," ujar Rian ketua kelas mereka dulu.
"Malas."
Satu kata namun mampu membuat gadis di seberang sofa ingin menangis. Alana mengira Alvi akan mengenalkannya pada teman-teman lelaki itu .
Malam semakin larut, dentuman musik kian mengeras memekkan telinga, baik Alana maupun Alvi belum ada yang pulang.
"Alvi lo gila," tegur Devan entah ke sekian kalinya.
Alvi malam ini benar-benar hilang kendali, terus menatap tajam gadis yang masih setia bergeming di tempatnya, bahkan ia tidak sadar sudah menghabiskan 3 botol minuman keras.
Tak sanggup lagi melihat kegilaan Alvi yang terus di kerumuni perempuan, Alana bangkit dari duduknya tujuannya saat ini adalah pulang.
Melihat itu, Dirga ikut bangkit mengikuti Alana keluar dari Klub, ia yang membawa gadis itu ke sini dan ia juga yang harus membawanya pulang.
Namun saat di parkiran ia tidak mendapati gadis itu. Ia menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya.
Bugh
Mendapat serangan tiba-tiba membuat Dirga tak bisa mengelak dan tersungkur ke lantai, ia memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"Sudah gue bilang jauhin istri gue sialan!" teriak Alvi kembali mencengkram kerah kemeja Dirga. "Apa gua harus pakai kekusaan untuk menyingkirkan lo dari dia, Hm?"
Bukannya takut, Dirga malah senyum sinis. "Sama seperti lo, gue nggak tau kenapa bisa jatuh cinta sama gadis seperti Alana. Apa karena tanganya yang selumbut sutra, atau rambutnya yang sangat wangi."
Darah Alvi semakin mendidih, api cemburu berkobar menguasai dirinya. Tangan, rambut, Dirga sudah berani menyentuh miliknya.
"Breng*sek!!!" Bogeman kembali Alvi layangkan. Namun, Dirga mengelak, lelaki itu tidak akan menerima pukulan Alvi begitu saja.
Perkelahian pun terjadi, tanpa ada yang memisahkan. Alvi bukanlah manusia jika sedang mabuk, dan malam ini sifat aslinya mungkin saja keluar tanpa di minta.
__ADS_1
...TBC...
Hi masih Hari selasa loh ya, Vote masih aman kan, yuk lempar ke sini🤗