Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 116


__ADS_3

Alvi melepaskan genggaman tangannya setelah sampai di bukit yang satunya, ia menoleh kearah gadisnya lalu tersenyum. "Berteriak lah!" perintah Alvi kembali menatap lurus kedepan.


"Huh?" bingung Alana.


"Berteriaklah sekencang-kencangnya, lepaskan seluruh beban yang ada dalam diri kamu!"


"Aa sering ke sini?"


"Nggak sering, tapi sesekali sama Devan jika stres dengan pekerjaan."


Mata Alana memicing mendengar kata Devan, aktor tampan itu selalu identik dengan wanita.


"Sama cewek?" selidik Alana.


"Nggak sayang," masih menatap lurus kedepan.


Alana menyadari satu hal ketika menatap Alvi begitu lama, bukan hanya wajah Alvi yang sedikit memerah, tapi juga leher dan telapak tangan suaminya, ia meraih telapak tangan itu lalu memperhatikannya lebih dekat.


"Kenapa?" bingung Alvi.


"Kita pulang aja deh Aa, liat kulit Aa mulai merah-merah mungkin kena Debu."



Alvi tersenyum melihat betapa perhatiannya Alana ia mengacak-acak rambut gadisnya. "Ini tuh udah bisa kalau Aa jalan-jalan, nggak usah khawatir, Aa udah minum obat sebelum ke sini." Alvi menunjuk hamparan bukit yang asri itu. "Lihat, nggak ada debu yang berlebihan di sini, semua hamparan di penuhi rumput yang indah."

__ADS_1


"Ayo," rengek Alana tak ingin Alvi kenapa-napa laki-laki itu sering meremehkan kesehatannya sendiri.


"Teriak dulu sayang setelah itu kita pulang."


"Yaudah duluan."


Alvi mengangguk kembali menatap lurus kedepan, menarik nafas dalam-dalam bersiap berteriak mengeluarkan segala kecemasan juga stres karena pekerjaannya akhir-akhir ini.


Genggam tangannya semakin erat ketika akan mengeluarkan kalimat sakral di depan gadis yang sangat ia cintai. Bukan hanya tangan yang mulai dingin tapi juga jantung yang berdetak tak karuan, apa lagi di bukit lumayan banyak orang.


"ALANA AKU MENCINTAIMU, I LOVE YOU!" teriak Alvi dengan mata tertutup.


Mata Alana membulat sempurna mendengar teriakan Alvi yang lumayan kencang, tidak menyangka lelaki itu akan mengungkapkan perasaanya di bukit ini di saksikan banyak orang.


"Tetaplah bersamaku! dan jangan pernah berfikir pergi dariku!" teriak Alvi untuk ke dua kalinya.


Kini bukan lagi mata bulat yang Alana layangkan, tetapi tatapan penuh cinta. Setetes airmata jatuh membasahi pipinya, bukan air mata luka melainkan air mata bahagia.


Alvi yang baru saja membuka mata kaget melihatnya, apa ada yang salah dengan ucapnya hingga membuat Alana menangis? ia melepas genggaman tangannya lalu nenghapus air mata di pipi gadisnya. "Kamu kenapa sayang?"


Alana mengeleng dan langsung memeluk Alvi.


"Hey," lembut Alvi melerai pelukan Alana.


"Makasih udah mau menerima aku apa adanya Aa, akhirnya Aa mengucapkan kalimat yang selama ini aku tunggu." Menatap Alvi dalam-dalam, tatapan mereka saling beradu, berbagi kebahagiaan berbicara dari hati ke hati.

__ADS_1


"Maaf Aa terlambat, tapi percayalah saat pertama kali kita menikah, Aa sudah mencintaimu."


"Jangan pernah tinggalin Aa apapun yang terjadi!" pinta Alvi mengenggam erat tangan Alana.


"Pasti."


"Jika suatu hari nanti Aa berubah dan nyakitin kamu, jangan tinggalin Aa ya!" Menatap Alana semakin dalam. "Tapi buat Aa tersadar bahwa yang Aa lakukan salah, buat Aa menyesali semuanya."


Alana mengangguk sembari memejamkan matanya ketika Alvi mencium keningnya penuh kelembutan yang mampu mengetarkan hati, ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya saat ini.


"Sekarang giliran kamu, setelah itu kita pulang."


Sama halnya dengan Alvi, Alana mengenggam erat tangan Alvi, menutup mata sebelum berteriak mengeluarkan isi hatinya.


"Alvino Love you Too, aku nggak bakal ninggalin kamu sampai ajal sendiri yang memisahkan kita!" Alana menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kalimat berikutnya. "Terimakasih telah membersamaiku selama ini. Terimakasih sudah mau menjadi tempat untukku pulang, tempatku menjadi diri sendiri tanpa harus mengkhawatirkan apapun!"


Keduanya tertawa lepas setelah lama saling menatap. Alvi merasa dirinya seperti anak remaja saja yang baru merasakan cinta, sementara Alana tertawa karena merasa malu dengan orang-orang yang memperhatikan mereka.


"Cium...cium....cium...!" sorak orang yang sedari tadi menyaksikan keromantisan keduanya.


Alana dan Alvi saling menatap, detik berikutnya mereka berlari menjauhi kerumunan orang yang terus menyoraki mereka.


...TBC...


Dedek nggak pernah bosan ngingetin kalian, untuk nge like, komen, dan Vote, karena itu sangat berpengaruh bagi mood dedek untuk menulis part selanjutnya, love you akak🤗.

__ADS_1


Oh iya dedek bawa novel seru buat kalian nih.



__ADS_2