
"Assalamualaikum Aa!" salam Alana setelah membuka pintu rumah, lalu berjalan menuju ruang tamu menemui Alvi.
Ia meraih tangan Alvi lalu menciumnya, kemudian duduk di samping lelaki itu. Alvi bergeming, melirik jam dinding, Alana pulang tidak tepat waktu dan ia tidak suka itu.
"Lewat sepuluh menit." cetus Alvi fokus pada Tv di depannya, walau gadis berambut indah tersebut bergelayut manja di lengannya.
Alana mengerucutkan bibirnya, kesal akan sikap Alvi yang selalu mempermasalahkan waktu.
"Telat sepuluh menit doang Aa."
"Hm." gumam Alvi meraih remot untuk mematikan Tv di depannya. "Udah makan?"
"Udah sama pak Dirga." sahut Alana cepat. "Aa belum makan?"
"Belum." Alvi samakin kesal mendengar jawaban Alana, ia rela kelaparan hanya untuk menunggu kepulangan istri kecilnya, tetapi gadis berambut indah tersebut malah makan malam dengan lelaki lain, hebat sekali.
Ia terus berjalan kearah dapur dengan Alana mengekor di belakangnya.
"Aku temenin kalau gitu." Alana hendak membuka kulkas ingin mengambil makan malam lalu memanaskannya, karena bi Neneng sudah pulang sore tadi.
"Nggak usah, aku bisa makan sendiri." dingin Alvi tanpa melirik Alana sedikitpun. Namun gadis itu tak peduli tetap menyiapkan makanan untuk Alvi, lalu duduk di depan lelaki itu.
Alana tak henti-hentinya tersenyum melihat ekspresi datar Alvi. Ia kembali menemukan sosok Alvi saat mereka pertama kali bertemu.
"Aa cemburu?" goda Alana bertopang dagu.
Hening, Alvi tak menyahut lebih memilih menikmati makan malamnya. Ia gengsi jika mengakui bawah dirinya cemburu pada Dirga. Baginya rasa cemburu itu sangat memalukan dan sekarang ia merasakannya.
"Aa!" panggil Alana. "Aa beneran marah sama aku?" Alana terus mengekori Alvi masuk kedalam kamar, benarkah Alvi marah padanya hanya karena terlambat pulang 10 menit?
Baru saja akan memeluk tubuh kekar itu, ia merasa tidak nyaman, perutnya terasa keram.
"Auw." ringis Alana memegangi perutnya, tidak tahan dengan rasa keram yang ia rasakan.
Sontak langkah Alvi terhenti di ambang pintu ia berbalik dan mendapati Alana terduduk di lantai memegangi perutnya, bulir-bulir bening memenuhi pelipis gadis itu. Rasa kesal dan marahnya menguap begitu saja tergantikan rasa khawatir melihat istri kecilnya kesakitan.
Tanpa banyak bicara ia mengendong tubuh mungil Alana masuk kedalam kamar lalu membaringkannya perlahan-lahan di atas tempat tidur. Ia mengusap bulir bening di pelipis gadisnya.
"Mana yang sakit?" panik Alvi
"Perut aku Aa, rasanya keram." lirih Alana meringkuk di atas tempat tidur menekan-nekan perutya.
"Jangan di tekan!" Alvi meraih tangan Alana agar tidak terus-menerus menekan perutnya, Ia mengelus lembut perut gadis itu.
"Sakit Aa." lirih Alana mencengkram tangan kekar Alvi. "Telfon bunda Aa!"
__ADS_1
Alvi meringis saat Alana mengigit lengannya, namun ia tetap menelfon ibu mertuanya, ia tidak tahu harus melakukan apa pada Alana.
"Assalamualaikum, nyo...bunda." gugup Alvi setelah sambungan telfon terhubung.
"...."
"Perut Alana keram, aku harus apa?"
"...."
"Iya bunda."
Alvi kembali meletakkan ponsel di atas nakas, melepas dengan lembut tangan munggil di bajunya, namun gadis itu seperti engang melepasnya.
"Aa mau kenama?"
"Mau ambil air hangat dulu."
"Gini aja, udah mendingan." lirih Alana tetap memeluk Alvi, sementara tangan kekar Alvi terus mengelus lembut perut ratanya.
"Kita ke dokter aja ya?" bujuk Alvi, takut Alana kenapa-napa.
"Nggak mau Aa, nanti di suntik terus di kasi obat."
"Masih keram?"
"Kamu makan apa tadi? makan pedas, Iya?" introgasi Alvi setelah melihat Alana tidak kesakitan lagi.
"Aa nggak marah lagi?"
"Hm." gumam Alvi, namun tangannya semakin liar dari perut kini merambat sedikit demi sedikit ke atas.
Alana menatap tajam lelaki di sampingnya. "Perut aku di sini Aa." ia memindahkan tangan kekar itu kembali ke perut.
"Biar yang lainnya kebagian." tangan Alvi kembali menyetuh bahkan meremas dua gundukan tak bertulang itu, membuat gadisnya mengigit bibir bawahnya tak ingin ikut suasana.
"Aku capek." keluh Alana.
"Diam saja biar Aa yang bekerja."
"Enak aja, aku juga mau Aa." sungut Alana.
Alvi mengulum senyum, gadisnya memamg beda dari yang lain, kadang malu-malu kadang dia sendiri yang sangat fulgar.
***
__ADS_1
Alvi. Lelaki itu terbangun ketika mendegar suara gemircik air di dalam kamar mandi, ia menyipitkan matanya melirik jam di atas nakas. Jam lima subuh. Ia mengulum senyum, akibat ulahnya gadis kecil kesayangannya harus mandi subuh-subuh buta seperti ini.
Huek...huek...huek.
Alvi buru-buru turun dari ranjang hanya memakai bokser tanpa baju, ketika mendengar suara orang muntah-muntah di dalam kamar mandi. Ia mengtok-etok pintu namun tidak ada balasan, hanya terdengar suara orang muntah dan gemircik air.
Shi*t
Umpatnya, bisa-bisanya ia lupa bahwa Alana tidak pernah mengunci pintu jika berada di kamar mandi sakin paniknya. Ia membuka pintu dan mendapati gadisnya berdiri di depan wastafel.
Huek...huek...huek.
Alana kembali mual, namun yang keluar hanya cairan kekuningan. Sementara Alvi terus memijit tengkuk gadisnya. Mengambil tisu lalu memberikannya pada Alana. Sepertinya ia tidak perlu mendapat izin dari Alana untuk membawanya ke dokter, ia takut maagh yang di derita istrinya semakin parah.
"Udah?"
Alana menganguk pasrah, perutnya terasa berbeda dan juga sangat lemas.
Tanpa banyak tanya lagi Alvi mengendong tubuh yang terbalut batrom itu lalu menurunkannya secara perlahan-lahan.
"Mau kemana?" tanya Alana saat Alvi ingin membuka pintu kamar. "Sholat dulu Aa, keburu habis waktunya."
"Tapi..."
"Aku nggak papa, ini juga mau ikut sholat bareng Aa."
***
Alvi membukakan pintu mobil untuk Alana setelah mereka sampai di sekolah, ia sudah melarang gadis berambut indah itu kesekolah, namun kekeras kepalaan gadisnya sulit untuk di runtuhnya.
"Udah nggak pucat lagi kan?" riang Alana setelah memoles liptint pada bibir tipisnya.
"Jangan makan sembarangan, jangan makan pedas-pedas, jangan makan..."
"Sstt." Alana menutup bibir tebal Alvi dengan jari telunjuknya, pagi-pagi seperti ini suaminya sudah sangat cerewet.
"Iya bewel...iya." Alana ikut turun dari mobil, merapikan tas punggungnya, lalu meraih tangan Alvi untuk di ciumnya. "Aku ke kelas dulu Aa."
Sepeninggalan Alana, Alvi juga ikut masuk kedalam pekarangan sekolah, tujuan utamanya ke SMA Angkasa hari ini hanya untuk menemui lelaki bernama Dirga, sepertinya ia harus membicarakan hal serius.
Menurutnya lebih mudah bicara dengan Dirga di banding gadisnya yang sangat keras kepala.
Tanpa mengetok pintu Alvi masuk kedalam ruangan Dirga, berdiri di depan lelaki itu dengan tangan di masukkan kedalam saku celananya.
"Jauhin Alana!"
__ADS_1
...TBC...