
Mencoba menghilangkan rasa bosan dalam dirinya, Alana jalan-jalan ketaman belakang rumah, menikmati dinginnya air kolam di sore hari. Namun, itu semua belum mampu menghilangkan rasa jenuhnya. Ia mendudukkan diri di kursi santai, mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Aa," rengeknya setelah sambungan terhubung. "Masih sibuk?"
"Kenapa?" sahut Alvi di seberang telfon.
"Suntuk di rumah sendiri, Aa nggak ada niatan gitu ngajak aku keluar jalan-jalan, atau liburan mumpung lagi libur sekolah."
"Aa masih sibuk, lain kali aja ya."
"Sibuk banget ya sampai nggak bisa ngeluangin waktu buat aku," lirih Alana, membuat Alvi di seberang sana tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
"Kamu ngomong apa?"
"Nggak, aku cuma bilang, mau keluar bentar jalan-jalan, boleh kan?" izin Alana.
"Boleh, jangan sampai malam, naik Taksi, udara di luar dingin bawa jaket juga," peringatan Alvi, gadisnya sering nekat naik ojek dengan alasan lebih cepat.
"Iya." tanpa pamit Alana langsung mematikan ponselnya, kesal akan respon Alvi, ia mengira Alvi akan melarangnya dan menyuruhnya menunggu untuk jalan bersama.
Terlanjur Izin membuat Alana nekat keluar jalan-jalan sendiri, sesuai perintah Alvi, gadis itu membawa hoodie dan naik taksi.
"Maaf nona, kita mau kemana?" tanya sopir taksi setelah setengah jam mutar-mutar Alana belum juga menentukan arah.
"Kemana aja pak, terserah deh," sahutnya.
Sopir taksi itu membulatkan mata tak percaya, bisa-bisanya dia menemukan penumpang aneh di hari kamis sore seperti ini, bikin merinding saja.
Walau begitu, sopir taksi itu menuruti perintah Nona aneh tersebut, mengajaknya keliling ibu kota tanpa tujuan, untung tidak macet. Lagi pula ia tidak rugi malah untung karena jam terus berjalan.
"Nona sudah magrib," peringatan sang sopir namun Alana masih sibuk dengan ponselnya.
"Nona."
"Ah iya pak, kenapa?
"Nggak mau sholat dulu Non?"
"Boleh." Gadis itu memasukkan ponselnya ke dalam tas, ikut turun dengan sang sopir yang kini berjalan memasuki salah satu masjid.
Usai sholat, Alana kembali masuk kedalam taksi tanpa menunggu sang empunya, biarkanlah ia dikatakan orang gila, karena bepergian tanpa tujuan, daripada tinggal di rumah sendiri.
Notifikasi pesan membuat gadis itu tersadar dari lamunannya, ia memeriksa pesan dari pak Dirga, seketika senyumnya mengembang, baiklah kejenuhannya akan berakhir sebentar lagi.
"Pak ke restoran Xx," menepuk pundak sopir taksi di depannya, membuat pria paruh baya itu bernafas lega, akhirnya penumpang anehnya menemukan tujuan.
Sebelum bertemu pak Dirga, Alana mengirim pesan pada Alvi, agar tidak menunggunya karena pulang sedikit malam. Tanpa menunggu balasan gadis itu menonaktifkan ponselnya. Mungkin pergi bersama pak Dirga bisa menghilangkan rasa suntuk, walau mereka pergi karena urusan pekerjaan.
Gadis itu sedikit melongo ketika berada di depan restoran. Klien sepenting apa yang akan di temui pak Dirga hingga harus bertemu di resotan seperti ini?
Tak ingin menduga-duga, Alana melangkah ke dalam restoran mewah. Namun, sepi, dekorasi mewah menyambutnya di depan pintu. Seorang pelayan menghampirinya lalu menyerahkan buket bunga yang sangat wangi di penciuman Alana.
"Nona Alana bukan?" tanya pelayan memastikan.
__ADS_1
"Benar." Menerima buket bunga tersebut, sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Tuan Dirganya belum datang Nona, silahkan anda menunggu di sana," pelayan tersebut mengarahkan Alana ke sebuah meja panjang yang sudah di dekorasi lebih indah lagi.
Gadis itu hanya mengangguk sopan, berjalan ke arah meja, meletakkan buket bunga di sana kemudian mendudukkan diri.
Tanpa gadis itu sadari, lelaki manis sedang memperhatikannya di sudut ruangan. Senyum Dirga tak pernah surut melihat gadis yang ia sukai datang memenuhi undangannya, walau dengan cara yang salah. Malam ini akan menjadi akhir atau awal dari kisah cintanya tergantung keputusan gadis berambut indah tersebut.
Tak ingin membuat Alana menunggu lama, Dirga menghampiri gadis itu.
"Sudah lama?"
Alana mengeleng kemudian mengembangkan senyumnya, ia berdiri berhadapan dengan pak Dirga. "Kliennya penting banget ya pak, sampai harus bertemu di restoran mewah seperti ini?" tanyanya.
"Iya, tapi tiba-tiba dia membatalkan pertemuan." bohong Dirga.
"Oh gitu ya." respon Alana. "Kalau gitu saya pulang ya pak, sudah malam soalnya."
Dirga tak mencegah, lelaki itu malah berjalan ke atas panggung di mana ada piano yang sudah ia siapkan, Ia tahu Alana suka piano.
Lelaki itu mulai menjentikkan jari-jarinya di atas tuts piano memperdengarkan alunan indah, ia membawakan lagu Devano Danendra_Menyimpan Rasa.
Kau...
Diam-diam aku jatuh cinta kepadamu.
Ku...
Bosan sudah ku menyimpan rasa kepadamu.
Tapi tak mampu ku berkata di depanmu...
Aku tak mudah mencintai...
Tak mudah bilang cinta
Tapi mengapa kini denganmu.
aku jatuh cinta.
Tuhan tolong dengarkanku...
beri aku dia...
Suara tepuk tangan dari gadis berambut indah tersebut berhasil menghentikan Dirga.
"Daebak! keren banget pak."
"Happy Birthday Alana." Berbarengan dengan perkataan Dirga, musik romantis terdengar beriringan pelayan membawa cake lumayan besar dan sangat cantik.
"Pak Dirga tau?"
"Tentu saja."
__ADS_1
"Makasih pak udah ingat, tapi saya harus pergi," ujar Alana. Respon gadis itu biasa saja karena dirinya memang tidak mengharapkan kejutan dari orang lain selain pak Alvi.
"Tunggu." Menarik tangan Alana, sedikit kecewa dengan respon yang di berikan gadis itu, tak sesuai ekspektasinya, ia mengira Alana seperti anak remaja lainnya jika di beri kejutan romantis.
"Saya mau ngomong sesuatu sama kamu."
Alana melepas genggaman tangan Dirga pada tangannya, kembali menghadap lelaki manis itu, menunggu apa yang akan di katakannya.
"Mungkin ini terdengar bodoh, tapi saya suka sama kamu."
"Huh?"
"Saya suka sama kamu Alana."
Alana diam membisu, hanya matanya yang ia kedip-kedipkan, mencoba mencerna perkataan guru PPKN nya barusan. Detik berikutnya gadis itu tertawa.
"Pak Dirga mau ngeprank saya?"
"Alana saya serius."
"Saya juga mau ngomong serius pak." gadis itu berhenti tertawa, kini ia memperlihatkan wajah seriusnya. "Hari ini saya resmi mengundurkan diri jadi asiten pak Dirga."
"Saya..."
"Saya nggak bisa ngelarang orang lain untuk suka atau nggak sama saya pak. Yang harus saya lakukan hanya menjauhi orang itu agar tidak ada harapan di lain waktu."
"Tapi kalian menikah hanya karena kesepakatan."
Tatapan Alana semakin tajam, sudah cukup ia kecewa karena orang yang ia anggap guru sekaligus teman malah menyukainya, dan sekarang lelaki di depannya mulai mencampuri kehidupan pribadinya.
"Lalu kenapa? bukankah cinta datang karena terbiasa? Saya cinta sama pak Alvi."
"Apa Alvi juga cinta sama kamu?"
Alana memejamkan matanya, kenapa pertanyaan ini sangat sulit untuk ia jawab?
"Apa Kamu yakin, perasaan kamu sama Alvi benar-benar cinta atau rasa terimakasih saja? Nyaman, terbiasa, merasa terlindungi, belum tentu itu rasa cinta."
"Lalu menurut bapak, cinta itu seperti apa?"
Diam, itulah yang di lakukan Dirga, ia juga tidak tahu bagaimana definisi cinta yang sebenarnya.
"Nggak bisa jawab kan pak?" Alana senyum sinis.
"Apa yang kamu sukai dari Alvi? dia tidak peka, dingin dan tidak romantis. Lihatlah, malam ini dia malah sibuk bekerja tanpa ingat hari penting kamu, apa itu pantas di sebut cinta?" Dirga semakin menjadi, tak bisa mengendalikan diri karena di tolak oleh muridnya sendiri.
"Cukup pak!" bentak Alana tak suka ada yang menjelek-jelekkan suaminya. "Jangan karena hal ini, saya hilang hormat sama pak Dirga."
...TBC...
Jangan lupa, vote, komen, dan like🤗🤗🤗🤗🤗
Oh iya, author bawa cerita yang nggak kalah seru nih buat kalian, bagi para readers yang suka tema pelakor atau perselingkuhan bisa banget mampir di novel Emak aku. Di jamin naik darah bacanyaðŸ¤
__ADS_1