Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 28


__ADS_3

Alana menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya, begitu seterusnya hingga keberanian nya muncul. Keberanian memasuki rumah pak Alvi untuk keduanya kalinya setelah adegan tonton gratis yang tidak sengaja dia lihat beberapa minggu yang lalu.


Dengan ragu dia memencet bel berulang kali hingga pintu apartemen pak Alvi terbuka, menampilkan sosok tampan dengan setelan rumah, celana jeans selutut di padukan kaos abu-abu.


"Assalamualaikum pak."


"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya pak Alvi. Jujur saja dia sedikit terkejut melihat kedatangan siswanya malam-malam seperti ini.


"Nggak di suruh masuk gitu pak?" tanyanya.


"Hm."


Pak Alvi membuka pintu lebar-lebar kemudian berlalu begitu saja. Dia mengikuti pak Alvi hingga duduk di sofa. Mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, masih seperti dulu, rapi sangat rapi.


"Ada apa kamu menemui saya?"


"Maaf pak, saya tidak bisa menepati janji saya untuk menikah dengan bapak." ucapnya tanpa basa-basi.


Katakanlah dia mempermainkan pak Alvi, karena beberapa hari lalu menolak tawaran pak Alvi, setelah itu menerimanya dengan tiba-tiba dan sekarang dia mengatakan tidak bisa menepati janji.


Pak Alvi diam tak mengatakan apapun, membuatnya mendongak dan mendapati pak Alvi tengah menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Dia menelan salivanya susah payah, tatapan itu pernah dia dapatkan saat pertama kali bertemu dengan pria di depannya.


"Kenapa!" tanya pak Alvi dingin.


Jelas saja, dia merasa di permainkan oleh gadis di depannya, tapi dia tidak boleh marah bagaimanapun Alana punya hak untuk menolak tawaranya.


"Saya di jodohkan pak." jawab Alana kembali meremas ujung dressnya.


"Lalu?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut Alvi, sekian banyaknya kata di dalam pikirannya.


Lalu? hanya itu jawaban yang di keluarkan pal Alvi? apakah keputusannya memberitahu semua ini pada pak Alvi salah? Alana mengira dengan membicarakan semua ini dengan pak Alvi, dia akan mendapat jalan keluar. Tapi ternyata tidak, sepertinya pria di hadapannya terlihat acuh.


Tunggu, perasaan apa ini? kenapa dia merasa kecewa mendengar jawaban acuh pak Alvi? kenapa dia sedikit sedih jika membayangkan bahwa dia akan gagal nikah.


"Ini hidup kamu. Kamu yang akan menjalaninya, saya tidak bisa memaksakan kehendak, apa lagi jika malewan keputusan orang tua kamu."


"Maaf pak." ujarnya tulus.


"Kenapa harus minta maaf? kamu tidak salah."


"Kakek Farhan..."


"Kakek Farhan biar saya yang urus, kamu tidak perlu memikirkannya." Pak Alvi bangkit dari duduknya lalu masuk kedalam kamarnya, meninggalkannya seorang diri di ruang tamu.


Tak lama kemudian, pak Alvi keluar dengan setelan yang lebih rapi, menghampirnya. "Saya antar pulang." ujar pria itu kemudian melangkah terlebih dahulu.

__ADS_1


Seperti biasa dia tidak membiarkan pak Alvi mengantar hingga di depan rumah, karena takut pada ayahnya. Sebelum turun dari mobil pak Alvi, dia menyempatkan mengatakan sesuatu.


"Saya di beri waktu satu minggu untuk berfikir pak." ujarnya.


Salahkan jika dia berharap pak Alvi akan peka dan mengerti perkataanya barusan?


Dia melempar tas yang di pakainya ke atas sofa kemudian merebahkan dirinya di atas kasur empuk yang membuatnya nyaman.


Dia memejamkan matanya berharap bisa terlelap, namun nyatanya tidak, malahan bayang-bayangan pak Alvi dan kakek Farhan terus muncul di kepalanya. Membuat rasa bersalahnya lebih besar.


Jika dia menerima Azka apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Salsa? dia akan kehilangan kedua sahabatnya, dan Azka akan kecewa padanya.


Bertahan bersama pak Alvi, sepertinya tidak mungkin melihat reaksi pak Alvi tadi menghilangkan harapan dalam dirinya. Dia hanya bisa menunggu keajaiban akan datang sebelum waktunya berakhir.


Dert...dert...dert...


Diraihnya benda pipih itu di atas nakas, tanpa melihat siapa sang penelfon langsung saja dia jawab


"Halo." jawabnya malas.


"Alana ini kakek Farhan."


Dia terkesiap langsung duduk tegap di tengah-tengah kasur. Berdehem sebentar, menetralkan kegugupan yang tiba-tiba melandannya. Apakah pak Alvi sudah mengatakan semuanya pada sang Kakek? secepat itu? apa Iya pak Alvi sudah menyerah.


"Ah iy..iya Kek, ada apa?"


Mendegar suara bahagia Kakek Farhan di seberang sana membuat hatinya mencelos, sesiap itukah Kakek tua itu, mempersiapkan penikahnnya dengan pak Alvi, sementara dia masih bimbang dengan keputusannya.


"Alana!"


"Ah iya Kek. Menurut Alana bagusan yang warna Navi deh, cocok aja gitu sama Kakek." jawabnya Asal.


"Yaudah, Kakek pakai yang Navi aja ya?"


"Iya."


"Tidur yang nyenyak cucu Kakek."


Dia memantapkan hatinya, akan mengatakan semuanya pada bunda nya, sekarang hanya bunda Anin yang dia harapkan. Setelah panggilan telfon terputus. Dia memutuskan menemui bunda Anin di dalam kamar.


"Bunda!" panggilnya setelah sampai di depan pintu kamar orang tuanya.


"Iya sayang." sahut bunda Anin.


"Boleh Alana masuk."

__ADS_1


"Masuk aja sayang."


Dia membuka pintu kamar yang tidak di kunci itu setelah mendapat persetujuan dari yang punya. Dan mendapati bunda Anin yang tengah kesusahan melepaskan diri dari pelukan ayahnnya.


"Mas, ada Alana ih." tegur bunda Anin kala melihatnya berdiri di ambang pintu mengulum senyum.


Tanpa malu dia menghampiri kedua orang tuanya dan menarik tangan ayah Kevin agar terlepas dari tubuh bundanya. "Dia bunda Alana." ujarnya memeluk lengan bunda Anin.


"Dia Istri ayah."


"Alana mau bunda sekarang."


"Tapi ayah belum dapat jatah sayang." ujar ayah Kevin memelas. Membuat wajah bunda Anin memerah mungkin malu dengannya.


"Ayah!" tegur bunda Anin.


"Malam ini nggak ada jatah, Bunda punya Alana."


"Yah, padahal ayah mau buat adik loh untuk kamu." canda Ayah Kevin mendudukan dirinya di sofa sementara dia dan bunda Anin tengah berdiri.


"Ayah!" bentaknya bersamaan dengan bunda.


"Alana nggak mau punya adik, titik!" ujarnya penuh penekanan.


Ayah Kevin tertawa puas melihat wajahnya memerah. Jika menyinggung soal adik, dia paling tidak suka. Miliknya ya miliknya tidak boleh di bagi oleh orang lain, dan orang tuanya hanya milik dia seorang tidak ada kata adik.


"Ayah!"


Ayah Kevin bangkit dari duduknya, kemudian mengelus rambut indahnya. "Ayah bercanda, nggak bakal ada yang bisa mengantikan Prinses Ayah."


Cup


Ayah Kevin mencium pipinya. "Jangan ngambek, jelek!"


"Alana nggak ngambek, jadi masih cantik." pedenya.


Cup


Kali ini dia mencium kening bunda Anin. "Ayah keruang kerja dulu."


"Alana mau bicara sama ayah, bunda."


Cegahnya saat ayah Kevin akan keluar dari kamar, Dia memutuskan untuk membicarakan ini juga pada ayahnya.


Mereka kini duduk di sofa, berhadapan dengan ayah Kevin, sementara bunda Anin setia di sampingnya. Percayalah sedekat apapun dia dengan ayahnya, jika akan membahas hal serius, dia akan ciut, karena wajah serius ayah nya terlihat menyeramkan.

__ADS_1


"Alana nggak mau nikah sama Azka, Alana punya pacar."


...TBC...


__ADS_2