Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Bonus Capter 12


__ADS_3

Baru saja Alana sampai di Firma hukum tempatnya memimpin, panggilan masuk di ponselnya. Ia mengernyit mendapat panggilan dari wali kelas Agatha putrinya. Dengan sigap Alana menjawab panggilan itu


"Halo ada yang bisa saya bantu, bu?" tanya Alana sopan.


"Maaf bu, menganggu waktunya sebentar. Ini saya wali kelasnya Agatha mau menyampaikan kalau anak ibu membuat ulah di sekolah," ucap wali Kelas Agatha panjang lebar.


"Terus saya harus bagaimana bu?"


"Bisa luangkan waktunya sebentar untuk menemui saya sekarang!"


"Bisa," jawab Alana.


Setelah panggilan terputus, Alana melangkahkan kakinya ke Kanan menuju parkiran untuk ke sekolah Agatha detik itu juga.


"Apa lagi yang kamu lakukan nak," gumam Alana.


Ini bukan pertama kalinya Agatha membuat onar di sekolah. Namun, Alvi tak pernah tau kelakuan putrinya satu itu, Alana selalu menutupinya, agar sang anak tidak kena omel.


Apa lagi Agatha tidak seperti Alatha yang feminim. Putrinya satu itu agak lakik melebih Arga.


***


Dibelahan dunia lainnya tepatnya di SMP Angkasa tepat di depan SMA Angkasa. Seorang gadis dengan topi di kepalanya sedang duduk di ruang BK di hadapan wali kelasnya.


Menurut Agatha ia tidak salah sama sekali, maka dari itu ia tidak perlu takut dari siapapun, mau Daddy atau Mommynya sekalipun.


"Kamu ini perempuan Agatha, kenapa sikapmu seperti laki-laki!" omel guru Bk.

__ADS_1


"Apa salah seorang perempuan membela diri? Saya hanya membela diri Pak, bukan ngajak war! Seluruh sekolah tau gimana saya," jawab Agatha.


Gadis berseragam SMP yang sebentar lagi naik kelas 9 itu sangat berfikir dewasa dan logis tidak seperti anak-anak yang lainnya.


"Selamat siang Pak, Bu." Alana membuka pintu dan menunduk dengan sopan.


"Mommy," panggil Agatha.


"Kamu buat ulah apa lagi Nak?" tanya Alana.


"Agatha cuma membela diri, itu yang di ajarkan Daddy," jawab Agatha tak ingin mengalah apalagi mengakui tuduhan.


"Maaf Bu Alana. Tapi anak Anda baru saja melukai kakak kelasnya hingga masuk rumah sakit," ucap guru Bk melerai pembicaraan anak dan Ibu itu.


"Benar begitu sayang?" tanya Alana pada putrinya dan di jawab anggukan.


"Karena ini bukan pertama kalinya Agatha membuat kekacauan, kami minta maaf harus menskorsingnya selama tiga hari," ucap guru Bk.


"Saya terima keputusan pihak sekolah, terimakasih atas kebijikannya pak," ucap Alana dengan senyuman.


"Kok di Skorsing? Saya nggak salah pak!" sanggah Agatha.


"Udah sayang, kita pulang."


"Maaf Bu, atas ketidak nyamanannya."


"Tidak apa-apa, itu sudah kewajiban pihak sekolah. Bukankah tidak seharusnya membeda-bedakan siswa karena status mereka?"

__ADS_1


"Terimakasih atas pengetianya Bu."


Guru Bk itu bernafas lega. Alana salah satu donasi di sekolah ini.


Alana menarik putrinya keluar dari ruang Bk. "Mommy kok terima gitu aja tanpa minta penjelasan Atha?" tanya Agatha.


"Mommy percaya kamu tidak salah sayang, dan ini kebijakan sekolah. Itung-itung istirahat di rumah," jawab Alana.


"Benar juga." Senyuman Agatha mengembang. Merangkul lengan Mommynya.


"Mommy!" Suara cempreng dari arah belakang berhasil mengahlikan atensi Alana dan Agatha di koridor. Gadis itu adalah Alatha gadis manja dan egois.


"Jangan lari-lari sayang, nanti jatuh nangis," peringatan Alana pada putrinya.


"Mommy kenapa ada di sekolah?" tanya Alatha.


"Kakak kamu buat ulah lagi," jawab Alana.


"Oh yang tadi di lapangan itu kak? Gila kak Atha keren banget. Tos dulu kak." Keduanya bertos ria membuat Alana menghembuskan nafas kasar.


Entah apa kesalahnnya di masa lalu hingga punya anak seperti mereka.


"Alha pulang sama Abang ya, Mommy pulang duluan sama Kak Atha," pamit Alana mengusap rambut putri bungsunya.


"Siap Mommy sayang."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2