Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 83


__ADS_3

Sesuai permintaan Alana, mereka jalan-jalan dengan membawa Disya. Sejak memasuki Mall, Alvi tak pernah melepaskan gengaman tangannya pada tangan mungil Alana.


"Aku nggak bakal hilang Aa." berusaha melepaskan genggaman Alvi, bukan apanya lelaki itu tengah mengendong Disya yang lumayan berisi.


Namun, tetap saja Alvi tak menuruti keinginan Alana, ia malah mempererat tautan jari-jemari mereka. Alvi menoleh kearah Alana sebentar.


"Mau makan atau belanja dulu?" tawar Alvi.


"Mamam."


"Belanja."


Sahut Disya dan Alana berbarengan.


"Anak bunda mau Mamam dulu?" kekeh Alana mencubit gemes pipi Disya.


Disya mengangguk lucu, membuat Alvi dan Alana saling menatap hingga tertawa bersama.


"Baiklah Baby, kita isi tenaga dulu sebelum morotin isi ATM om Alvi."


***


Alana dengan sigap mengeluarkan kotak makan Disya yang sengaja ia minta dari Naninya, karena tak ingin gadis kecil mengemaskan itu makan sembarangan.


Alvi di seberang meja tak henti-hentinya tersenyum melihat ke antusiasan Alana bermain dengan Diysa. Segitu inginya kah Alana mempunyai Anak? apa jadinya jika gadis kecilnya tahu kondisi rahimnya sekarang? Alvi buru-buru menepis pikiran-pikiran konyol di kepalanya, kembali fokus memperhatikan gadis cantik berbeda generasi di depannya.


"Wah Disya hari ini makan Baby Brule? Nani Disya pintar masak ya?"


Disya lagi-lagi mengganguk "Nani Icha pintal masak, juga cantik." puji Disya pada Naninya.


"Kalau Nani jadi Mommy Disya mau nggak?" tanya Alana random.


Disya mengeleng dengan telunjuk yang di goyang-goyangkan. "No Bunda. Mommy sama Daddy Disya itu Daddy."


Salah satu Alis Alana terangkat, tidak mengerti akan perkataan Disya barusan, gadis itu mendongak kemudian, manatap Alvi yang terus tersenyum memperhatikannya.


"Aa Disya ngomong apa?"


"Disya menganggap Arka Daddy sekaligus Mommynya jadi Disya tidak mengiginkan Mommy lagi sayang."


Sembari menunggu pesanan mereka datang, Alana terus bermain dengan Disya, sesekali menyuapi gadis mengemaskan itu makanan.


Beberapa pelayan Restoran datang membawa pesanan mereka, menyusunnya di atas meja serapi mungkin.


"Makasih Mbak...Mas." ramah Alana memberikan senyuman.


"Sama-sama Nona."

__ADS_1


"Nggak usah senyum ke cowok bisa?" sensi Alvi.


"Nggak usah nyari bahan ribut deh A, kita lagi di luar." sanggah Alana.


Alvi menghela nafas panjang, memperhatikan gerak-gerik Alana yang sedikit kesusahan mengambil makan karena Disya di pangkuannya.


"Disya, sama Om sini, Bunda mau makan." Alvi mengulurkan tangannya.


"Icha makan sama bunda."


Lelaki itu menatap Alana seakan mengatakan Ia tidak suka. "Aa nggak..."


"Disya bunda mau makan sayang, sama om dulu ya." bujuk Alana sebelum Alvi mengomelinya.


Alvi bangkit dari duduknya, berpindah posisi duduk di samping Alana, lelaki itu mengambil Disya dari pangkuan Alana, ia tidak suka jika Istrinya kesusahan apa lagi sedang makan.


Alvi baru tau ternyata serempong ini mengajak anak kecil keluar, dari tadi ia kewalahan menangani kelakuan Disya yang terlewat aktif. Gadis kecil mengemaskan itu sering memberontak ingin duduk di atas meja karena tertarik pada menu makanan.


"Disya, bundanya jangan di ganggu." sabar Alvi menarik tangan Disya yang kini menarik rambut indah Alana.


"Icha mau sama bunda." tangis Disya pecah, membuat Alana menghentikan makannya, gadis itu buru-buru minum kemudian mengambil Disya dari pangkuan Alvi.


"Cup...cup...cup..., Disya kenapa? masih mau makan?"


"Cucu." rengek Disya.


"Mau minum susu." jawab Alvi sembari mengelus kepala Diysa agar tidak menangis di gendongan Alana.


"Tapi punya aku nggak ada air nya Aa," jawab Alana melirik dua gunung kembarnya.


Sontak mata Alvi membulat sempurna, ia menunjuk tempat favoritnya dengan dagu. "Itu cuma milik Aa."


Lelaki itu membuka tas bekal Disya, lalu mengambil dot berisi susu. Benar saja, Disya langsung terdiam setelah meminum susu.


"Makan Alana!" perintah Alvi ketika Alana malah sibuk bermain dengan Disya.


"Aa Diysa tidur, gemes banget, aku kalau punya anak nanti pengen yang kayak Disya tapi kembar," ujar Alana menguyel-uyel pipi tembem Disya dan menghiraukan perintah Alvi.


"Mau satu lusin pun Aa jabanin pembuatannya, jadi sekarang makan dulu!"


"Aku mau 2 lusin biar rumah ramai kayak taman bermain."


Pletak


Alana mengusap keningnya karena sentilan Alvi. Apa ia salah jika ingin rumahnya ramai?


"Jangan ngawur sayang, emang kamu kucing?"

__ADS_1


Alvi mengambil Diysa dari pangkuan Alana, agar memudahkan gadis itu menghabiskan makanannya.


"Aa nggak makan?"


"Nggak bisa ini, kalau kasian suapin nggak papa." modus Alvi mengulum senyum. "Aa lapar banget nggak makam 3 hari."


"Nggak usah lebay deh A, tadi yang sarapan sama aku siapa?" protes Alana, namun, tetap saja menyuapi Alvi.


Alvi menyingkirkan rambut Alana menyampirkannya ke belakang telinga ketika melihat rambut indah kesukaannya hampir kotor menyentuh makanan, tak lupa ia juga membenarkan bando bunga gadisnya agar tidak terjatuh karena sang pemilik tengah asik menikmati makanannya.


Karena Film yang akan mereka tonton sebentar lagi akan mulai, mereka menunda acara belanja dulu, lagian Disya masih tidur di gendongan Alvi.


Setiap pasang mata yang mereka lewati, berdecak kagum dan juga iri melihat mereka bertiga. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Walau apa yang di lihat belum tentu benar sesuai kenyataan.


Siapa yang tahu, di balik kebahagian yang mereka lihat, ada kesedihan mendalam dalam benak guru kimia tersebut, Istrinya ingin segera mempunyai anak, sementara usahanya belum mambuahkan hasil sama sekali, obat dari dokter ahli kandungan belum memperlihatkan reaksinya.


Susuai keinginan Alvi, ia mendapat tempat duduk paling depan dengan usaha Hendri yang entah bagaimana. Jika kalian mengira Alvi akan mengajak Alana menonton film romance, atau horor, itu salah besar.


Ruangan gelap itu 50% di isi oleh anak-anak di dampingi orang tua mereka.


"Yah Disya tidur, padahal bentar lagi Nusa dan Rara tayang."


"Durasinya lama kok, nanti pertengahan Film, Disya bangun."


"Kok Aa bisa tahu kalau film kartun kesukaan aku di serieskan dan di tayangin di bioskop?"


"Perusahaan Aa yang ngiklanin."


Baru saja film di putar, suara riuh anak-anak seusia Disya berteriak histeris saking senangnya, apa lagi ketika melihat Rara dan Nusa menyapa mereka.


Membuat Diysa mengeliat dalam pangkuan Alvi. Gadis mengemaskan itu mengerjap-erjapkan matanya, menatap Alana dan Alvi bergantian. Membuat Alana tak sanggup untuk tidak mencubit pipi mengembul Disya.


"Gemes banget anak bunda."


Awalnya Disya diam saja memperhatikan Film yang sedang di tayangkan, tapi lama kelamaan gadis mengemaskan itu mulai aktif dalam pangkuan Alvi, bertepuk tangan sendiri melihat Aksi Nusa dan Rara.


"Nusa dan Lala." sorak Disya bertepuk tangan.


Alvi dan Alana saling menatap, melempar senyum melihat bagaimana bahagianya Disya. Gadis berambut indah tersebut menyandarkan kepalanya di pundak Alvi.


"Tetap seperti ini ya kesayang Alana, jangan berubah," ujar gadis itu.


Alvi mengecup kening Alana. "Tentu saja."


...TBC...


Hay dedek bawa novel bertema poligami nih, wajib banget kalian baca, di jamin darting, tapi ceritanya seru banget.

__ADS_1



__ADS_2