
Usai menngatar Arga ke sekolah, Alvi kembali kerumah untuk mengantar sang istri kerumah mertuanya. Ia duduk di sofa depan Tv menemani baby A bermain, sembari menunggu Alana selesai berkemas, hanya menginap sehari tapi rempongnya bikin gucap.
Alvi sengaja memutar film Nusa dan Rara di laptopnya untuk menemani Baby A, itung-itung nonton sambil belajar. Ia bersandar pada sofa memperhatikan Baby A yang kini berdiri bertumpu pada meja sofa.
"Cebong ... cebong ... cebong," panggil Alvi tapi kedua baby itu tak merespon sibuk memandangi layar laptop membelakangi Alvi.
"Sayang udah belum?" tanya Alvi.
"Dikit lagi ini A, napa sih nggak sabar banget, ini juga bukan keperluan aku, semua keperluan Baby A," omel Alana.
Alvi mendesah hanya bertanya tapi ia mendapat omelan panjang, hampir sentengah jam ia menunggu hingga Alana siap pergi. Ia mengendong Agatha dan Alana mengendong Alatha.
"Gumus banget anak Mommy, udah kayak boneka beruang," gemes Alana memeluk erat Alatha.
"Sayang, Alha sesak nafas itu," tegur Alvi saat melihat wajah anaknya memerah sembari memanyungkan bibir.
"Heheheh ... gemes Aa, kelepasan," cengir Alana tanpa dosa.
"Uh cantik banget anak mommy!" gemas Alana kali ini bukan mencubit pipi Baby A tapi wanita itu malah mencubit pipi Alvi hingga memerah.
"Sakit sayang." Alvi mendesah frustasi.
__ADS_1
"Gimana sih A, aku gemes sana anak-anak tapi kalau di cubit takut nangis, yaudah mendangin anak-anak sambil nyubit Daddynya aja."
"Nggak gitu konsepnya sayang."
"Terus aku harus nyubit siapa A? Kak Hendri?"
Hendri yang sedang menyetir hanya bisa mengulum senyum mendengar perkataan bos dan istrinya di jok belakang.
Semoga aja rumah tangga aku kayak pak Alvi.
"Awas aja kamu berani nyubit pipi Hendri, Aa pecat dia!" ancam Alvi.
"Kok saya pak?"
"Semalam, Bu," jawab Hendri tanpa berani menoleh.
"Kok langsung kerja kak? Harusnya istirahat dulu."
"Enak aja, Hendri udah cuti 2 minggu. Pulang bulan madu nggak mungkin cape, senang iya habis malam pertama," cerocos Alvi tanpa di filter. Entahlah semenjak mempunyai tiga anak manusia es itu jadi kompor, suka memanas-manasi orang.
Tak terasa mereka sudah sampai dirumah bunda Anin dan di sambut dengan gembira, bukan Alana dan Alvi yang di sambut melainkan kedua cucu kesayangan mereka, membuat Alana cemberut.
"Akhirnya cucu bunda datang juga." Mengambil alih Alatha yang berada di gendongan Alana.
__ADS_1
"Cucu aja terus, anaknya udah nggak di peduliin," gerutu Alana sembari berjalan keruang tamu di ikuti Alvi, sementara bunda Anin dan ayah Kevin hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya.
"Alana sayang, kamu tinggal di rumah ya, Ayah sama Bunda mau pergi dulu, pinjam bonekanya bentar," pamit Bunda Anin yang sedari tadi menunggu kedatangan cucunya, ia ingin memamerkan pada teman-teman yang lain mumpung ia akan pergi ke acara ibu-ibu sosialita.
"Boneka aku belum makan Bunda, masa udah dibawa pergi aja," protes Alana.
"Nanti makan di luar aja,"
"Nggak mau, gimana kalau anak aku sakit perut makan sembarangan, tunggu di sini aku siapin dulu bubur untuk mereka." Alana beranjak kedapur menyiapkan bekal untuk anak-anaknya. Ia takut makanan di luar sana tidak sehat untuk Baby A, terlebih untuk Alatha kulitnya sangat sensitif.
"Lihatlah istri kamu Alvi, posesifnya masyaAllah, dirumah juga gitu?" tanya Bunda Anin, duduk berhadapan dengan Alvi, membuat Alatha yang berada di gendongannya merentangkan tangan pada Alvi.
"Begitulah Bunda."
"Jangan gosipin aku!" teriak Alana dari dapur. "Awas aja aku potong ...."
"Ada Bunda sama Ayah, Al." potong Alvi tahu apa yang akan di katakan istrinya. Semakin hari galaknya bikin ngucap.
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan terimakasih untuk dukungan kalian😊
Mommy Alana galak benar, sukanya pengen motong tongkat bisbol🤦♀️
__ADS_1