Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 135


__ADS_3

Matahari pagi di luar sana tak mampu membangungkan sepasang suami istri yang saling berbagi kehangatan di dalam selimut. Wajah cantik dan indah itu sama sekali tak terusik dengan sinar matahari menerpa wajahnya.


Tangan mungil yang semula melingar di leher Alvi kini meraba-raba tempat di sampingnya hingga ke atas nakas. Suara ponsel laknat itu sangat menganggu tidurnya, siapa gerangan penelfon itu.


Tanpa memerhatikan siapa yang menelfonnya, Alana dengan segera menjawab dan berbicara sembari memejamkan mata. Rasanya ia sangat mengantuk setelah shalat subuh, mungkin efek lelah semalaman.


"Hm." gumam Alana.


"Muke gila, lo belum bangun Al!" teriak Rahyan di seberang telfon.


"Apaansih ganggu orang tidur aja lo, masih pagi-pagi udah ngerusuh."


"Pagi pala lo, udah jam sepuluh lo bilang pagi?"


"Ada apa lo nelfon gue?"


"Gue tadi liat kakeknya pak Alvi baru aja keluar di ruangan dokter gitu."


Rasa kantuk Alana seketika menghilang, tanpa memperdulikan Alvi, ia bangun duduk sila di atas tempat tidur, ada apa gerangan Kakek Farhan kerumah akit tanpa sepengetahuannya.


"Sekarang masih di sana?"


"Udah pulang tadi."


"Sayang?" Alvi ikut bangun, masih dengan mata terpejam ia memeluk istirnya dari belakang, lalu mengecup tengkuk juga leher Alana.


"Njir lo lagi ngapain gila?" tanya Rahyan, suara serak Alvi terdengar gimana gitu di telinganya.

__ADS_1


Tanpa pamit atau apapun Alana memutuskan sambungan telepon, beralih mencari kontak sang Kakek dan langsung menelfonnya. Deringan pertama panggilan lansung di angkat, memperdengarkan suara pria paruh baya di seberang sana.


"Kakek Sakit? kenapa kerumah sakit nggak ngabarin Alana? kan Alana bisa ngantar kakek." Alana langsung berbicara.


"Kakek nggak papa Nak, cuma demam sedikit dan udah baikan."


"Beneran?"


"Iya kakek kan kuat."


Alana terseyum. "Lain kali kalau ada apa-apa kabarin Alana dulu ya kek!"


"Iya sayang. Suami kamu mana?"


Alana melirik Alvi yang kini bertopang dagu di pundaknya. "Masih tidur Kek,"


Alana memainkan rambut bagian depan Alvi, menceritakan apa saja yang ia dengar hari ini, dan mereka memutuskan untuk menjenguk kakek Farhan setelah makan siang nanti.



Jika dulu Alvi sangat senang datang ke sekolah, kali ini tidak lagi. Sekolah baginya adalah sebuah neraka di mana ia harus bertemu dengan Tania yang selalu merecokinya tanpa ampun. Jika saja bukan karena proyek di bandung mungkin sudah lama ia mengundurkan diri dan fokus pada keluarga juga perusahaan saja.


Rapat guru begitu terasa lambat bagi Alvi, tapi tetap saja ia bersikap profesional, memberi ide dan saran saat ada yang presentasi dengan proyek masing-masing. Hanya dia dan Tania yang aktif berbicara sementara yang lainnya mendengarkan dengan seksama.


Dirinya di amit dua wanita cantik, Ibu Rita di sebelah kanan, dan Tania di sebelah kiri, mungkin jika Alana melihatnya, gadis itu akan mengomel tiada henti.


"Dengar-dengar mis Tania dan pak Alvi sudah saling kenal lama katanya." Salah satu guru mulai berbicara ketika tak ada lagi yang presentasi, sesi kali ini merangkum materi.

__ADS_1


Alvi menunduk, fokus pada pekerjannya ingin segera pulang.


Tania melirik Alvi sekilah lalu tersenyum pada rekan kerjanya. "Iya kami kenal sudah sejak lama, kami alumni sekolah ini satu kelas malah." Bangga Tania bercerita masa lalunya.


"Kami bahkan satu universitas dan tinggal berdekatan, kemana-mana pergi berdua."


"Oh ya." Mata salah satu rekan kerja mereka berbinar, menurutnya Alvi dan Tania sangat cocok dari segi apapun.


"Kalian sangat cocok, yang satu cantik dan yang satu tampan, sama-sama pintar pula, kenapa tidak jadian saja." Imbuh rekan kerja yang lainnya.


Ibu Rita melirik Alvi yang masih fokus dengan pekerjaanya, wanita cantik itu tahu betul bagaimana Alvi sangat mencintai istrinya.


"Mis Tania sudah punya pacar?"


"Belum," jawab Tania melirik Alvi dengan senyum semenarik mungkin.


"Pak Alvi juga pasti belum."


Alvi sontak berdiri membereskan buku juga laptop di hadapannya lalu menatap satu-persatu rekan kerjanya yang sedari tadi cerewet mengganggu konsetransinya. Tatapan datar tanpa ekspresi.


"Saya punya istri yang cantik, jadi kalian tidak perlu repot-repot mencocokkan saya dengan siapapun," ujarnya setelah itu melangkah pergi.


Ibu Rita melirik Miss Tania penuh kemenangan, dari awal mereka memang tidak akur, pasalnya Ibu Rita tak suka dengan sikap Miss Tania yang sok.


Lainnya halnya dengan Tania yang kini terdiam, kecewa akan penolakan Alvi terang-teranggan di depan semua orang.


...TBC...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan Vote akak cantik.


__ADS_2