
Alvi terus memerhatikan Alana, menuruni satu persatu anak tangga hingga duduk di sampingnya, gadis itu menyandarkan kepalanya di pundak Alvi.
"Kenapa nggak tidur?"
Hening, tidak ada jawaban dari gadisnya, membuat Alvi mengalihkan perhatiannya dari Tv.
"Kepala kamu masih sakit?"
Alana hanya mengeleng kemudian mendongak menatap mata Elang Alvi.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Hm."
"Aku nggak sengaja liat album foto keluarga Aa saat pertama pindah ke rumah ini. Aku liat foto seorang wanita di sana, tapi kok di coret-coret mukanya A?"
"Itu bunda Aa?" tanya Alana ketika melihat Alvi bergemin di tempatnya, dan tidak ada niatan menjawab pertanyaanya.
"Hm."
"Kok di coret-coret? Aa nggak suka sama bunda Aa? kenapa?" selidik Alana, walau ia sudah tahu semuanya, tapi ia ingin mendengar cerita dari sudut pandang Alvi sendiri.
"Sudah tengah malam, kita tidur." Alvi mengalihkan pembicaraan, menarik Alana agar berdiri, namun gadis berambut indah tersebut malah menepis tangan kekar Alvi lalu merebahkan tubuhnya di sofa menghadap Tv.
Selalu saja Alvi bersikap seperti itu jika ia ingin membahas tentang ibu lelaki itu. Apa salah jika ia ingin Alvi berkata jujur padanya?
"Aa aja aku belum gantuk."
Alvi menghela nafas panjang, sepertinya Alana bakal ngambek jika ia tidak cerita, tapi ia juga belum siap jika harus menceritakan masa lalunya dengan wanita bergelar ibu.
Alvi kembali duduk di sofa, mengangkat kepala Alana agar tidur di pangkuannya. "Aa akan cerita." putusnya.
Sontak senyum Alana mengembang, gadis itu kini mengalihkan perhatiannya pada Tv lalu menatap mata elang Alvi. "Aku udah tahu aa." ia mengelus rahang Alvi.
"Jangan terlalu benci sama ibu Aa, bagaimana pun dia wanita yang melahirkan Aa. Coba aja nggak ada ibu, aku nggak bakal dapat suami tampan seperti aa." Nasihat Alana di sertai candaan, agar tidak terlalu larut dalam suasana tegang.
"Jangan ninggalin aku seperti yang di lakukan ibu ya Al?" Alvi mengelus rambut indah Alana.
Bayangan ibunya saat membawa lelaki lain masuk kedalam rumah ketikan ayahnya koma di rumah sakit masih terus tersimpan rapi di pikirannya. Apa lagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ibu yang sangat ia cintai malah bercumbu dengan lelaki lain di dalam kamar orang tuanya. Hatinya hancur saat itu tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis sendirian di dalam kamar.
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi Aa sayang, selama aa tidak menyuruhku pergi, aku tidak akan pergi." Alana semakin mengeratkan pelukannya.
Setitik air terjatuh di sudut mata Alana, mengingat bagaimana kakek Farhan menceritakan masa lalu Alvi yang begitu nenyedihkan. Lelaki itu bahkan bersimpung di kaki ibunya, memohon agar wanita bergelar ibu itu tidak meninggalkannya, tapi wanita itu malah mendorongnya lalu pergi bersama lelaki lain. Jika Alana yang menjadi Alvi mungkin ia tidak bisa setegar sekarang, orang tua adalah kelemahannya.
Apa lagi setelah kepergian ibu Alvi, Ayah lelaki itu ikut meninggalkannya, meninggalkannya untuk selamanya. Di situlah kepribadian Alvi hampir berubah seratus delapan puluh derajat, lelaki yang selalu tersenyum itu, kehilangan senyumnya, mulai bersikap dingin dan selalu berambisi mendapatkan nilai yang terbaik, karena ia mengira orang tuanya meninggalkannya karena ia menjadi anak bodoh. Di situ pula ia mulai menghindari makhluk bernama perempuan.
***
Hari senin mendung, membuat siswa-siswi SMA Angkasa bersorak ria, apa lagi setelah mendengar pemberitahuan bahwa mereka tidak jadi upacara.
Kini seorang gadis yang tidak gadis lagi, duduk di kantin bersama sahabatnya, setelah menemui pak Dirga di ruangannya. Di samping mangkuk baso ada setumpuk lembaran soal dari pak Dirga yang akan ia kerjakan sebagai syarat menjadi asisten guru manis itu.
Salsa menunjuk setumpuk kertas dengan dagunya. Mengerti akan gerakan Salsa, Alana mengebangkam senyumnya bangga, ia lupa belum certia apapun pada Salsa.
"Tugas dari pak Dirga." jawab Alana.
"Tugas?" beo Salsa.
"Hooh, bentar lagi kan gue bakal jadi asistennya." bangga Alana.
"Really!" pekik Salsa tak percaya.
"Iya dong."
Salsa yang melihatnya menyengol lengan Alana. "Mau taruhan nggak?"
Kening gadis berambut indah tersebut terangkat mendengar tawaran sahabatnya, taruhan? buat apa?
"Pak Alvi bakal nyapa lo apa nggak."
Alana mendorong kening Salsa dengan telunjuknya. "Nggak bakal, dia bukan tipe seperti itu.
"Kita lihat saja nanti."
Benar saja, langkah lelaki itu semakin dekat dengan Alana, namun belum ada tanda-tanda lelaki itu akan menyapanya, jangankan menyapa senyum saja tidak.
Jantung Alana berdesir hebat, mendapat bisikan lembut di telinganya, saat seorang pria melewatinya, hanya satu kata namun membutnya sangat bahagia.
"Semangat." lirih Alvi sedikit menunduk, mengenggam tangan gadis berambut indah yang ia lewati tanpa orang lain ketahui. Hanya itu yang bisa ia lakukan di sekolah, ia harus profesional walau seantero sekolah sudah tahu hubungan mereka.
__ADS_1
Blus
Pipi Alana memerah seperti kepiting rebus, sakin bapernya dengan inisiatif Alvi. Membuat gadis di sampingnya melongo tak percaya.
***
Alana, gadis berambut indah tersebut mondar mandir di taman belakang sekolah, taman yang sangat jarang di kunjungi siapapun. Ia menunggu kedatangan seseroang.
"Kenapa?"
Sontak Alana menoleh lalu tersenyum melihat lelaki yang sedari tadi ia tunggu berdiri di depannya, lelaki yang tadi melewatinya tanpa senyuman namun mampu membuat jantungnya tidak aman, kini memperlihatkan senyumnya.
"Pak Alvi."
"Jangan panggil aku pak, di sini nggak ada orang." ujar Alvi tak suka jika di panggil pak. "Kamu butuh sesuatu? kamu sakit?"
Alana mengeleng kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Aku boleh pergi sama pak Dirga?"
"Nggak!" tegas Alvi.
Alana menyatukan kedua telapak tangannya mengejap-erjapkan mata. "Boleh ya Aa, sekali ini saja, aku perginya juga karena jadi asisten bukan pacaran." rengeknya.
"Plis." tingkah Alana semakin mengemaskan di mata Alvi membuatnya tidak tega jika melihat gadis berambut indah tersebut terus memohon.
"Baiklah, tapi pulang sendiri tanpa di antar oleh Dirga."
"Siap suamiku sayang, makin cinta deh." Alana mengecup pipi Alvi tanpa memedulikan tempat, sakin senangnya akhirnya ia bisa keluar rumah dengan pak Dirga.
Senyum Alvi tidak bisa di sembunyikan lagi, ia menangkup kedua pipi gadis kecilnya, membuat bibir berwana pink itu manyun, ia mendekatkan wajahnya ingin menyesap benda kenyal itu namun pemilik bibir malah mendorongnya.
"Ingat tempat Aa." peringatan Alana, jika Alvi sudah mencicipi bibirnya, lelaki itu sering hilang kendali.
"Sekali saja." baru saja akan mengecup bibir pink itu teriakan dari arah belakang mengagetkannya.
"Alana!"
Sontak Alvi melepas tangkupannya, mengigit kepalan tangannya gemes sekaligus salting sendiri, hampir saja ia kepergok berbuat mesum di sekolah. Ia guru, ia harus menjadi contoh yang baik bagi siswa-siswinya.
"Di rumah aja." bisik Alana. "Dada Aa." Alana melambaikan tangannya lalu berlari menghampiri Salsa.
__ADS_1
...TBC...
Aa nya ketagihan YaðŸ¤ðŸ˜…