
Sembari menunggu Alvi selesai mandi, Alana menyiapkan segala sesuatu keperluan lelaki itu, mulai pakaian dalam, jas, kemeja, dasi, hingga kaos kaki dan sepatu. Gadis itu selalu pusing pagi-pagi jika mendengar teriakan Alvi mencari barang-barangnya.
"Alana dalaman Aa..."
Belum sempat Alvi menyelesaikan kalimatnya, Alana keburu memotong.
"Melek dulu Aa, itu semuanya ada di tempat tidur," sahut Alana tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin, menutupi tanda kepemilikan Alvi dengan fundation karena akan ke sekolah.
"Terimakasih." Mengecup bibir pink itu sekilas kemudian berjalan kearah ranjang di mana semua pakaiannya tertata rapi dan lengkap. Istri kecilnya benar-benar tahu apa yang ia inginkan.
"Alana!" panggil Alvi lagi.
"Apa sayang?"
"Dasi Aa." Menunjuk dasi yang mengatung di lehernya.
Alana memutar bola mata jengah, tapi tetap melaksanakan keinginan Alvi.
"Merah banget." gumam Alana menyetuh tanda kepemilikan yang ia buat semalam di leher Alvi, tidak menyangka akan semerah itu. Dengan sigap ia mengambil fundation lalu menutupi maha karya tersebut.
***
Seperti biasa suasana lingkungan sekolah sangatlah ramai, apa lagi di bagian parkiran motor, di sana di penuhi cowok berjaket hitam berlambangkan Avegas, tengah tertawa bersama.
"Langsung ke kelas." perintah Alvi ketika Alana mencium punggung tangannya.
Dari tatapan Alana, Alvi tahu gadis itu akan berbuat sesuatu yang ia tidak sukai pagi-pagi.
"Iya bawel." Melepas seat belt yang melekat pada tubuhnya. "Aa pulang jam berapa?"
"Aa ada jam sampai sore, jadi bisa pulang bareng."
"Assiap kapten." Memberi hormat pada Alvi.
Baru saja menutup pintu mobil, gadis itu berbalik dan membuka pintu mobil, membuat Alvi mengernyit heran apa lagi melihat senyuman lebar sang istri.
"Kenapa, Hm?"
"Penyemangat paginya belum Aa." Mengecup sudut bibir Alvi kemudian berlari meninggalkan lelaki itu yang kini mematung memegangi bibir nya.
Jantungnya berdebar 2 kali lipat dari biasanya, mungkin karena Alana menciumya dengan inisiatif sendiri tanpa ia meminta.
Jika Alvi sedang baper, lain halnya dengan gadis berambut indah tersebut, senyuman lebar ia perlihatkan ketika sampai di parkiran motor.
"Hay cogan-cogan." sapanya.
"Hay cecan." balas Ricky dan Rayhan berbarengan.
"Pagi Queen." sapa anggota lainnya.
"Ketua kalian mana?"
__ADS_1
"Biasa jemput ibu ketua Al." jawab Ricky.
"Tumben pagi-pagi dah pada ngumpul." cibir Alana.
"Tau si Azka tiba-tiba ngabarin, kalau hari ini nggak ada satupun anggota yang boleh bolos."
"Masuk Al, bentar lagi bel masuk bunyi." perintah Keenan.
"Belum lagi kalau pak Alvi sampai liat." cibir Rayhan.
"Dito." panggil Alana.
"Apa?" sahut Dito yang sedari tadi menunduk asik dengan ponselnya sama halnya dengan Samuel.
"Nggak, cuma lo aneh aja akhir-akhir ini sama gue."
Anggota lainnya pamit memasuki lingkungan sekolah, meninggalkan Dito dan Alana di parkiran ber dua saja.
"Aneh gimana?" cuek Dito.
"Lo itu banyak berubah nggak kayak dulu lagi."
"Lo itu udah punya suami Al, nggak mungkinkan, gue kayak dulu lagi, buat apa coba?"
"Tapi gue anggep lo abang seperti Ken dan yang lainnya."
"Sorry Al, gue nggak bisa anggap lo adik."
"Gue nggak pernah anggap lo adik dari pertama kita bertemu, gue anggap lo sebagai seorang gadis. Jadi jangan paksa gue bisa seperti dulu lagi."
Alana terdiam, mencoba mengerti perkataan Dito barusan. Kalimat 'Gue anggap lo seorang gadis' begitu ambigu di pendengarannya.
"Somoga lo bahagia Al, sampai kapan pun gua akan anggap lo sebagai seorang gadis."
Dito berjalan meninggalkan Alana yang masih diam terpaku di tempatnya. Gadis itu sama sekali belum mengerti akan kalimat yang di lontarkan Dito.
Sembari menunggu guru, Alana dan Salsa bergosip ria didalam kelas. Namun yang lebih aktif tentu saja Alana.
"Lo tau nggak perbedaan Gadis dan adik perempuan di mata cowok?" penasaran Alana.
"Kalau menurut logika gue sama aja tuh, kecuali kalau cowok yang dekat sama perempuan. Jika mereka menggapnya gadis itu artinya cowok itu dekat dengan si perempuan karena cinta, dan itu berlaku sebaliknya."
"Napa sih?"
"Nggak cuma nanya aja."
Lama mereka menunggu hingga guru PPKN manis itu akhirnya datang. Dirga mengajar seperti biasa, sama halnya dengan Alana, tapi gadis itu sengaja menghidari tatapan pak Dirga, ia paling tidak suka jika ada yang menyukainya, ia risih akan hal itu.
Jam pelajaran telah selesai, namun, Alana tetap bergeming di tempatnya walau Salsa sudah mengajak gadis berambut indah tersebut ke kantin.
Alana yang sedang serius mencatat beberapa materi di kejutkan dengan ke datangan adik kelas yang pernah menabraknya dahulu.
__ADS_1
"Kak Alana." panggil Acel.
Alana mendongak.
"Di panggil pak Dirga keruangannya sekarang."
"Kenapa?"
"Nggak tau kak," jawab Acel.
"Makasih dek."
Demi menghormati seorang guru, Alana memutuskan menemui Pak Dirga di kantor guru, mungkin memang dirinya mempunyai masalah Nilai menjelan kelulusan.
Sebelum memasuki ruangan pak Dirga, Alana menyempatkan mencuri-curi pandang, mencari keberadaan suami tampannya.
"Nyari siapa Nak?" tanya ibu Rita. "Pak Alvi masih ngajar."
"Nggak kok bu, saya mau keruangan pak Dirga," jawab Alana mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, salting sekaligus malu kedapatan mencari keberadaan seseorang.
Seperti biasa dirinya akan di sambut dengan senyuman manis guru PPKN saat membuka pintu. Alana hanya senyum kikuk bediri di seberang meja pak Dirga.
"Ada apa pak Dirga manggil saya?"
"Saya hanya ingin memperjelas status kamu, beneran kamu mengundurkan diri jadi asisten saya?"
"Iya pak," jawab Alana di sertai anggukan mantap.
"Menggungkapkan perasaan belum berarti saya mengajak kamu pacaran. Tapi saya igin kamu tahu bagaimana persaan saya selama ini Alana. Kalau kamu tidak terima, jangan menjauh seperti ini.
"Ada lagi pak?" Alana tak menanggapi perkataan Dirga.
Bukannya menjawab, Dirga malah mengambil sesuatu di dalam tasnya, lalu memberikan benda berbentuk persegi itu pada Alana.
"Makan siang untuk kamu."
"Makasih pak." Mengambil makan siang dari pak Dirga kemudian cepat-cepat pergi dari sana, jangan sampai Alvi tahu bahwa ia bertemu dengan pak Dirga tanpa sepengetahuan lelaki itu. Bisa-bisa dirinya akan di cuekin habis-habisan.
Gadis itu sengaja mengambil jalan berlawanan arah dari kelasnya, ia ingin jalan-jalan sekaligus mencari keberadaan suaminya yang entah mengajar di kelas mana.
Walau sedikit merinding, ia tetap menerobos karidor sekolah yang sedikit sepi itu. Koridor yang akan ramai jika ada kegiatan penting saja.
Saat akan melewati ruangan Aula seseorang manarik tangannya, menutup mulut gadis itu agar tidak berteriak. Alana memberontak ketika orang itu membawanya masuk ke dalam aula yang sangat gelap tanpa penerangan apapun.
...TBC...
Jangan lupa ramaikan kolom komentar okay👍, dan jangan lupa like, dan Vote😊.
Oh iya dedek gemes bawa novel lagi buat nemenin kalian sambil nunggu si Aa up. Kisah sang pengawal yang jatuh cinta pada atasannya.
__ADS_1