
Kehadiran Disya di rumah mereka membuat Alvi terlepas dari hukuman tidur di luar malam ini. Alana seketika lupa bahwa marah pada dirinya terbukti sedari tadi gadis itu tersenyum kearahnya hanya karena melihat kehebohan Disya di ruang keluarga.
Gadis cilik itu sibuk menghamburkan mainan apa saja yang ia temui. Mereka tidak mempunyai anak, tetapi Alana sangat antusias membeli mainan apa saja yang ia lihat jika sedang jalan dengannya, kini semua mainan itu bermanfaat dengan kehadiran Disya di rumah mereka.
Alvi bersandar pada tembok memperhatikan interaksi Alana dan Disya yang tak jauh darinya, ia tersenyum ketika Alana membisikkan sesuatu pada Disya.
"Ayah sini!" panggil Disya melambaikan tangan kearahnya.
"Ayah?" tanya Alvi tanpa suara pada Alana, tapi gadis itu langsung mengerti dan menganggukkan kepalanya membuat senyum Alvi semakin lebar.
Ia menghampiri dua perempuan berbeda generasi itu, ikut masuk kedalam kolam buatan yang di penuhi bola plastik. Sebelum duduk Alvi terlebih dahulu mengecup pipi Alana, lalu beralih pada Disya, tetapi gadis itu menahan wajahnya, kemudian mengeleng dengan jari di goyang-goyangkan tepat di depan wajahnya.
"No Ayah,"
"Kenapa?"
"Kata Daddy, Ica nda boleh di cium ama aki-aki kecuali Daddy."
Alana tertawa mendegar jawaban Disya, gadis itu bahkan meledeknya. "Makanya jangan asal cium."
Usai bermain bersama, Alvi mengajak keduanya makan malam yang terbilang sangat terlambat karena sudah jam 10 malam. Makan dalam keadaan rusuh, di mana Disya tak ingin turun dari gendongannya, tapi ada untungnya juga dengan begitu Alana menyuapinya.
Ia memerintahkan kedua gadis mengemaskan itu untuk sikat gigi dan cuci kaki sebelum tidur, malam ini mereka akan tidur bertiga.
"Coba bunda liat giginya!" pinta Alana setelah mereka selesai sikat gigi.
Dengan patuhnya Disya memperlihatkan gigi kecil dan rapi itu. "Udah belcih."
__ADS_1
Lagi dan lagi Alana dan Alvi tertawa melihat betapa mengemaskannya gadjs cilik itu, bahkan jika Arka menitipkan Disya selamanya mereka tidak akan keberatan.
Tidur memperebutkan Alana membuat gadis itu kesusahan sendiri. Ia dan Disya sedari tadi berdebat hanya karena ingin tidur di samping Alana. Alhasil Alana tidur di tengah-tengah di apit oleh mereka berdua
Tak sampai di situ saja, kini Alana pusing sendiri harus mendengarkan siapa, semua meregek minta di peluk.
"Aa udah gangguinnya, Disya mau tidur." tegur Alana.
"Ica mau di tengah."
Mata Alvi yang sudah terpejam kembali terbuka mendengar rengekan Disya, padahal dirinya sudah sangat nyaman memeluk gadisnya dari belakang.
"Aa dengar?"
"Hm." dengan pasrah Alvi berpindah tempat tidur di samping Disya, memeluk gadis cilik itu sekaligus dengan Alana.
"Biasanya juga gini." acuh Alvi mengecup kening Alana sebelum memejamkan mata.
"Biisinyi jigi gini." cibir Alana. "Aa lupa kalau ada Disya?"
"Hm."
Setelah Disya terlelap dalam pelukan Alana, Alvi diam-diam pindah posisi, ia kembali ke tempat semula yaitu tidur di samping Alana, memeluk gadis itu dari belakang.
***
Malam begitu cepat berlalu, berganti dengan pagi yang menyegarkan dan sangat indah, apa lagi jika di nikmati sebelum matahari terbit. Tapi apalah daya sepasang suami istri itu telah melawatkannya, dari ketiga manusia berbeda generasi itu belum ada yang menampakkan tanda-tanda akan terbangun.
__ADS_1
Alvi terbangun ketika Alana mengeliat dalam pelukannya, perlahan tapi pasti ia membuka mata dan mendapati sang istri tengah memeluknya. Kebiasan yang salu ia lakukan di pagi hari yaitu mencium kening sang istri.
"Pagi."
"Too Aa." senyum Alana mengembang ketika Alvi mengecup bibir pink nya. ia kembali memejamkan matanya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvi. "Masih ngantuk."
Alvi tak mendengarkan Alana, ia kembali mengecup bibir pink itu berkali-kali walau Alana terus menolak dan mengatainya bau iler. Tak ada pelokan lagi Alvi semakin memperdalam luma*tannya mengabsen setiap inci rongga mulut Alana. Tangan yang semula diam kini mulai aktif di balik selimut, rasa dingin di pagi hari berubah menjadi hangat dan mendebarkan.
Tanpa mereka sadari gadis cilik yang sangat aktif itu terbangun dan merangkak masuk kedalam selimut. Disya mengerjap-erjapkan matanya melihat sesuatu yang asing menurutnya.
"Ayah kenapa makan bibil bunda?" pertanyaan Disya membuat sepasang suami istri yang tengah memadu kasih itu berhenti.
Wajah Alana dan Alvi langsung memerah mendapat pertanyaan polos dari Disya. Dengan sigap Alvi menyingkap selimut lalu turun dari ranjang meninggalan Alana dan Disya, dirinya sangat malu pada Disya saat ini.
Sementara Disya masih terus memperhatikan wajah Alana yang memerah dengan mimik wajah yang sangat polos. Gadis cilik itu menyentuh bibir pink Alana.
"Bibil bunda masih ada." lirih Disya. "Kenapa ayah makan bibil bunda? ayah lapal ya?" lanjut Disya.
Alana mengeleng, mengulum senyum, memerhatikan Alvi yang sedari tadi mondar-mandir di depan lemari seperti orang kebingungan. Ah suaminya terlihat sangat gagah memakai sarung. Sarung yang lupa lelaki itu lepas setelah menunaikan sholat subuh sakin ngantuknya.
"Ayah!" Alana menjeda, rasanya aneh kata itu keluar dari mulutnya. "Di tanyain Disya, Ayah lapar katanya?" ia mengulum senyum berhasil mengerjai Alvi pagi-pagi.
...TBC...
Acie-cie si Aa Salting🙈
__ADS_1