Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Bonus Capter 16


__ADS_3

Tidak mendapat sahutan lagi dari sang putri, Alvi langsung menarik selimut dan mendapati kulit Agatha merah-merah.


"Habis dari mana?" tanya Alvi dengan intonasi tinggi, ia paling tidak suka jika ada anak-anaknya sakit tanpa sepengetahuannya.


"Nggak kemana-mana Dad, apaan sih," jawab Agatha.


"Habis dari mana sayang? Pasti ke tempat berdebu?" timpal Alana.


Ia tahu betul putrinya menuruni penyakit Alvi, yaitu alergi terhadap debu.


"Kenapa malah nanyain kondisi kak Atha? Lili hilang tapi nggak ada yang peduli. Kalian cuma sayang sama kak Atha bukan sama Alha!" bentak Alatha berderai air mata.


Sedari tadi ia sudah menangis karena kucing kesayanganya. Bukannya di bantu, malah di cuekin seperti ini.


Alatha paling tidak suka jika keinginannya tidak di penuhi. Apa semua anak bungsu seperti Alatha? Egois, manja dan ingin menang sendiri?


Alana beranjak, menghapus air mata putrinya. "Mommy sayang sama kalian Nak. Sekarang berhenti nangis, Atha nggak mungkin nyakitin Lili," bujuk Alana.


"Dih dasar cengeng gitu aja nangis. Noh Lili ada di gudang, makanya punya mulut nggak usah ember. Cepu mulu hobinya, untung gue nggak sate beneran tuh kucing," gerutu Agatha.


"Kak Atha jahat!" Alatha menghentakkan kakinya.

__ADS_1


"Dari pada lo Cepu," balas Agatha tak mau kala.


"Udah ... udah sayang," lerai Alvi. "Atha obatnya jangan lupa di minum, Daddy nggak suka kamu nyepelein penyakit kayak gini. Mulai hari ini kamu di larang ke gudang!"


"Baiklah tuan diktator," gumam Agatha beranjak dari tempat tidur.


"Kanjeng Mommy dan Tuan Daddy. Mending keluar tuan putri mau mandi dulu," usir Agatha.


Alana dan Alvi hanya bisa mengeleng melihat tingkah ajaib putri mereka. Setiap hari ada saja kehebohan di rumah mereka. Entah Arga yang pulang dengan wajah masam karena di tolak oleh gebetannya.


Atau Alatha pulang-pulang nangis karena pulpenya di ambil teman sekelas.


"Lili berdebu Mommy," adu Alatha yang baru saja dari gudang mengambil kucing kesayangannya.


"Lilinya di mandiin sayang, kamu juga belum mandi kan?" Alatha mengangguk.


Setelah mengurus si kembar, Alana kembali ke kamarnya dan tidak mendapati Alvi. Senyumnya mengembang mendengar gemircik air di kamar mandi, ia berjalan perlahan kemudian mengetok pintu itu.


"Aa sayang, buka pintunya! Istri cantik Aa mau masuk ini," goda Alana.


"Tunggu sayang," sahut Alvi.

__ADS_1


"Ish, maunya sekarang!"


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka setengahnya. Alvi menyembulkan kepalanya, menyembunyikan tubuhnya di balik pintu.


"Kenapa sayang? Mau mandi bareng?"


"Ngapain ngumpat gitu Aa?" Alana langsung menerobos masuk ke kamar mandi. Ia menelan salivanya kasar melihat pemandangan indah di depannya.


Tubuh polos Alvi sangat menggoda. Alana mengigit bibir bawahnya. "Tongkat bisbol Aa on tuh," goda Alana tanpa malu.


"Mau bantu nidurin, Hm?" Alvi langsung menyudutkan Alana ke dinding.


Sifat istrinya dari dulu tidak pernah berubah, selalu jahil dan bar-bar. Walau memiliki tiga anak yang beranjak remaja, hubungan keduanya tidak pernah rengang, malah semakin menempel layaknya perekat.


Alvi sangat bersyukur di beri istri yang sangat cantik dan pengertian seperti Alana. Di balik sifat bar-bar istrinya ada hati yang begitu mulia.


"Ngapain natap gitu? Padahal dari tadi aku nunggu di terkam."


"Shiitt, istriku memang berbeda," umpat Alvi lansung meraup benda kenyal istrinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2