
Alana mendengus kesal, saat sampai di kamar dan mendapati Alvi duduk bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku. Satu jam lebih ia menunggu ternyata suaminya sedang asik dengan dunianya sendiri.
Ia langsung duduk di samping Alvi, menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu.
"Judul bukunya apa?" tanya Alana basa-basi langsung membalik buku itu dengan alasan ingin mengetahui judulnya, padahal niat sebenarnya hanya ingin menganggu.
Sudah lama ia tidak bertengkar dengan Alvi, dan ia merindukan itu. Entahlah, stok kesabaran suaminya makin hari makin bertambah, hingga saat ia membuat perkara, bukannya bertengkar, Alvi malah menasehatinya dengan penuh kasih sayang.
"Penelitian sayang," jawab Alvi kembali membuka buku itu dan melanjutkan membacanya.
"Nggak jelas judulnya." Alana membalik buku itu hingga terlepas dari tangan Alvi.
Ia sontak tersenyum memperlihatkan gigi rapihnya, saat di tatap oleh sang suami.
"Kamu kenapa sayang? Hari ini Aa rasa kamu nyari masalah mulu?" tanya Alvi.
"Nggak papa."
"Aaaa ngeselin banget istrinya Aa," gemes Alvi mencubit pipi Alana yang semakin tembem.
"Kok nyeselin? Aa marah? Udah nggak sayang lagi sama aku?" Kan Alana mulai bertingkah.
"Sebahagia kamu Al." Alvi beranjak dari duduknya. "Aa free hari ini, mau jalan nggak?" tanya.
"Serius?" Mata Alana seketika berbinar. Akhirnya setelah sekian lama Alvi peka juga akan keinginannya.
"Hm, buruan ganti baju."
__ADS_1
"Siap suami ku." Alana berlari masuk ke ruang ganti baju, sebelum menutup pintu, ia menyembulkan kepalanya. "Aa sayang, mau liat model lingerie secara live nggak? Sini mumpung lagi mood," panggil Alana.
"Rezeki nggak boleh di tolak."
***
Usai ganti baju dan mengalami drama kemesuman yang menyenangkan, akhirnya mereka sudah selesai bersiap-siap. Konsep keduanya yaitu mengenang masa-masa muda.
Alvi memakai hodie dan celana jens, begitu pula dengan Alana. Wanita tiga anak itu, masih pantas menjadi anak SMA karena tubuh mungil juga wajahnya yang awet muda.
Benar kata pepatah. Wanita akan awat muda dan terlihat cantik jika berada di tangan laki-laki yang tepat. Alana adalah testimoninya.
"Aa udah nggak cocok pakai ginian sayang."
"Dih apaan sih A. Jangan karena Aa tua, malah katro, nggak banget," gerutu Alana.
"Lah bukannya memang udah tua ya?"
"Baru juga kepala empat," ucap Alvi tak terima.
"Sama aja kali, kayak aku dong, baru kepala tiga." Bangga Alana. "Ah iya, aku mau jalan-jalan naik motor titik!" ucap Alana.
"Nggak ada, matahari terik banget sayang. Hampir jam 12."
"Nggak bakal gosong juga. Kalau nggak mau, yaudah aku jalan sama Arga aja, biar kelihatan lebih muda."
"Yaudah." Pasrah Alvi berjalan lebih dulu keluar dari kamar, menuju garasi dan tentu saja ia harus melewati ruang tamu di mana anak-anaknya berkumpul.
__ADS_1
"Sssttt ... sssstttt." Arga berdesis seperti ular, hal yang selalu ia lakukan saat menggoda sang Daddy. "Gaul amat Dad, mau kemana?"
"Jalan-jalan," jawab Alvi.
"Ikut." Si kembar langsung berlari dan bergelayut manja di lengan Alvi.
"Enak aja, nggak boleh," sahut Alana. "Mommy mau jalan berdua sama Daddy."
"Dih pelit," cibir Agatha.
"Biarin, orang milik Mommy juga."
"Arga ajak si kembar jalan-jalan juga ya nak!" perintah Alvi menyerahkan salah satu kartu pada putranya.
"Kalau ini mah semangat 45 Dad." Dengan wajah berbinar Arga mengambil kartu pemberian Alvi.
"Hore," sorak Alatha, ia sangat suka berbelanja.
Agatha? Di otak gadis itu bukan belanja, tapi memikirkan cara agar lolos dari Arga dan Alvi.
"Kenapa sayang?" tanya Alana yang menyadari raut wajah putrinya.
"Atha Izin kerumah Om El aja deh Dad. Kangen sama anaknya Jack."
Alvi menatap Arga. "Sebelum ngajak Alha jalan-jalan, antar Atha dulu ya boy!"perintah Alvi.
"Assiap."
__ADS_1
...****************...