
Alvi. Guru kimia tersebut terus memperhatikan gadis berambut indah tersebut di depan meja rias, hampir setengah jam, Alana belum juga selesai ber dandan, apa perempuan semua seperti Alana?
Ia berjalan mendekat, membungkukkan tubuh tingginya sejajar dengan sang gadis, memandangi istrinya lewat pantulan cermin.
"Nggak usah dandan, Aa nggak suka." gumam Alvi.
Alana mendengus, kata itu entah yang keberapa kalinya keluar dari mulut Alvi. Ia menghentikan acara gambar alisnya.
"Aa bisa diam nggak sih, aku nggak fokus gambar alis." kesal Alana, biasanya ia hanya duduk di depan meja rias selama 15 menit, tapi sekarang, hampir satu jam ia belum selesai juga karena di ganggu oleh Alvi.
"Aa heran sama cewek, pipi merah di tutupin, tapi malah di olesin merah-merah, alis di cabut atau di kerok, tapi di gambar lagi." Ujar Alvi.
Lelaki itu menelan salivanya kasar melihat tatapan tajam Alana lewat pantulan cermin. Apa perkataannya salah? ia hanya penasaran dan mengelurkannya.
"Aa ledekin aku? iya!" kesal Alana
"Bu-bukan gitu, Aa cuma nanya."
***
Sesampainya di hotel tempat di mana pernikahan rekan kerja Alvi. Lelaki itu tak pernah melepaskan tautan tangannya, terus meremat jari-jemari milik sang istri.
Mereka tak langsung menghampiri mempelai, karena rekan kerja yang lainnya menyapa terlebih dahulu.
"Pak Alvi apa kabar." sapa rekan kerjanya.
"Baik." Selalu saja lelaki itu memperlihatkan wajah datarnya jika berada di luar kandang.
"Jadi ini istri pak Alvi." kerabat satunya ikut bergabung mulai sok akrab dengan CEO Anggara grup yang terkenal cerdas itu.
Alana mengembangkan senyumnya, melirik wajah datar suaminya, sepertinya lelaki itu tidak akan membuka suara, membuat dirinya berinisiatif menjawabnya.
"Aku...." Alana menghentikan perkataannya kala merasakan genggaman tangan Alvi semakin erat.
"Iya dia istri saya." jawab Alvi datar. "Kami pamit dulu." dengan langkah lebar lelaki itu menarik Alana menjauhi kerumunan pria baruh baya hidung belang yang sedari tapi mentap lapar sang istri.
Lelaki itu menghentikan langkahnya setelah berada di atas pelamian di mana sepasang pengantin tengah menebar senyum kebahagian.
"Selamat." ujar Alvi menjawab tangan Alva.
Lain dengan gadis di sampingnya yang sedari tadi memandangi gadis imut di samping lelaki berwajah datar seperti suaminya. Sepertinya ia pernah melihat gadis di depannya tapi di mana?
"Alana." panggil Alvi.
"Ah iya...Selamat ya." ujar Alana sembari menyerahkan kotak biru yang lumayan besar pada Cilla mempelai perempuan.
"Kita pernah ketemu nggak sih?" selidik Alana tidak tahan dengan rasa penasaranya. "Ah gue baru ingat, lo satu kelas dengan Keenan dan yang lainnya bukan?"
"Iya." jawab Cilla.
"Ah demi apa, ternyata kita satu sekolah. Bisa-bisanya gue nggak ngenalin angkatan sendiri." Alana menepuk jidatnya, merasa konyol sendiri.
"Mau besanan sama gue nggak?" tawar Alana.
__ADS_1
Alvi senyum kikuk melihat ke antusiasa istrinya, sebelum datang ke pesta gadis itu sangat malas, eh sekarang malah dia yang aktif.
"Kita pulang!" ajak Alvi kembali mengenggam tangan mungil Alana.
"Jangan lupa hadiah aku di pakai, biar calon mantu aku cepat hadir." bisik Alana sebelum menjauh dari sepasang pengantin baru itu. Cilla hanya tersenyum melihat kelakuan Alana.
"Sudah hadir." batin Cilla.
Bukannya pulang gadis berambut indah tersebut malah mendudukan diri di salah satu meja bundar, membuat Alvi ikut duduk.
"Rugi pulang nggak makan Aa." ujar Alana. "Tadi aku liat Rendang di sana." tunjuknya pada meja prasmanan. "Ambilin, aku mau."
Alvi menghelas nafas panjang, tapi tetap saja berdiri menuruti kemauan sang istri. Apapun akan ia lakukan demi kesenangan Alana.
"Hanya itu?"
"Iya sayang."
Alvi mengulum senyum, sebelum pergi ia berisik sesuatu di telinga gadisnya. "Jangan goda Aa di keramaian, Hm."
"Yang banyak sayang." bukannya berhenti Alana malah semakin menggoda suaminya.
Alvi hanya mengambil sepiring rendang, juga satu garpu saja, sesuai pesanan sang istri, lagi pula ada untungnya juga keinginan Alana, dengan begitu ia bisa makan sepiring berdua.
"Kamu ngasih hadiah apa sama mereka?" tanya Alvi sembari menyuapi gadisnya.
"Lingerie tujuh warna." senyum Alana mengembang membayangkan lingerie itu, lingerie dari butik sang bunda, ia sengaja memesan 7 dengan warna berbeda-beda.
"Lingerie?" bingung Alvi tak tahu benda apa itu.
"Emang kamu sudah hamil?"
"Belum." jawab Alana cepat. "Aa sih, kurang gercep buatnya." ia menyalahkan Alvi tetapi terus menerima suapan dari lelaki itu.
"Kamu remehin Aa?"
"Iya." tantang Alana.
Alvi meraih tangan mungil Alana di atas meja. "Kita pulang, Aa bakal buat sampai pagi."
***
Bosan memperhatikan gadisnya di depan lemari hanya berbalut handuk sebatas paha, lelaki itu mendekat lalu memeluk gadisnya dari belakang. menyentuhkan cuping hidungnya dengan telinga gadis tersebut, menghirup aroma wangi vanila di tubuh istrinya.
"Nyari apa, Hm?" mengigit kecil telinga Alana.
"Baju tidur upin-ipin aku." jawab Alana sembari menghamburkan pakaian di dalam lemari. Sepertinya ia menyimpan baju tidur couple upin-ipin itu di lemarinya.
Gadis itu memutar tubuhnya menghadap Alvi. "Aa Tahu?"
Cup
Alvi mengecup benda kenyal berwarna pink itu sebebelum menjawab pertanyaan istrinya. "Nggak!"
__ADS_1
"Aa lepasin dulu aku mau pakai baju." mendorong tubuh kekar itu
"Nggak usah repot-repot." Alvi mengendong tubuh mungil Alana ke atas ranjang. Merangkak di atas tubuh mungil berbalut kain tebal berbahan halus itu. Tangannya dengan nakal menarik ujung handuk agar lilitan kain itu terlepas dari tubuh gadisnya.
Ia memanyungkan bibirnya ketika Alana menahan handuk itu.
"Sebentar atau tidak sama sekali." Alana mengalungkan tangannya di leher Alvi, mengecup bibir manyun lelaki itu.
Senyum Alana semakin melebar melihat tingkah mengemas Alvi. Lelaki itu mengelengkan kepalanya masih dengan bibir manyun. "Sekarang aja ya?"
"Utu...utu gemes banget sih suami aku." Alana menangkup kedua rahang Alvi kembali mengecup bibir tebal itu.
Tak ingin hilang kesempatan Alvi menekan tengkuk Alana, semakin memperdalam sesapannya, puas bermain di bibir tipis itu, mulutnya mulai nakal turun ke leher, menyesap meninggalkan maha karya yang sangat indah di sana.
Tangan yang semula diam kini mulai Aktif membuka balutan kain yang menutupi tubuh indah gadisnya.
Brugh.
Tubuh kekar lelaki itu terhempas ke atas ranjang, akibat dorongan Alana yang lumayan keras. Alvi hanya bisa menghela nafas panjang, selalu saja seperti ini, saat ia akan melakukannya, gadisnya merasa mual.
"Argh!" frustasi Alvi mengacak-acak rambutnya, bangkit dari tidurnya menyusul sang istri masuk kedalam kamar mandi. Rasanya sangat sulit untuk di jelaskan, kepalanya cenat-cenut akibat menahan sesuatu.
"Maaf Aa." Alana menunduk lesu tidak enak melihat wajah frustasi Alvi, tapi perutnya susah di ajak kompromi, ia selalu merasa mual jika terlalu intim dengan Alvi.
"Ngapain minta maaf, Hm?" Alvi mengangkat wajah Alana agar menatap mata elangnya. "Jangan nggak enakan sama Aa." ia mengacak-acak rambut indah gadisnya. "Pakai baju ntar masuk angin!"
"Nggak papa Aa, kalau Aa mau."
"Ck, udah di bilangin juga, Aa nggak mau kamu muntah lagi."
Cup
Cup
Cup
Alvi mengecup kening, cuping hidung dan bibir Alana sebelum gadis itu keluar dari kamar mandi.
"Jangan lupa sebelum tidur susunya di minum, nggak usah nunguin Aa."
Alana senyum menggoda, berkedip nakal ke arah Alvi. "Hayo mau ngapain, solo karir ya."
"Hm." malu Alvi kini telinganya memerah.
"Mau di bantuin nggak."
"Alana!"
"Iya...iya Aa sayang, nggak, sana mandi!"
...TBC...
Hati-hati pawangnya galakš¤
__ADS_1