
Alvi menghampiri Alana yang kini duduk selonjoran di sofa. Mengalungkan tangannya dileher Alana kemudian mengecup pipi juga mata sang istri.
Alana menoleh membalas ciuman Alvi. "Aa nggak kerja?" tanyanya.
"Nggak sayang, udah ada Hendri. Aa mau istirahat di rumah sama kamu, mumpung anak-anak nggak ada," jawab Alvi duduk di samping Alana, kemudian memeluk wanita itu dari samping. "Anak-anak nggak ada," ulang Alvi berbisik di telinga istirnya.
"Terus kenapa?"
Alvi mengerucutkan bibirnya cemberut, kenapa istrinya tidak peka dengan kode ia berikan? Ayolah ini kesempatan pas membuat dedek untuk baby A.
Alvi menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana.
"Manja banget Dedeknya Baby A." Alana mengulum senyum sembari mengelus rambut Alvi. "Kenapa Aa selalu semangat kalau aku kerumah bunda sama anak-anak?"
"Karena kita punya banyak waktu berdua sayang. Bunda mana mau lepasin anak-anak gitu aja, mau sampai malam bunda bakal betah jaga."
"Picik banget suami aku."
Alanan melerai pelukan Alvi yang tengah mengendus layaknya anak kucing. "Aku mau buat kopi untuk Aa, belum minum kopi dari pagi kan?"
"Minum susu original aja Mommy."
"Dasar om-om mesum, di otaknya nganu mulu," menyentil bibir tebal Alvi kemudian beranjak ke dapur untuk membuatkan sang suami Kopi.
__ADS_1
Terlalu buru-buru membuat air panas itu tumpah dan mengenai kaki mulusnya.
"Auwhh," ringis Alana mengundang perhatian Alvi di ruang tamu.
Tubuhnya melayang ke udara karena Alvin mengendongnya, ia mengalungkan tangan di leher sang suami.
"Kalau ngapa-ngapain hati-hati sayang. Udah punya anak tiga masih aja ceroboh!" omel Alvi membawa Alana menuju wastafel, meletakan kedua kaki istrinya masih dalam gendongan.
"Bisa nggak sih, Aa tuh kalau khawatir jangan ngomel, udah punya anak tiga juga," balas Alana.
"Ngeles aja terus."
"Aa juga ...."
Alvi mengecup bibir Alana. "Udah jangan ngomong lagi. Kaki kamu merah sayang." Usai membilas dengan air dingin, Alvi membawa Alana ke sofa lalu kembali ke dapur mengambil alat kompres.
"Dikit Aa."
"Lain kali kalau mau kedapur harus ditemenin orang, nggak boleh sendiri. Gimana kalau tangan kamu kena pisau atau sebagainya? Kalau mau Aa kamu nggak usah ngurus dapur."
"Iya sayang, iya." pasrah Alana.
Alana tersentak saat benda kenyal menyentuh punggung kakinya, ia sontak menarik kakinya dari pangkuan Alvi.
__ADS_1
"Aa apa-apaan sih, ngapain nyium kaki Aku? Aku nggak suka Aa bersikap seperti ini. Aa itu suami aku." Mata Alana berkaca-kaca merasa tak enak dengan suaminya, ia takut dosa.
"Bukan kamu yang nyuruh, Aa yang mau. Jangan sedih gitu." mengacak-acak rambut Alana.
"Jangan lagi!" cicit Alana. "Kalau bunda tau aku dapat marah."
"Bunda nggak bakal marahin kamu, sini peluk sama Aa." Alvi merentangkan tangannya.
Alana beringsut kepelukan Alvi dengan kaki selonjoran. Rasa panas masih terasa di kakinya, semoga tidak melepuh.
"Mau jalan-jalan? Mumpung lagi berdua," tawar Alvi membenarkan bibirnya di rambut indah Alana. Menghirup aroma yang menjadi candu baginya.
"Arga bentar lagi pulang, buah dada aku juga nyeri Aa, baby A belum menyusu dari pagi."
Seringai tercetak jelas di wajah Alvi. "Mau Aa bantu?"
"Boleh," jawab Alana tanpa sadar.
"Di kamar sayang," bisik Alvi.
Sadar akan otak mesum suaminya, Alana berbalik kemudian memukul dada Alvi. "Pantas aja mau ngebantu, ada udang di balik bakwa ternyata."
"Ayo sayang, Aa bantu sampai semuanya keluar, mumpuk lagi ada waktu." Alvi membopong tubuh Alana kekamarnya, dengan seringai licik. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa buka puasa di siang hari.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa meninggalkan jejak dan terimakasih untuk dukungan kalian😊