Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 25


__ADS_3

Alana melirik ponselnya yang bergetar pertanda ada pesan masuk di sana, dia mendongak memastikan bahwa pak Alvi sedang fokus di meja guru, bisa berabe jika dia kedapatan bermain Hp di dalam kelas.


Dia mengerutkan keningnya, ada apa gerangan pak Alvi mengiriminya pesan di jam pelajaran seperti ini. Kemudian dia mendongak dan mendapati pak Alvi menatapnya.


"Siapa?" bisik Salsa di telinganya.


"Bukan siapa-siapa?" dia buru-buru menyimpan ponselnya tanpa membaca pesan dari Pak Alvi.


Sekolah mulai sepi, satu persatu siswa meninggalkan sekolah, hanya beberapa yang tinggal untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Bahkan ke 6 inti Avegas belum ada yang pulang, mereka latihan basket untuk mengikuti pertandingan antar sekolah beberapa hari lagi, di mana SMA Angkasa menjadi tuan rumah.


Dia melihat Dito berlari kearahnya, dengan keringat bercucuran di tubuh cowok tampan itu, namun tak menyurutkan ketampanan laki-laki itu bahkan bertambah kali lipat.


"Mau pulang?" tanya Dito menyugar rambutnya yang berantakan.


"Iya." jawabnya mengambil tisu dan air minum di dalam tasnya, kemudian memberikan air mineral itu pada Dito.


"Makasih." ujar Dito sembari meminum air yang dia berikan hingga setengahnya dan mengembalikan padanya.


Dia sedikit berjinjit untuk melap keringat di wajah Dito, tanpa dia sadari perlakuannya mampu membuat jantung Dito berdebar.


Dito memandangi mata indah Alana yang sedang fokus meneliti wajahnya, melap setiap tetes keringat di sana. Perlakuan seperti inilah yang membuat dia jatuh cinta pada gadis manja namun perhatian itu. Katakanlah dia pecundang, mencintai tanpa mampu mengungkapkan hanya karena alasan sepeleh.


Tak ingin kehilangan


Dia tahu betul bagaimana sifat wanita, sebagian dari mereka akan menjauh jika mengetahui bahwa ada cowok yang menyukainya, dan dia tidak mau itu terjadi pada Alana.


"Udah." ujar Alana dengan senyum merekah.


Dito meraih tangannya dan menariknya kearah parkiran. "Gue antar pulang." ujar Dito.


"Gue..."


Tring!


Dia melirik ponselnya yang kembali bergetar. "Bentar To." dia mengambil ponselnya dan memeriksa pesan yang masuk.


"Pulang bareng saya! arah jam 3, saya tunggu."


Dia sontak menoleh dan mendapati mobil pak Alvi terparkir di sana.

__ADS_1


"Lo masih latihan kan? gue bisa pulang sendiri." tolaknya halus, dia lebih memilih pulang bareng pak Alvi karena berniat mampir dulu kerumah sakit sebelum pulang kerumah.


"Gue bisa antar lo pulang." Dito tetap pada pendiriannya, jarang-jarang dia mengantar Alana pulang, dan ini kesempatannya mumpung Samuel menyuruhnya.


"Udah nggak papa To, mang ucup bentar lagi sampai." bohong Alana.


Dito melempar senyum kearahnya, lalu mengacak-acak rambutnya. "Lansung pulang, jangan kelayapan!" peringatan Dito.


"Siap kapten!" hormat Alana membuat Dito tertawa.


"Gue latihan dulu." Dito kembali berlari kearah lapangan di mana para sepupunya latihan.


Sepeningalan Dito, dia berlari-lari kecil menghampiri mobil pak Alvi yang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Kemudian membuka pintu dan nyelonong masuk. "Maaf pak lama."


"Hm."


Dia tidak terlalu lama di rumah sakit, yang penting menapakkan diri di depan kakek Farhan agar tidak curiga dengan hubungannya dengan pak Alvi. Apa lagi sekarang ayah dan bunda nya sudah pulang membuatnya tidak leluasa pergi begitu saja.


Dia berpamitan pada Kakek Farhan. "Alana pulang Kek." dia mencium punggung tangan Kakek Farhan sebelum pulang.


Tanpa di sangka pak Alvi ikut bersamanya meninggalkan rumah sakit, dan sampai di parkiran, pak Alvi menawarinya pulang bersama. Aneh menurutnya, selama ini pak Alvi tidak pernah berinisiatif sendiri mengantarnya pulang, jika bukan karena paksaan kakek Farhan, tapi sekarang kakek Farhan tidak menyuruhnya kenapa malah menawarkan diri?


"Nggak papa, saya tunggu."


Respon pak Alvi sungguh di luar dugaan. Tanpa pikir panjang dia memeriksa kening pak Alvi. "Bapak Sakit?" herannya.


Seorang Alvino fernando, rela meluangkan waktunya hanya untuk menamani seorang gadis membeli buku di sebuah mall? wah patut di petanyakan bukan? pria perfect yang tak suka membuang-buang waktu dengan entengnya berkata.


"Nggak papa, saya tunggu."


"Nggak!" salak pak Alvi menepis tangannya kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit.


Sesampainya di Mall, dia tidak lansung membeli buku melainkan mengajak pak Alvi makan di sebuah restoran, karena perutnya sudah keroncongan minta di isi.


"Kita makan dulu yuk pak!" ujarnya hanya di balas anggukan.


Tapi tetap saja pak Alvi tetaplah Alvi, diam seribu bahasa adalah keahlian pria itu. Hingga di mana saat dia akan berdiri, tidak sengaja menabrak salah satu pelayan hingga jus yang di bawa pelayan itu membasihi baju seragamnya.


"Ma-af Nona." pelayan itu menunduk takut.

__ADS_1


"Its Okay." jawabnya santai melap baju seragamnya dengan tisu. "Mending mbak bersihin lantainya, keburu ke injak pelangan lain." suruhnya pada pelayan itu kala melihat pecahan beling berserakan di atas lantai.


"Sekali lagi maaf Nona."


"Udah saya nggak papa."


"Lain kali kalau jalan hati-hati!" tegur pak Alvi dengan wajah datarnya.


Pak Alvi melepas jas yang di pakainya, dan menyampirkan di bahunya. "Kemeja kamu tembus pandang." jujur pak Alvi membuat wajahnya terasa panas. Sialan pak Alvi, mulutnya tidak bisa di filter sedikit, ayolah walau tembus pandang nggak usah terus terang bisa kan?


Namun umpatan itu hanya bisa keluar dari dalam hatinya.


Akibat kejadian di restoran dia memutuskan pulang kerumah dan tidak jadi membeli buku. Pak Alvi mengantarnya pulang hingga di depan gerbang, kali ini tak langsung masuk atas perintahnya sendiri.


Sebelum turun dia beralih pada pak Alvi, ada yang ingin dia tanyakan.


"Kenapa pak Alvi mau nikah sama saya? dan apa alasan selain karena Kakek Farhan?"


"Saya ingin menikah dengan kamu, karena kamu terlihat sangat menyayangi kakek."


"Hanya itu?" tanyanya lagi.


"Saya merasa tidak ada salahnya menikah dengan kamu, kamu gadis yang baik."


"Saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup pak, jadi bagi saya pernikahan bukanlah sebuah permainan."


"Kamu kira saya menganggap sebuah pernikahan hanya permainan?"


"Bukan, maksud saya."


"Walau saya belum cinta sama kamu, bukan berarti saya ingin mempermainkan pernikahan. Setelah kita menikah, saya akan belajar mencitai kamu."


"Saya ingin menikah dengan pak Alvi." ujarnya mantap. Jawaban pak Alvi sudah bisa menghilangkan ketakutannya. Bukankah cinta datang karena terbiasa?


"Kamu serius?" tanya Pak Alvi tak percaya. "Kamu bisa menarik kata-katamu jika masih ragu, saya tidak ingin memaksa."


Dia mengeleng. "Saya akan menikah dengan pak Alvi, tapi beri saya waktu untuk memberitahu orang tua saya pak."


"Saya akan menunggu." Ujar pak Alvi merasa lega akhirnya Alana setuju dengan pernikahan ini. Dan dia berjanji akan belajar mencintai gadis manis itu.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2