Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 62


__ADS_3

"Aa bangun," ujar Alana mengecup pipi Alvi.


Mata lelaki itu perlahan-lahan terbuka, sudut bibirnya terangkat melihat pemandangan yang sangat indah di pagi hari, bukannya bagun Alvi malah menarik tangan Alana, membuat gadis itu terjauh ke atas tubuhnya.


"Pagi." Alvi mengecup bibir tipis gadisnya.


"Too, Aa sayang." Tak ingin kalah, Alana menciumi seluruh wajah Alvi. Bergerak di atas tubuh lelaki itu, mencari posisi yang nyaman, tanpa tahu kelakuannya membuat sesuatu yang sangat sensitif bangun.


"Ugh." Alvi menahan nafas kala lutut mulus gadisnya tidak sengaja menyengol tongkat bisbolnya.


"Aa kenapa?" bingun Alana.


"Adik Aa bangun, kamu harus tanggung jawab."


"Aa punya adik?" tanya Alana. "Kok nggak pernah cerita, sekarang dia dimana? cewek apa cowok? Aa lebih sayang dia apa aku?" cemberut Alana.


Alvi tertawa melihat wajah cemberut gadisnya, ia membalik posisi, membawa Alana dalam kungkungannya, mengusel-usel hidung mancung gadisnya.


"Nyapain ketawa? aku nggak mau ya kalau sampai Aa lebih sayang sama dia, apa lagi kalau dia perempuan," kesal Alana memukul-mukul dada bidang Alvi. Rasanya ia tidak terima jika ada seseorang selain dirinya mendapat kasih sayang dari Alvi.


"Katanya anak tunggal," lirih Alana mengalihkan perhatiannya ke jendela tak ingin melihat wajah menyebalkan Alvi yang kini mengulum senyum.


Melihat wajah kesal Alana yang terlihat sangat mengemaskan, membuat Alvi semakin gencar menggoda sang istri.


"Istri Aa cemburuan ternyata." Goda Alvi hendak mencium benda kenyal itu namun lagi-lagi Alana menghindar sakin kesalnya. Mood gadis itu memburuk seketika di pagi hari.


"Istri Ii cimbiriin tirnyiti," cibir Alana. "Minggir aku mau lari pagi." Mendorong tubuh kekar Alvi, namun lelaki itu bergeming, terus menatap wajah kesal Alana.


"Kenalan dulu sama adik Aa, sekalian bantu tidurin." Alvi meraih tangan mungil gadisnya mengarahkan tangan lentik itu menuju tongkat bisbolnya.


"Aa!" pekik Alana ketika tangannya menyentuh benda keras yang selalu membuatnya merem melek.


"Tidurin dulu adik Aa," rengek Alvi.


Mata gadis itu membulat sempurna jadi ia cemburu tanpa alasan tadi? wajanya kini memerah, menahan malu, apa lagi Alvi terus menatapnya.


Alana memukul-mukul dada bidang Alvi, namun lelaki itu malah tergelak.


"Aa ngerjain aku, iya? kuker banget ih."


"Aa suka kamu cemburuan Al," jujur Alvi ketika Alana tak lagi menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi, akan tetapi gadis itu menyembunyikan wajahnya di ketiak Alvi sakin malunya.


"Jangan di bahas lagi, aku malu."


"Ngapain malu Hm?" mengigit telinga Alana. "Aa itu milik kamu, jadi jangan biarkan orang lain mengambilnya."


"Tentu saja Aa milik Aku." Memeluk erat tubuh kekar Alvi.


Drama yang Alvi kira berakhir, ternyata masih berlanjut saat mereka akan lari pagi, terbukti sedari tadi gadisnya melayangkan tatapan tajam padanya, padahal ia tidak melakukan kesalahan.


"Ayo." Alvi menarik tangan Alana, namun gadis itu bergemin di sofa.


"Aa mau olahraga apa mau pamer dada hah!" kesal Alana ketika melihat pakaian yang di kenakan Alvi, hanya baju kaos polos, berkeringat sedikit saja dada bidang lelaki itu akan tercetak jelas. "Cukup ayam aja yang pamer dada, Aa nggak usah, aku nggak suka," gerutunya.

__ADS_1


Alvi mengusap wajahnya kasar, memperhatikan gadisnya berjalan ke arah lemari, mengambil hoodie abu-abu lalu menyerahkan padanya. "Pakai! atau nggak usah ikut lari pagi," ancam Alana.


Alvi meraih hoodie tersebut, gantian kini ia yang menatap tajam istrinya. "Lalu kamu apa hm?" Memindai pakaian Alana. "Cukup ayam saja yang pamer paha, kamu jangan." Lelaki itu mengembalikan kata-kata Alana ketika melihat gadisnya hanya memakai celana sebatas paha.


"Dah lah, udah nggak mood lari pagi." Alana melepas sepatu jogingnya.


"Kamu hanya ingin berkeringat kan?" Alvi ikut duduk di samping Alana.


Hening, gadis itu tak menjawab pertanyaan Alvi, dan malah sibuk dengan ponselnya.


"Aa bisa buat kamu berkeringat di atas sana." Menunjuk tempat tidur yang belum sempat gadis itu rapikan.


Alana hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan ponselnya, rasanya ia selalu emosi jika berbicara dengan Alvi, tapi juga tidak ingin berjauhan. Ia bangkit dari duduknya, keliling kamar, memerhatikan kertas karton di dinding kamar mereka, kamar yang tadinya di penuhi warna kuning, kini berubah menjadi kamar penuh warna.


Setiap kertas karton, mempunyai materi yang berbeda-beda, belum lagi rumus kimia, fisika, dan matematika. Jadwal belajarnya, jadwal makan, jadwal minum obat, hingga jadwal semester dan hari penting di sekolah menjelang kelulusan, telah Alvi susun sedetail mungkin.


"Makan dulu, waktunya sarapan." Alvi menunjuk kertas jadwal makan dan minum obat gadisnya, ia baru tempel setelah mengetahui istrinya tengah hamil.


"Aa nggak kerja?" tanya Alana tanpa melirik Alvi.


"Nggak, Aa mau nemenin kamu di rumah," jawab Alvi memeluk tubuh ramping Alana, meletakkan dagunya di pundak gadis itu.


"Aa."


"Hm."


"Kok aku belum hamil juga ya?"


Alana menganguk, membuat Alvi mengembangkan senyumnya, akankah ini waktu yang tepat memberitahu gadisnya, bahwa di dalam rahim Alana ada malaikat kecil mereka.


"Pasti lucu deh, kalau kita punya anak kembar." Alana membalik tubuhnya, mengalungkan tangannya di leher lelaki itu.


"Bukannya kamu nggak mau hamil sampai lulus nanti?" Menyentuhkan keningnya pada kening Alana.


"Nunda kuliah setahun kan nggak papa Aa. Tapi janji tetap aku yang nomor satu."


"Tentu saja kamu tetap nomor satu buat Aa."


"Aa nomor 2 buat Aku." Selalu saja Alana akan merusak suasana romantis yang susah payah Alvi bangun.


"Siapa yang pertama," selidik Alvi.


Alana mengulum senyum, bidikanya tepat sasaran, ini waktu yang tepat membalas kekesalannya subuh tadi.


"Yang pasti bukan Aa." Melapas pelukannya, lalu berjalan keluar kamar, saatnya sarapan lalu minum obat sesuai perintah Alvi.


"Alana jawab Aa!"


"Alana!" teriak Alvi.


"Apa sayang?" Alana berbalik, terus jalan mundur, karena Alvi terus berjalan kearahya.


"Cie cemburu."

__ADS_1


"Siapa?"


"Ayah Kevin tetap yang pertama buat aku." Tawa Alana pecah. "Cie ada yang cemburu tapi gengsi," ledeknya.


"Kamu ngerjain Aa, Hm." Menangkap tubuh mungil yang hendak melarikan diri darinya.


"Kita impas," sorak Alana, melepaskan diri, lalu berlari menuruni satu persatu anak tangga, kebiasaan yang tidak pernah hilang, walau mulut Alvi sudah berbusa menasihati.


"Jangan lari sayang."


"Ayo tangkap aku Aa."


"ALANA!!!!!!!"


"Neng Alana!!!!"


Tak


Tak


Tak


Brugh


Krak


Terlambat, gadis berambut indah tersebut hilang keseimbangan, walau Alvi berusaha meraih tubuh mungil itu.


Tubuh lelaki itu membeku, syok, kaget, melihat gadis yang selalu ia jaga jatuh dari tangga dengan mata kepalanya sendiri. Tanpa ia sadari air mata keluar begitu saja di pelupuk matanya.


"Tuan!" teriak Bi Neneng, ketika melihat Alvi diam saja, sementara Alana hampir tak sadarkan diri. "Neng Alana hamil?" panik bi Neneng ketika melihat darah mengalir dari pangkal paha majikannya.


Tersadar akan apa yang terjadi, Alvi berlari, menghampiri Alana, memangku gadis nya.


"Aa Sa...sakit," rintih Alana.


Air mata Alvi semakin deras, mendengar rintihan gadisnya belum lagi darah yang keluar dari pangkal paha Alana. "Jangan tutup mata Aa mohon."


"A-a A-ku ha..mil?" tanya Alana, samar² ia masih dengar pertanyaan bi Neneng.


Alvi bergeming, terus memeluk tubuh mungil gadisya, linglung, tidak tahu harus melakukan apa melihat orang yang ia cintai sekarat.


"Jangan nangis," lirih Alana susah payah, walau seluruh tubuhnya terasa sakit, sekuat tenaga ia mempertahankan kesadarannya.


Dengan tangan bergetar, Alana mengusap pipi Alvi. "Sakit banget Aa." jujur Alana. "Aku tidur ya." izinnya sebelum menutup mata.


"Nggak, kamu nggak boleh tidur!"


Serak Alvi, namun Alana tetap memejamkan matanya.


"ALANA, AA NGGAK NGIZINI KAMU TIDUR!"


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2