
Langkah Alvi semakin dekat, membuat gadis berambut indah tersebut menelan salivanya dengan susah.
"Aa...ngapain kesini?" gugup Alana.
"Jemput istri gue!" jawab Alvi datar menatap sinis Dirga, kemudian melingkarkan tangannya di punggung Alana, melepas jas hitam itu dengan kasar lalu melemparnya pada Dirga.
"Istri gue nggak butuh jas lo!" ujar Alvi penuh tekanan, memakaikan jaket yang sengaja ia bawa untuk gadisnya.
Diam, itulah yang di lakukan Alana, ia tidak berani mengeluarkan suara, sejak Alvi datang aura mencekam tiba-tiba terasa, sedari tadi lelaki itu tidak menyapa atau menegurnya.
Kedua lelaki itu saling melempar tatapan penuh permusuhan.
Alana menarik lengan Alvi. "Aa ayo pulang aku kedinginan." lirihnya.
Alvi bergeming, tidak menanggapi perkataan gadisnya, walau lengan kekarnya masih setia melingkar di pinggang Alana. Lelaki itu menarik jas Dirga ketika melihat sesuatu menempel di sana.
"Aa!" tegur Alana, takut Alvi hilang kendali dan malah memukul guru PPKN nya.
Detik berikutnya, gadis itu mengulum senyum di balik punggung kekar suaminya, ia kira Alvi akan memukul Dirga, ternyata lelaki itu mengambil sehelai rambut di jas Dirga.
"Rambut istri gue nempel di jaz lo." Alvi memperlihatkan sehelai rambut di hadapan Dirga, lalu menarik tangan mungil gadisnya manjauhi lelaki menyebalkan itu.
Sepanjang jalan menuju rumah, bibir tebal itu tak sekalipun mengeluarkan suara, membuat Alana meremas jari-jari tangannya. Ia sadar dirinya salah, tidak pulang tepat waktu dan lupa mengabari suaminya. Tapi apa harus di cuekin seperti ini?
"Aa aku lapar." Alana membuka suara, namun lelaki itu hanya melirik sekilas.
"Mau makan apa?"
"Terserah Aa."
"Nggak ada makanan terserah, kalau ngomong yang jelas."
Nyes, kenapa perkataan Alvi begitu ketus menurutnya? tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap searogan ini padanya.
Ia mengalihkan perhatiannya, menatap nanar jalan yang ia lewati, kenapa ia begitu sensitif akhir-akhir ini, bahkan sekarang bulir-bulir bening di pelupuk matanya hampir keluar hanya karena perkataan Alvi barusan.
"Katanya mau makan."
"Nggak jadi, udah nggak lapar." jawab Alana dengan suara bergetar.
"Kenapa?"
"Nggak papa," ketus Alana. "Ngapain nanya? mau aku kelaparan, mau aku sakit perut juga bukan urusan kamu."
Hening tidak ada lagi yang membuka suara, hanya suara isakan dari gadis berambut indah tersebut namun Alvi masih bergeming, fokus menyetir.
Amarah menguasai Alvi saat ini, lelaki itu mencoba meredamnya secepat mungkin agar tidak meledak di depan Alana. Salah satu cara ampuh yang selalu ia gunakan adalah menghindari orang yang membuatnya marah, akan tetapi sekarang ia satu mobil dengan orang tersebut.
"Aa marah? kenapa sih kalau marah selalu diam? kalau aa marah bilang biar aku tahu, aku nggak suka di cuekin seperti ini."
__ADS_1
"Aa!" pekik Alana sedari tadi ia mengoceh tak sekalipun Alvi menimpali perkataanya.
"Diam Alana!" bentak Alvi menepikan mobilnya, turun dari mobil, menyetop taksi yang kebetulan di lewatinya tadi. Ia harus memisahkan diri jika tidak ingin membuat Alana menangis.
Namun terlambat, Alana sudah berderai air mata, karena bentakan Alvi barusan, ia bergemin saat Alvi membuka pintu mobil untuknya.
"Turun!" Titah Alvi.
"Tanpa di suruh aku juga bakal turun," lirih Alana mengusap sudut matanya, meraih tas punggungnya lalu turun dari mobil sport biru lelaki yang baru saja membentaknya.
Bugh
Bugh
Bugh
Alvi tak henti-hentinya memukul setir mobilnya, melampiaskan emosi dan amarah dalam dirinya.
"Bodoh, bodoh." makinya pada diri sendiri.
Inilah kekurangannya, selalu tidak bisa mengontrol emosi jika tidak segera menghindari orang yang membuatnya marah. Kebiasaan yang entah kapan akan menghilang pada dirinya.
Lelaki itu memang memisahkan diri, akan tetapi terus mengikuti taksi yang membawa istrinya. Alvi memastikan bawah Alana pulang kerumah dengan selamat.
***
Ia membuka pintu sepelan mungkin agar istrinya tidak terbangun, membersihkan diri adalah tujuan utamanya saat ini.
Lelaki itu membaringkan diri di samping istrinya, mengecup kening gadisnya sebelum tidur.
"Maafin Aa Al, karena ngebentak kamu tadi, Aa nggak suka kamu dekat dengan lelaki lain, tapi Aa juga nggak mau ngekang kamu." bisik Alvi di telinga Alana, ia melingkarkan lengannya di pinggang Alana.
Alvi tidak ingin mengekang Alana karena ia tahu jiwa muda selalu ingin menjelajah banyak hal, dan ia tidak ingin merebut masa muda istrinya begitu saja. Mengekang, melarang ini itu, akan membuat seseorang merasa berada dalam penjara, ia pernah merasakannya dan ia tidak ingin kejadian yang sama terulang pada gadisnya.
Tanpa Alvi sadari gadis dalam dekapannya sama sekali belum terlelap. Gadis itu berbalik memeluk tubuh kekar Alvi.
"Aa kemana aja, aku khawatir." lirih Alana, sedari tadi ia tidak tenang memikirkan Alvi, ia takut lelaki itu akan berbuat aneh-aneh di luar sana.
"Maaf udah buat Aa marah." sesal Alana manyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alvi.
Alvi senyum tipis mengelus punggung mulus yang bergetar itu. "Udah makan? sudah minum susu juga?"
"Belum, aku nungguin Aa."
Alvi melerai pelukannya, menatap mata sembab gadisnya. "Ya ampun Al, kamu belum makan dari siang?"
Alana mengangguk.
Lelaki itu menghela nafas panjang, ini salahnya Alana sudah mengatakan lapar tadi, tapi ia malah membentak gadis itu. Ia mengelus perut rata istrinya, bahkan ia lupa sekarang ada kehidupan lain di dalam sana yang harus selalu ia jaga, karena pemilik rahim belum menyadari kehadiran sosok malaikat di dalam sana.
__ADS_1
"Geli Aa."
Cup
Cup
Cup
Kecupan betubi-tubi mendarat di di wajah Alana, terutama di mata sembab itu, Alvi berkali-kali mengecupnya. Lelaki itu bangun dari tidurnya, ia harus menyiapkan makanan untuk istri dan calon anaknya.
Tangan mungil melingkar di pinggang kekar Alvi, membuat lelaki itu tersenyum. Sebelah tangannya menuangkan tomat dan beberapa bahan-bahan lainnya ke dalam panci, sebelah lagi mengelus tangan mungil di pinggangnya.
"Duduk Aja," perintah Alvi.
"Nggak mau, pengen liat Aa masak," manja Alana.
Senyum Alana melebar melihat kreasi Alvi, sesuai ekspektasi dan keinginannya. Ia menyantap dengan lahap mie instan buatan suaminya.
"Pelan²." Mengusap bibir Alana.
"Ewnawk bwangwet," ujar Alana dengan mulut di penuhi makanan.
"Di telan dulu sayang."
"Sayang Aa bikin aku katagihan," cengir Alana.
Senyum Alvi semakin lebar hingga deretan gigi rapinya terlihat, ia mengusel-usel pipi cubi istrinya sakin gemesnya.
"Jangan buat Aa marah lagi, hm."
Alana menganguk. "Janji." Gadis itu mengacungkan jari kelingking menunggu Alvi menyambutnya.
"Aa kenapa kalau marah suka diam? aku kan nggak tau Aa marah atau nggak."
Baiklah sepertinya ia akan memberikan penjelasan pada gadisnya.
"Kalau Aa banyak diam itu artinya Aa marah, jangan di ajak bicara terus, cukup beri Aa ruang untuk sendiri."
"Kok gitu?"
"Itu cara Aa meredam amarah sayang." Alvi menyentuhkan cuping hidungnya pada hidung gadisnya.
"Kenapa nggak di lampiasin aja sama orang yang buat Aa marah?"
"Marah dalam keadaan emosi tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada pertengkaran berujung saling membentak, baik-baik kalau nggak mukul. Dan Aa nggak mau itu terjadi sama kamu."
"Sayang Aa banyak-banyak."
...TBC...
__ADS_1