Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 130


__ADS_3

Tak ingin menunggu Alvi yang masih terlelap memeluknya, Alana bergeser sedikit demi sedikit, lebih dulu melaksanakan shalat subuh dan keluar dari kamar. Alana sengaja bangun lebih cepat untuk menyiapkan sarapan dan mengurus kakek Farhan yang makin hari makin lemah.


Senyumnya mengembang saat membuka pintu dan mendapati kakek Farhan duduk di pinggir ranjang. Alana mendekat ikut duduk di samping pria tua itu.


"Bagaimana Nando?"


"Jangan khawatirin Aa dia nggak papa Kek." Mengelus punggung tangan keriput itu dengan ibu jarinya. "Maafin Ayah juga karena nggak sopan sama kakek semalam."


Alana mengajak kakek Farhan jalan-jalan keliling komplek dengan kursi roda, balik menyapa jika ada orang yang menyapa mereka. Sarapan bersama juga bersenda gurau. Kakek Farhan dan Alana satu server dalam keadaan apapun, selalu nyambung jika membicarakan apa saja.


Alana menemani Kakek Farhan berjemur di taman belakang rumah mereka.


"Neng ada telfon dari nonya Anin." panggil asisten rumah tangga Alana.


Alana mengernyit, tumben bundanya menelfon melalui telfon rumah.


"Bi, jangain Kakek bentar ya."


Alana mengambil alih gagang telfon itu, dan mengucapkan salam pada ibunda tercinta. Alana mendengarkan dengan seksama apa yang di bicarakan bunda Anin. Menolak ajakan bunda nya untuk makan siang bersama demi kenyamanan masing-masing.


"Ayah nggak bakal suka kalau aku ngajak Aa." Tolak Alana halus.


"...."


"Nggak usah deh bunda."


"..."


"Ayah," lirih Alana ketika Ayah Kevin mengambil alih. Senyumnya mengembang ketika ayahnya sendiri yang meminta Alvi datang kerumah orang tuanya. Semoga ini awal yang baik untuk hubungan mereka.

__ADS_1


Ia berlari masuk kedalam lift menuju kamarnya untuk menemui suami tercinta. Melihat Alvi berbaring dengan peci dan sarung seperti habis sholat. Alana menumbruk tubuh Alvi, tengkurap di atas lelaki itu dam mencium seluruh wajah nya.


"Hey ada apa?" heran Alvi meletakkan ponselnya lalu melingkarkan lengan kekar itu di pinggang ramping Alana.


"Ayah barusan nelfon dan ngajak kita makan siang," jawab Alana bertopang dagu di dada Alvi.


"Dari mana Hm? pagi pagi udah ngilang." Menggeser tubuhnya sedikit miring agar bisa memeluk sang gadis.


"Habis ngajak kakek jalan-jalan pagi," jawab Alana. "Aa maukan ke rumah ayah?"


"Apapun buat kamu."


***


Sebelum ke rumah ayah Alana, Alvi terlebih dahulu mengantar kakek Farhan kerumah utama walau di antara keduanya tak ada yang membuka suara, hanya Alana yang menjadi penyambung antara keduanya. Mulut Alana sudah berbusa membujuk Kakak Farhan agar ikut dengannya, tapi pria itu sangat keras kepala ingin pulang dengan alasan merindukan kucingnya.


"Salam sama Lili Kek," melambaikan tangannya saat mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah utama.


"Bahagia banget istri Aa,"


"Banget sayang." mengecup bibir tebal Alvi, setelahnya ia tekik geli sendiri.


"Jangan nakal sayang."


"Tapi Aa suka kan?" goda Alana.


Alana mengernyit saat Alvi menghentikan mobilnya, melepas seat belt lelaki itu. "Mau ngapain?"


"Mau beli sesuatu untuk ayah, bunda. Masa iya berkunjung nggak bawa buah tangan."

__ADS_1


"Duh mantu idaman banget suami aku."


Sedikit ragu Alana melangkah memasuki rumah bernuansa putih gold itu. Di sana, di ruang tamu hanya ada Ayah Kevin seorang diri.


Siapa sangka respon ayah Kevin di luar dugaan, terlebih pada suaminya.


"Duduk Nak." perintahnya pada Alvi.


"Mentang-mentang udah punya suami, Ayah di lupan gitu aja," sindir Ayah Kevin memeluk sang putri.


"Siapa yang berubah?" cemberut Alana. "Ayah yang berubah sama Alana."


"Ekhem," dehem bunda Anin. "Sekarang udah akur nih tikus sama kucing bunda." ikut bergabung.


Pembicaraan layaknya keluarga harmosnis tercipta di antara mereka, Bunda Anin berhasil meyakinkan ayah Kevin tentang sosok Alvi semalam, dan mencoba menerima menantunya itu.


"Bagaimana program hamil kalian dengan dokter Dion?" tanya Ayah Kevin.


"Alhamdulilah berjalan lancar Yah, dan ada sedikit perkembangan." jawab Alvi.


"Jadi nggak sabar punya cucu."


"Tenang ayah, Alana akan berusaha setiap malam," ujar Alana penuh semangat, ia juga tidak bersedih lagi jika mendengar kata Anak. Ia selalu memegang teguh perkataan Alvi, dan percaya pada Allah.


"Agresif banget putri ayah, turunan siapa, hm?"


"Turunan Ayah, iya nggak A?"


Alvi mengaruk tengkuknya, merasa malu akan pengakuan gadis itu. Tak menyangka Alana sefrontal itu di depan orang tuanya.

__ADS_1


...TBC...


Jangan lupa, like, dan komen ya! dukungan kalian semangat dedek.


__ADS_2