
Teriakan Alana dari dalam kamar membuat Alvi mengulum senyum. Mati lampu di malam hari membawa keberuntungan untuknya. Tanpa menunggu lama Alvi masuk ke kamar lalu memeluk tubuh sang istri yang meringkuk di atas tempat tidur.
"Aa kemana aja?" lirih Alana tak ingin membuka matanya, takut melihat hal-hal yang tidak ia inginkan.
"Kan tadi Aa dilarang masuk."
"Jangan pergi aku takut." Mengeratkan pelukannya pada Alvi, keringat dingin mulai memenuhi pelipisnya, bayangan saat ia disiksa oleh mama Alvi kembali berputar di kepalanya bagai film.
Alvi menyalakan senter hp, lalu meletakkanya di atas nakas, meraih kipas tangan di dalam laci dengan susah payah, untuk mengipas sang istri yang mulai kepanasan.
"Buka mata kamu!" perintah Alvi. "Boneka Led yang kamu beli di mana?"
"Di lemari." Masih enggang membuka mata.
"Aa ambil dulu." Alvi melepas pelukannya, tetapi pelukan Alana semakin erat.
Alhasil, Alvi mengendong Alana ala anak koala ke arah lemari, mengambil boneka led sang gadis. Di sana lumayan banyak boneka dengan berbagai warna. Alvi mengambil semuanya tanpa persetujuan Alana, menyalakan satu persatu dan meletakkan di tempat yang berbeda-beda, alhasil kamar mereka terlihat sangat indah.
"Sayang buka mata kamu!"
Pelahan-lahan Alana membuka matanya, terpanah akan keindahan suasana kamar mereka yang begitu cantik, tidak sia-sia ia membeli banyak boneka Led.
"Aa ke kamar mandi dulu." menurunkan Alana di gendongannya.
__ADS_1
Melihat Alana bersandar di kepala dipang, Alvi berfikir mungkin ini saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Alana, agar tidak ada kesalahpahaman di lain waktu. Laki-laki itu duduk tepat di samping sang istri, meraih tangan Alana lalu mengelusnya selembuat mungkin.
"Aa mau jelasin semuanya, siapa Tania dan kenapa Aa bisa kenal sama dia," ujar Alvi.
"Nggak ada yang perlu di jelasin Aa, aku udah tau semuanya dari mis Tania. Bukan Aa yang suka sama Mis Tania, tapi mis Tania yang terus-terusan mengejar Aa." Alana menjeda. "Aa tau? dia bilang bakal ngerebut Aa bagaimanapun caranya, makanya aku takut."
Alvi bernafas lega, untung saja Alana tidak salah paham padanya, ia mengacak-acak rambut Alana membuat gadis itu cemberut. "Terus kenapa kamu marah sama Aa?"
"Karena Aa bohong sama aku."
Alis Alvi saling bertaut, kebohongan apa lagi yang ia lakukan?
"Pas Aa unboxing aku-"
Pletak
"Tapi pas malam pertama Aa emang unboxing aku kok. Mulai dari bawah sampai atas di absen semua." polos Alana.
Blush
Telinga Alvi memerah mengingat hal memalukan itu, kenapa gadisnya harus membahas malam-malam seperti ini? Apa lagi keganasannya sampai membuat Alana susah berjalan. Untung cahaya temarang, jadi Alana tak melihat telinganya yang memerah seperti kepiting rebus.
"Aa bilang aku ciuman pertama Aa, tapi mis Tania bilang, dia nyium Aa sebelum balik ke sini." Alana menjeda. "Kenapa nggak cerita dan bohongin aku?" cemberut Alana menatap mata elang suaminya.
__ADS_1
"Kamu cinta dan ciuman pertama Aa sayang. Tania nyium Aa di sini." Menujuk pipi kirinya. "Bukan Aa yang nyium. Tentang Aa nggak cerita ke kamu, karena itu hal yang nggak penting buat Aa."
"Benaran?" Alana mengerjap-erjapkan matanya.
"Iya sayang, apa perlu Aa mandi bunga kembang tujuh rupa biar kuman-kuman Tania hilang?"
"Harus!"
Alvi mengigit gemas pipi Alana, menyuruh gadis itu memesan bunga tujuh rupa untuk mereka mandi besok. Alvi tak henti-hentinya tersenyum.
"Ngapain senyum-senyum?"
"Nggak sabar mandi bareng istri tercinta besok."
"Mesum."
"Sama istri sendirikan pahala sayang."
"Aku datang bulan kalau Aa lupa."
"Masih ada bagian atas." bisik Alvi sebelum memejamkan mata.
***
__ADS_1
Jangan lupa mampir di novel calon besan aku yuk