
Arga terus memperhatikan Daddynya yang sedang mengeluarkan motor. Tumben sekali laki-laki tua itu naik motor saat jalan-jalan dengan istrinya.
"Jalan-jalan naik motor Dad?" tanya Arga yang kini siap dengan kacamata hitamnya.
"Iya, mantan pacar Daddy lagi kesurupan pengen naik motor," jawab Alvi sembari mendorong motornya keluar dari garasi untuk di panaskan sebelum berangkat.
"Mantan pacar Aa siapa?"
"Kamu," jawab Alvi.
"Kok mantan?" protes Alana tidak terima.
"Kan kamu emang bukan pacar Aa sayang, tapi istri."
Alana sontak tersipu malu, memukul lengan Alvi layaknya anak ABG yang baru saja jatuh cinta. "Aa bisa aja."
"Dah lah, disini yang muda Mommy sama Daddy apa kita-kita?" cibir Agatha yang sudah muak melihat kebucinan orang tuanya. Ia yang notabenenya sedang berada di usia masa puber malah bae aja tentang cinta.
"Umur boleh tua tapi jiwa jangan, iya 'kan A?"
"Iya sayang."
"Daddy nurut mulu perasaan," timpal Alatha.
"Maklum aja, takut tidur sama Lili kalau ngelawan," sindir Arga.
"Kalian!" geram Alvi.
"Santai Dad. Kami berangkat dulu, hati-hati di jalan." Arga langsung mencium tangan Alvi sebelum pria paruh baya itu mengamuk dan menarik kembali kartu kesayangannya.
__ADS_1
Si kembar melakukan hal yang sama sebelum menyusul Arga masuk ke mobil.
"Anak-anak kita udah besar ya, nggak kerasa," ucap Alvi memandangi mobil yang di kendarai Arga.
"Iya A, buat lagi kuy, biar rumah nggak sepi kalau mereka dah nikah." Alana mengerjap-erjapkan matanya.
"Buat mah ayo sayang, tapi cetak nggak usah, nunggu cucu aja."
"Ish nyebelin, mau enaknya doang." Alana mencubit perut Alvi, membuat laki-laki itu tertawa.
Sampai kapanpun, Alvi tidak akan setuju jika Alana hamil lagi. Anak kecil tidak akan hadir lagi di rumahnya jika itu dalam kesengajaan. Tapi jika di luar kendalinya Alana hamil, ia akan menerima lapang dada.
Alvi segera memasang helmnya kemudian memakaikan juga pada sang istri. "Ayo naik!"
Dengan senang hati, Alana naik ke motor. Ia menumpu tangannya di paha tak berniat untuk memeluk sang suami.
"Sayang!"
"Peluk!"
Hening, Alana tidak menjawab apa lagi melakukan perintahnya, membuat Alvi menarik tangan wanita itu agar melingkar di perutnya.
"Kenapa sih?" tanya Alvi.
"Nggak mau meluk duluan, takut di kira agresif," gumam Alana.
Alvi tertawa renyah, sejak kapan istrinya punya malu? Bukannya sejak SMA rasa malu wanita yang berstatus istrinya sudah hilang?
"Bukannya emang agresif ya?" ledek Alvi.
__ADS_1
"Ish, jaga image dikit lah Aa."
"Sayang kita udah nikah puluhan tahun, udah punya anak tiga. Masa malunya baru sekarang? Dulu-dulu kemana aja?"
"Oh jadi aku ...."
"Udah, nggak usah nyari ribut!" potong Alvi melajukan motornya meninggalkan rumah mewah tempatnya bernaung dengan anak-anak tercinta.
Sepanjang jalan, Alana terus memeluk Alvi posesif. Memelototin perempuan mana saja yang menatap suaminya penuh damba. Entah tergiur akan ketampanan Alvi atau motor yang di pakai suaminya.
Alvi menghentikan motornya di indoapril karena matahari sangat terik. Ia membatu Alana membuka helmnya.
"Mau minum apa?"
"Terserah Aa aja deh."
Alvi menghela nafas panjang, jika kata terserah sudah keluar dari mulut seorang wanita, maka bersiap-siaplah selalu salah.
Tak ingin ribut di lingkungan orang lain, Alvi mengandeng tangan sang istri masuk ke indoapril kemudian membawanya ke tempat minuman dingin.
"Pilih sayang!" perintah Alvi.
Alana melepaskan genggaman tangan Alvi, berjalan sedikit ke ujung mengambil berbagai macam es krim lalu tersenyum lebar pada sang suami.
Kapan lagi bisa makan es krim sepuasnya, mumpung Alvi menyuruhnya memilih kenapa tidak.
"Udah, ayo." Antusias Alana.
"Sepertinya aku salah ucap tadi," gumam Alvi. Siap-siap saja dirinya di repotkan malam nanti, entah bersin-bersin atau sekedar menjadi alat pelap ingus bagi sang istri.
__ADS_1
...****************...