
Makan malam usai lebih cepat dari yang di perkirakan, Alvi mengajak Alana pergi dengan alasan masih ada urusan lain. Alvi tak ingin Alana semakin tersudutkan di ruangan itu, ia tahu bagaimana mulut berbisa Tania.
Sepanjang jalan keluar dari restoran, Alvi tak pernah melepaskan genggaman tangannya, membuat Tania yang berada di belakangnya sangat jengkel.
Alvi membukakan pintu mobil untuk sang istri lalu menyuruh Alana masuk, barulah ia ikut masuk, melajukan mobil honda Jazz puhtihnya.
"Lo liatkan bagaimana Alvi mencintai Alana?"
Tania tak menyahut masih fokus menatap kedepan kesal akan sikap Alvi malam ini.
"Dia pasangan yang serasi, jadi ayolah stop merecoki hubungan mereka! Lo nggak bakal bisa masuk kekehidupan Alvi." Mulut lemas Dirga mulai beraksi, terus meledek Tania habis-habisan.
"Mending lo sama gue udah tentu di terima." Dirga mengulum senyum melihat ekspresi Tania yang semakin kesal.
"Ogah," ujar Tania terdegar ketus. "Gue tau lo suka sama Alana." beralih menatap Dirga yang kini berdiri di sampingnya, dengan sebelah tangan tersemat di saku celana. Pria manis yang tak kalah tampan dari Alvi, baik dan juga selalu ada untuknya, tetapi tak ada sedikitpun rasa di hatinya untuk Dirga.
"Mending lo kerjasama, sama gue buat pisahin mereka." Tania membuat penawaran.
"Cinta tak harus memiliki asal lo tau. Jadi stop ngusik mereka, lo udah nggak punya kesempatan lagi."
"Ada," potong Tania. "Bahkan peluang ini sangat besar untuk gue mendapatkan Alvi kembali." Tania menyeringai, memikirkan rencanya saja sudah mampu membuatnya bahagia. Alvi laki-laki penuh tanggung jawab sangat mudah baginya untuk mengikat lelaki itu.
Tak ingin ikut campur dengan Tania, Dirga memutuskan pergi dari restoran itu.
"Naik taksi atau pulang sama gue?"
__ADS_1
"Naik taksi aja deh."
***
Sejak pulang dari makan malam, Alana belum mengeluarkan suara satupun, walau gadis itu tetap mengenggam sebelah tangannya, lalu bersandar pada pundaknya. Alvi yang fokus menyetir sesekali melirik gadisnya, apa sedang tertidur.
"Al."
"Kenapa Aa?" masih menunduk, memainkan jari-jemari Alvi.
"Kamu kenapa? ada yang sakit? perut kamu sakit lagi?"
"Aku sedih," lirih Alana.
"Kok nangis? cengeng banget istri Aa."
"Biarin, orang lagi sedih."
"Cerita sama Aa, kamu sedih kenapa?" Membenamkan kepala Alana di dadanya, mengelus rambut indah itu.
"Beneran Aa nggak suka makanan seafood? nggak bisa makan kalau nggak ada sambel? kenapa nggak ngomong sama aku Aa? Akutuh merasa gagal jadi istri Aa. Aa tau semua yang aku suka dan nggak aku suka, aku alergi apa, penyakit aku apa, tapi aku nggak tau tentang Aa sama sekali. Hampir lapan bulan kita nikah Aa."
Alvi mengulum senyum, tak menyangka gadisnya sedih hanya karena masalah sepele seperti ini. Ia mengecup cuping hidung Alana. Menghapus air mata dengan ibu jarinya, lalu membenamkan bibirnya pada kedua kelopak mata cantik sang istri secara bergantian.
"Aa suka makan seafood karena kamu, Aa juga udah nggak makan sambel karena kesehatan. Harusnya Aa berterima kasih, kalau nggak ada kamu, mungkin Aa nggak bakal ngerasain bagaimana enaknya makanan seafood." Mencoba menghibur Alana.
__ADS_1
"Nggak terpaksa kan?" Menatap Alvi.
"Nggak sayang, jangan sedih lagi, Aa takut sama ayah."
"Kok takut sama ayah?"
"Takutlah, udah buat bidadarinya nangis."
"Jangan nge gombal, percuma Aa, aku nggak bakal baper." Kembali menyembunyikan wajahnya, takut Alvi menyadari perubahan warna di pipinya.
"Sampai rumah, aku mau Aa buat List. Apa yang Aa nggak suka, apa yang Aa sukai, apa yang boleh aku lakukan, dan apa yang nggak boleh aku lakukan."
"Yakin?" Alvi tak yakin dengan kalimat terakhir gadis kecilnya.
Alana menggangguk mengemaska.
"Karung mana karung, gemes banget istri Aa pengen bawa pulang." Mencubit pipi Alana sepuas mungkin sakin gemesnya.
***
Jangan lupa komen, like, dan vote.
Yuk mampir di novel kakak online dedek.
__ADS_1